Larasita termenung selagi antre mengembalikan buku yang dipinjam untuk kelasnya. Kenapa juga dia yang mengembalikan? Karena dia adalah sekretaris kelas. Hasil penunjukan satu pihak oleh para siswa di kelasnya.
Carol juga ikut berdiri di samping Larasita. Cowok itu sedikit geli membayangkan bagaimana tubuh Larasita yang nampak mungil di matanya. Ah jelas saja. Tingginya 180 cm sedangkan Larasita? Di bawah 160 sentimeter.
Dia terus saja memperhatikan gerak gerik gadis itu. Mencari hal spesial apa yang dimiliki oleh Larasita sampai-sampai William mendapatkan masalah besar seorang diri.
“Ehm … bukunya?” Larasita bahkan harus mendongak ketika berbicara dengan Carol.
Cowok yang merupakan sahabat dari mantan pacarnya itu memiliki penampilan yang terbilang rapi. Berbeda jauh dengan penampilan William, meskipun dia akui kalau William mumpuni untuk menjadi model mau seperti apa pun gaya berpakaiannya. Sedangkan Carol? Dengan kacamata ditambah potongan rambut yang tersisir rapi pun semakin menampakkan cowok itu berkelas.
“Ini.” Carol menyerahkan tumpukan buku itu, sedikit membuat Larasita oleng saat menerimanya.
“Gue balik dulu ya, Laras?” Carol berkedip sebelum akhirnya pergi.
Larasita membalasnya dengan tersenyum kecil, merasa kalau tak semua anggota Wolf Cave itu berlagak aneh, selain William tentunya.
“Itu yang kemarin diputusin William.”
Sudah terdengar bisik-bisik para siswi yang mengenali sosok Larasita.
“Iya, pantesan juga sih diputusin, enggak ada apa-apanya juga hihi ….”
Mereka tertawa cekikikan sementara Larasita masih antre mengembalikan bukunya. Dia merasa tak harus kecewa ataupun kesal dengan gosip-gosip itu, selama tak mengganggu kegiatan belajar, dirinya tak masalah mau orang berkata apa.
Namun, berbeda dengan William yang mulai merasa gerah dengan segala berita-berita ala remaja yang membicarakan dirinya.
Termasuk dia yang melihat pergosipan di grup kelas ataupun grup chat lainnya. Dia kesal bukan main.
Semua orang tengah waspada dengan sikap temperamental yang dimiliki William. Cowok itu akan paling tak bisa diam jika sudah ditimpa masalah. Akan bersikap uring-uringan dan akan mencari apa saja untuk dijadikan pelampiasan emosinya.
Contohnya sekarang. Dia yang membaca grup chat terus saja mengumpat dengan bahasa kotor yang memang sepatutnya tak dia ucapkan kala ada pengajar di kelasnya.
“Anjing! Bisa-bisanya sih!” ketusnya masih memaki.
Padahal baru saja guru bahasa indonesia masuk beberapa langkah ke dalam kelas dan telinganya mendengar apa yang menjadi larangan darinya.
“William, selain kamu sering bolos, kamu juga jago dalam berbicara kotor ya?” Guru perempuan dengan rambut yang tergelung rapi bak pramugari itu melihat tajam ke arah sudut, di mana William duduk.
William hanya bisa diam, menarik garis lurus di bibirnya. Matanya melirik tajam pada Yanuar yang malah mengedikkan bahunya, tanda tak mau ikut campur.
Seolah-olah mata William bertanya kenapa cowok itu tak memberitahu kalau gurunya sudah masuk kelas.
“Apa kamu memang tak tahu caranya bersikap sopan dan santun?”
Satu kelas sudah diam, tanpa ada suara. Bahkan napas pun mereka tak berani, merasakan aura musibah yang akan mereka terima setelah ini karena disebabkan oleh satu orang.
William mau tak mau berdiri dan meminta maaf, “Maaf Bu, saya kelepasan.”
Dia bersikap gently saat apa yang diperbuatnya bisa saja diterima oleh seluruh kelas sebagai konsekuensinya.
“Silakan kamu keluar kelas, cari saja guru yang mau mengajar bahasa indonesia untuk kamu. Saya mengecualikan kamu sebagai murid saya.”
Bahkan Yanuar pun sampai terkejut mendengarnya. Belum pernah dia menyaksikan guru yang bertanggung jawab di mata pelajaran Bahasa Indonesia itu sampai melakukan hal tersebut. Semuanya sampai mengunci mulutnya rapat-rapat.
William berdiri, segera pergi. Dia tak mau memperpanjang masalah saat ini. Karena hatinya masih kesal akan semakin kesal kalau sampai bersikukuh ikut kelas.
“Saya permisi Bu.”
Dia melenggang pergi, sementara sang guru hanya bisa menatapnya datar. Merasa kalau William harus diberikan pelajaran olehnya untuk saat ini.
William berjalan menuju kantin. Setidaknya, saat pelajaran dimulai, tak ada yang akan mengawasinya di kantin.
“Mas, rokok* sebungkus,” pintanya pada penjaga salah satu warung yang ada di sana.
Si penjaga warung terkejut mendengarnya, “waduh jangan lah Mas, nanti saya kena tegur lagi.”
William sendiri menatap datar saja. “Enggak akan. Saya berani jamin. Cepetan!” perintah William.
Melihat wajah William yang sudah tak bersahabat, sembari harap-harap cemas, tangan pria itu akhirnya mengambilkan apa yang diminta William.
Seperti deja vu, Larasita yang tengah berjaga karena dirinya anggota PMR pun menuju kantin untuk membeli segelas teh hangat dan bubur. Namun, matanya menangkap sosok William yang tengah menyalakan rokok*.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa aneh dengan sikap William. Kenapa cowok itu selalu mencari masalah dengan sekolah?
Kali ini, dia menghela napasnya sendiri. Melewati William dan mengabaikan kehadiran sang mantan. “Pak Joko, minta teh manis yang panas sama buburnya ya?” Dia segera berbicara pada penjaga warung.
William yang melihat Larasita pun sampai mematung. Merasa malu dengan apa yang terselip di kedua jari tangannya. Sengaja dia menurunkannya agar gadis itu tak melihat rokok* yang tengah dibakar olehnya. Matanya masih memandangi Larasita yang memunggunginya.
Ting!
Suara ponsel miliknya mengalihkan matanya. Segera saja dia membuka pesan masuk yang nampak di notifikasi gadget miliknya.
Rahangnya mengeras, sampai giginya saling beradu saat matanya membaca pesan dengan foto yang ada di sana.
Sebuah foto sepasang remaja yang saling bersampingan dan memunggungi kamera.
[Liat nih, baru putus aja udah nempel-nempel sama Carol kita.]
Seketika kepalanya yang baru saja dingin sudah kembali mendidih karena pesan itu. Tangannya menggenggam erat ponselnya sekuat tenaga meskipun benda itu tak bisa diretakkan sama sekali.
“Iya udah, tunggu dulu ya Neng?”
Larasita mengangguk, dia sengaja duduk jauh dari William. Tak mau dirinya kalau harus berhadapan dengan cowok itu.
William memperhatikannya lamat-lamat sambil terus menghirup asap rokok* dari pembakaran lintingan nikotin itu.
Sengaja dia pindah duduk di hadapan Larasita. Menatap terang-terangan mantan kekasihnya.
Larasita yang memperhatikan warung mau tak mau merasa terganggu dengan asap yang juga ikut terhirup ke hidungnya. Dia merasa sesak, sengaja mengipasi wajahnya kuat-kuat agar ada angin yang bisa menggeser kehadiran asap itu.
Menunggu lima menit sungguh menyiksa. Akhirnya dia menatap William. “Bisa kamu matikan rokoknya? Saya terganggu,” ucapnya dengan berani.
William menyeringai, “udah ada cowok lain jadi lo enggak mau ngomong sama gue heh?”
Larasita tak paham apa yang dimaksud oleh William. Dia hanya merasa terganggu karena cowok itu merokok di depannya.
“Saya tidak nyaman dengan asap rokok* itu.”
William semakin senang saat Larasita meladeninya. “Oiya? Yang lo senang kan karena ada cowok yang ngajak lo ngobrol di perpustakaan?” desisnya.
Larasita menarik napasnya, dia akhirnya berdiri untuk pindah tempat duduk.
“Pindah tempat duduk, Mantan?”
Larasita yang baru melangkah pun berbalik. Dia menatap terang-terangan William tanpa emosi apa pun juga. Yang ada adalah wajah datar tanpa ekspresi. “Saya bingung kamu sedang berbicara apa? Apa kamu kehilangan kemampuan bahasa sampai tak paham kalau saya sudah menjelaskan kondisinya?”
William mengeratkan genggaman ponselnya. Dia benar-benar sedang merasa dijatuhkan.
“Dan lagi, saya tidak mau menderita risiko penderita perokok pasif hanya karena ketidakmampuan kamu mencerna ucapan saya.”
Kalimat menusuk yang mampu membuat emosi William meledak saat itu juga.
Dia berdiri.
BRAK!
Tangannya menggebrak meja sekuat tenaga, kehilangan akal dan kontrol emosi yang sedari tadi dia pegang. Ucapan Larasita tengah menghina dirinya.
Gadis itu menoleh, dia sebenarnya terkejut namun dia adalah cewek paling ahli dalam menyembunyikan shock. Melihat datar ke arah William yang terengah-engah.
Matanya memandangi lengan seragam William yang berwarna putih namun sudah dipenuhi warna merah pekat. Luka William kembali terbuka.
Meringis sendiri menyaksikannya. Namun, kembali pada fakta bahwa dirinya adalah orang yang paling bisa menyembunyikan emosi dan ekspresi.
“Siapa lo berani ceramah di depan gue?” sentak William.
Larasita sedikit melihat ke arah warung. Setidaknya, dapur warung jaraknya lebih jauh dan semoga penjaga warung tak mendengar meja yang digebrak itu.
“Saya tidak ceramah. Untuk apa? Kamu sudah tergolong dewasa untuk melakukan hal yang benar.”
“Bacot lo. Gue jadi ragu kalau lo adalah penerima beasiswa di sekolah ini kalau lo juga keluyuran di jam pelajaran.”
William memandang remeh gadis itu.
“Kamu lupa soal anggota PMR yang bertugas setiap bulannya secara bergilir?”
William bungkam. Matanya bisa melihat di lengan kanan gadis itu tertempel lencana PMR alias Palang Merah Remaja. Kenapa dia harus memperlihatkan kebodohannya pada Larasita? Rasanya dia hanya ingin pergi begitu saja. Tapi tak bisa. Hatinya seolah masih betah berlama-lama dengan sang mantan.
“Neng, ini udah jadi.”
Penjaga warung tergopoh-gopoh menghampiri Larasita dan menyerahkan nampan berisi makanan yang diminta oleh Larasita.
Gadis itu menerimanya seraya tersenyum sopan.
Sejenak William mematung, dia kembali melihat senyuman terulas di bibir gadis itu. Dadanya berdebar liar, tapi ada sudut hatinya yang tengah iri. Kenapa Larasita tak pernah tersenyum padanya?
Apakah dia memang tak pantas untuk mendapatkan senyuman gadis itu?
“Catat ya Pak? Terima kasih.”
Larasita berbalik, namun seketika dia berhenti. Dia menoleh pada William. “Apa kamu mau lukanya infeksi?”
William tersadarkan dengan pertanyaan itu. “Ck, apa urusan lo sih.” Dia mengalihkan pandangannya, mulai merasakan tangannya berdenyut nyeri.
Sedikit aneh saat ada gejolak panjang di denyut nadinya hanya karena Larasita menanyakan luka di tangannya.
“Ayo, obati lukamu dulu.”
Ajakan itu terdengar menyenangkan di pendengaran William. Sementara Larasita sudah berjalan duluan. Mau tak mau William seakan terhipnotis dan mengikuti gadis itu.
Sampai akhirnya William melihat Larasita tengah memberikan segelas teh dan juga bubur untuk seseorang yang duduk di atas ranjang.
“Duduk di sana,” perintah Larasita yang setengah berlari mengambil kotak P3K di dalam lemari persediaan.
Dan William pun patuh atas ucapan gadis itu. Menunggu saja selagi duduk sambil matanya melihat sekeliling ruangan. Dia belum pernah duduk di dalam UKS.
Larasita pun duduk di hadapan William. “Lukamu sudah diperiksa ke rumah sakit kan?” tanyanya sambil menyingsingkan lengan baju William.
“Hm.”
Mereka saling diam sementara membiarkan tangan Larasita bekerja mengganti perban luka di tangan William.