Kejadian Apes

1648 Kata
“Lo abis ke mana tadi? Bisa-bisanya lo enteng keluar kelas,” cibir Yanuar saat mereka kembali berkumpul di kamar Hansel. Ya, terkadang mereka akan berkumpul di rumah salah satunya. William mendesah, dia menjatuhkan tubuhnya ringan ke atas pembaringan milik Hansel. Sedangkan pemilik ranjang? Sedang pergi. Carol yang mendengarnya pun ikut merasa ingin tahu. “Keluar kelas? Bukannya udah wajar kalau William keluar dari kelas?” Yanuar sendiri mencebik, “lo nih, iya kalo bolos sering. Tapi dia bikin gara-gara sama guru bahasa, Njir.” “Bahasa apa? Inggris? William paling gampang ngomong inggris, enggak perlu masuk kelas itu mah.” Carol masih saja belum paham maksud dan ucapan Yanuar. William sendiri memilih diam, memejamkan matanya sejenak usai dirinya kebut-kebutan di jalan. “Otak lo. Gue juga tau kalo inggris mah. Ini Bahasa Indonesia, Man!” Mendengar penuturan Yanuar, Carol segera menatap horor William. “Lo? Bisa-bisanya lo--anjir, parah!” Dia memandang penuh tak percaya. Mereka masih saling memandangi sosok William yang tenang itu. “Will, lo tahu kan? Bu Dewi itu emang udah ngincer lo buat didepak? Lo kelas 12 Njir, mau banget lo didepak dari sekolah sih?” Kali ini Carol ikut mengomel. “Biar, suka-suka dia aja.” “Gampang banget lo ngomong gitu, ck! Heran gue.” Antara Yanuar dan Carol sama-sama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja saat melihat bagaimana reaksi William yang terbilang dingin. Mereka tahu bagaimana William, tapi tak pernah tahu kalau seorang William akan masa bodo soal siapa yang bisa menjadi kandidat terdepan untuk mendepak posisinya. “Ya gue harus gimana? Gue enggak akan bodoh buat biarin anak kelas dihukum kali. b**o, bisa-bisa gue yang diprotes ntar.” “Ya bener juga sih.” Yanuar menganggukkan kepalanya diplomatis. “Tapi … lo bisa bujuk guru BK buat minta masuk ke kelas lain pas pelajaran bahasa kan?” usul Carol. Dia paling tak mau melihat seseorang tak berusaha sama sekali. “Ya, ntar gue coba. Lo tenang aja Rol.” Carol mendengus, “tenang aja gimana, kalau lo sampai lupa visi Wolf Cave buat lulus tahun ini.” “Gue enggak lupa itu kok.” Mereka bertiga pada akhirnya malah berbaring di ranjang, berjejer dan diam menikmati sunyi di kamar yang pemiliknya saja tidak ada. *** Seperti biasanya di jam 7 malam, Larasita sudah izin keluar. Dia bekerja paruh waktu. Kali ini hanya membantu warung tenda saja, berkat dia bisa melakukan pendekatan dengan si penjual sampai akhirnya diperbolehkan untuk membantu si penjual. “Makasih ya Bang?” ucapnya sambil menyerahkan uang ongkos kepada sopir angkot yang baru saja berhenti. “Ya Neng.” Larasita menatap mobil angkutan umum yang sudah melaju itu. Lantas dirinya segera bersiap untuk menyebrang. Dapat dilihatnya, tenda sudah berdiri. Senyumnya terkembang. Bulan ini dia akan menghasilkan banyak uang. Harusnya begitu, menurut kalkulasi dalam otaknya. Dua pekerjaan dilakukannya sekaligus. “Mas Tejo,” sapanya. Si pemilik warung tersenyum. “Udah dateng juga. Kebetulan, nih antar makanan di mobil yang di belakang itu ya?” pintanya. Larasita menoleh, dia melihat ada mobil hitam yang memang berhenti lumayan jauh dari warung tenda. Segera saja dia menerimanya dan menuju ke arah mobil untuk mengantarkan pesanan orang itu. Nasib apes mungkin bisa menghampiri siapa saja, tapi Larasita memaki keadaan yang membuatnya terjebak dengan orang yang berbeda namun melakukan hal yang serupa. Saat langkah kakinya membawa tubuhnya semakin mendekat ke arah mobil. Dia bisa melihat jelas dari luar mobil apa yang sedang dilakukan oleh sepasang kekasih di dalam mobilnya. Hidupnya terlalu apes. Sampai-sampai harus melihat hal tak senonoh dengan matanya secara langsung adegan yang tak seharusnya. Dia yang melihat bagaimana sepasang kekasih itu saling b******u* di dalam mobil itu pun hanya bisa menahan napas. Dadanya seakan siap menutup rongga jantungnya rapat-rapat sampai dirasa begitu sesak. Bahkan kakinya kembali kehilangan fungsi otot yang bisa menunjang tulang-tulangnya. Kehilangan energi walau hanya untuk satu langkah. Dia benar-benar dibuat shock. Merasa mual perutnya saat melihat hal itu. “Breath … breath … Laras, breath ….” Dia mencoba menghirup udara dengan semampunya, mencoba tenang sebentar hanya agar bisa mengantarkan makanan itu. Dia benar-benar kehilangan seluruh fungsi organnya. Ingin rasanya dia memaki orang yang ada di dalam. Dengan tangan yang mengenggam kantung kresek sekuat tenaga agar tak jatuh ditambah tangan kirinya pun harus diangkat untuk mengetuk pintu mobil sambil dirinya memalingkan wajahnya. Memejamkan mata dan menahan napas, akhirnya dia mengetuk kaca mobil itu. Tuk! Tuk! Kedua orang yang ada di dalam pun segera menghentikan aktivitasnya. Lantas si pria membuka kaca mobilnya dan Larasita mengulurkan pesanan orang itu. “Ini … pesanannya.” “Oh, iya, berapa ya?” tanyanya. Larasita membuka matanya, mencoba mencerna suara siapa yang dia dengar. Dia sudah tak asing dengan suara itu. Dia akhirnya mau tak mau meluruskan pandangannya. Sukses sudah kelopak matanya terbuka lebar saat melihat wajah orang yang memesan makanan itu. “Lo?” Sama halnya dengan Larasita yang terkejut, dia juga tak kalah terkejutnya. “Eung … ada di notanya, harganya.” Segera saja Larasita menyambar lalu membalikkan tubuhnya. Cowok itu terkekeh geli. “Sorry, enggak ada maksud buat show off ke lo,” sesal cowok itu. “Bisa langsung bayar, Ha--Hansel?” todong Larasita masih berusaha untuk mengalihkan pandangannya. Ya cowok itu Hansel. Larasita sudah mengambil kesimpulan bahwa anggota cowok pentolan sekolah itu terkenal bandel dan sekarang terbukti, merusak moral. Ia sudah puas mencaci maki panjang lebar di dalam hatinya, merutuk nasibnya yang bisa-bisanya menjadi saksi kegiatan amoral itu. Hansel sendiri sedikit terkejut dan juga merasa bersalah. Dia tak tahu kalau pesanannya malah diantar oleh mantan sahabatnya. “Kamu kenal dia?” Suara wanita yang duduk di sebelah Hansel pun ikut penasaran. Hansel bisa melihat sekilas wajah pucat Larasita yang seputih kertas, seolah dirinya baru saja melihat hantu. “Eh? Eung … ya begitulah. Dia mantan pacar sahabatku,” jawab Hansel. Larasita semakin mencaci waktu yang berjalan begitu lambat. Dia hanya ingin segera menerima uang dan pergi menjauh. Dia benar-benar mencoba untuk menahan tangis akibat shock. Bahkan tangannya saling meremas satu sama lain demi menutupi gemetar di tubuhnya. “Sebentar Ras.” Hansel segera mencari uang untuk dibayarkan. Dia masih bertanya-tanya, ada apa dengan gadis itu sampai-sampai tak mau melihat ke arahnya bahkan dia melihat matanya berkaca-kaca. “Ini.” Tangan Hansel terjulur. “Lo sakit?” tanya Hansel. Hansel sedikit khawatir, entah kenapa dia juga merasa ingin tahu apa yang dialami oleh Larasita. Segera saja Larasita mengambilnya. “Kembaliannya--” “Enggak usah, buat lo aja. Gue balik dulu ya?” Hansel tersenyum pamit. Larasita segera berlari menuju warung tenda sebelum Hansel berhasil melajukan mobilnya. Dia tercengang melihat reaksi Larasita. “Dia pucat banget ya, Han?” Hansel setuju dengan ucapan teman kencannya itu. Namun, akhirnya mengedikkan bahunya saja sebelum mengantar sang pacar pulang. Hansel melihat ketiga sahabatnya sudah tidur di kamarnya dengan nyaman. Dia menggeleng-geleng saja, bisa-bisanya sahabatnya itu masuk ke dalam kamarnya seperti rumah mereka sendiri. Plak! Bug! Bug! Dia memukul punggung Carol dan memukul kedua lainnya dengan bantal. “Awhhh! Sakit gila!” jerit Yanuar merasa kesal. Mereka terbangunkan akibat gangguan dari Hansel. “Enak amat ya lo pada? Gue lagi keluar, lo malah pada dateng. Nyokap gue terlalu mengenal kalian malah ngebolehin masuk,” racaunya, mengomel. William juga ikut bangun dan Carol memilih mengganti posisi tidurnya. Mata Yanuar mengenal jinjingan yang dibawa oleh Hansel. “Wuih, baik banget lo bawain ini.” Dia merebut plastik itu. “Dasar, teman laknat,” umpat Hansel yang segera melepas jaketnya dan hanya memakai kaus tipis saja menutupi tubuhnya. “Gue tadi ketemu mantan lo,” ucapnya pada William. William yang baru mengumpulkan nyawanya pun bingung. Mantan? “Mantan yang mana yang lo maksud?” Yanuar yang malah menimpali ucapan Hansel. “Laras.” Mendengar nama itu membuat William tegang, kantuknya yang tadi masih menyambangi matanya malah sudah pergi begitu saja. “Lo beli makanan di kafe?” tanya cowok itu. “Enggak.” “Terus, kenapa bisa ketemu itu cewek?” Bahkan Yanuar pun ikut penasaran. “Gue kan pesen makanan, nunggu. Yang ngantar tau-tau dia. Padahal tadi enggak ada tuh cewek.” William semakin memikirkan Larasita. Dia benar-benar mempertanyakan seberapa sulitnya keuangan cewek itu sampai memiliki banyak pekerjaan begitu? “Tapi … kayaknya dia sakit deh.” William semakin menajamkan telinganya. “Sakit gimana?” “Mukanya pucet banget pas anter makanan. Tapi … gue malu juga sih, gila. Dipergokin sama dia, gue lagi indehoy sama cewek gue,” selorohnya. Pluk! “Bangsatt lo. Bisa-bisanya di mobil begitu, anjir!” seru Yanuar mengumpat seraya melempar bantal yang dipegangnya. Hansel pun menghindar. “Kayak lo enggak aja! Lo juga di basecamp begitu Anjrit!” balas Hansel tak mau kalah. Keributan dan perdebatan itu hanya disaksikan oleh William. Cowok itu masih diam seribu bahasa. Memikirkan kembali Larasita yang saat memergoki Yanuar pun pucat pasi. “Iya sih … gue juga dipergokin sama mantannya William tuh.” “Dia kayaknya lagi sakit banget, sampe mau nangis gitu.” Mendengar penuturan Hansel, William semakin merasa khawatir di dalam dadanya. Dia segera menyambar jaket miliknya dan berlari keluar. “Lo mau ke mana?!” teriak Hansel. Yanuar terkekeh, “paling mau liat si mantan. Dia udah suka tuh, fix.” “Masa sih?” Hansel masih tak percaya. “Lo liat aja, bentar lagi juga dia bucin.” “Sok tahu lo.” Yanuar menatap sahabatnya itu. Dia mencomot satu ayam goreng dan menggigitnya, “gue udah ahli baca perasaan cuy,” katanya bangga sambil mengacungkan paha ayam yang sudah tergigit. Hansel melotot. “s****n*lo! Itu bagian gue Anjir!” Sementara Carol hanya bisa mendengarkan di balik tidur ayamnya. Dia masih enggan untuk membuka matanya sama sekali, menikmati kasur empuk yang jarang dia dapatkan saat di rumah. *** William melajukan motornya kencang, tak peduli dengan jalanan lalu lintas yang padat. Di dalam otaknya berpikir untuk segera menemui Larasita. Dia berhenti di tengah jalan, menelepon Hansel. “Sita di mana sekarang?” tanyanya. Hansel mau tak mau menyebutkan alamatnya, yang segera dituju oleh William.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN