Cowok itu turun dari motornya. Berdiri menyandar pada motor miliknya yang sudah seimbang, dia bersedekap sambil melihat ke arah warung tenda yang ramai.
Banyak hal berkecamuk dalam kepalanya sendiri, bukan soal tentangnya. Melainkan soal gadis yang tengah wara-wiri di luaran tenda, mengambilkan dan menaruh pesanan untuk para pelanggan.
Berapa banyak gadis itu mengambil pekerjaan?
Apa memang dirinya tak pernah tahu bahwa orang lain bisa begitu kesulitan keuangan seperti Larasita?
Atau memang hatinya yang batu sampai tak peka?
Banyak hal yang tak bisa dia jabarkan saat ini. Yang ada, dia hanya membeku dan terus menerus memperhatikan bagaimana Larasita bergerak tanpa istirahat. Hanya sekadar duduk dan mengobrol dengan para pelanggan sambil tersenyum.
Apa yang membuat Larasita enggan tersenyum padanya padahal begitu mudah tersenyum pada orang lain? Bahkan Carol sekali pun.
Tangannya bergerak mengeluarkan ponsel miliknya, membuka kembali galeri. Tanpa dia sadari bahwa dirinya terlalu banyak menyimpan foto gadis itu yang sering dibicarakan oleh orang-orang melalui grup chat atau pun dia yang menguntit.
Dunia seakan menunjukkan sisi lainnya yang belum pernah dia saksikan selama dirinya hidup. Kemewahan berbanding terbalik dengan apa yang sedang ditakdirkan Tuhan untuk Larasita.
Masih menunggu, itu yang dilakukan oleh William seorang diri di seberang jalan. Matanya terus menerus betah mengawasi pergerakan Larasita. Ada ketenangan, ketegangan dan juga kesenangan tersendiri baginya saat menyaksikan kehidupan gadis itu.
Dia menyisir rambutnya kasar, mendesah lalu menegakkan tubuhnya. Menyeringai senang saat melihat warung tenda itu pada akhirnya menyelesaikan penjualannya.
Segera saja dia menyeberangi jalan, menghampiri Larasita yang berada di dalam bilik tenda.
“Udah selesai?” selanya saat melihat Larasita.
Gadis itu tengah duduk memunggunginya.
Larasita menegang saat mendengar suara berat yang khas. Dia menoleh dan menatap horor William. “Kamu kok ada di sini?” beonya, tangannya masih mengelap piring yang basah pun sampai terhenti. Dia terkejut sekaligus tak habis pikir.
William duduk di sampingnya, tak menjawab pertanyaannya.
Si pemilik warung pun tersenyum, tak menyangka akan ada pemuda yang mendatangi Larasita.
“Jemput pacarnya ya?” tanya si pria penjaga warung yang sudah berumur itu.
William mengangguk meskipun tak tersenyum.
“Bukan Mas, dia teman sekelas saya,” sambar Larasita cepat.
William mendengus, hatinya tak senang saat gadis yang duduk di sampingnya itu malah klarifikasi hubungan mereka.
“Oh, dikira pacar, hehe … cakep Neng, kalau mau dipacarin juga,” seloroh si penjaga warung kembali.
Larasita menundukkan pandangannya, tangannya kembali mengelap piring itu. Menyadari kalau dirinya sudah terlalu lama merasakan efek kejut akibat kehadiran cowok itu.
“Saya mau fokus belajar dulu Pak.”
“Wah, iya Neng. Bagus itu, kalau pacar-pacaran mah duh … namanya anak sekarang itu--”
William harus diam saja, harus betah menunggu.
Setan* mana yang merasuki pikirannya sampai tangannya ikut mengambil piring basah yang sudah dicuci dan ikut mengeringkannya. Dia hanya mengikuti bagaimana tangan Larasita bekerja. Mencoba untuk luwes meskipun sedikit kagok dengan pekerjaan yang tak pernah dia sentuh.
Larasita terbeliak melihatnya. Dia menatap ngeri, segera saja tangannya berusaha mengambil alih. “Biar saya saja,” ucapnya.
“Berisik lo. Biar cepat kelar.” William sedikit menjauhkan piring itu agar tak dapat diraih oleh tangan Larasita.
Larasita memalingkan wajahnya. Dia tak berani mengusir karena penjaga warung pun bahkan sudah berceloteh tanpa henti dengan William. Sementara tangan William ikut mengelap piring. Sedikit hatinya terkekeh geli memandangi sang pangeran membantunya.
Tangannya yang kaku bahkan hanya setengah kering itu sedikit lucu untuk disaksikan. Namun, dia menyerah. Tak merebut piring itu dan membiarkan William yang melakukannya dan dia yang akan mengecek kembali kadang basah piring itu sebelum akhirnya dilap kembali olehnya.
Hanya butuh waktu 15 menit untuk mereka menyelesaikan pekerjaan Larasita.
“Mas Tejo, saya pulang dulu ya?” pamit Larasita yang mengambil tas kecil miliknya dan menggantungkannya di bahu.
“Sebentar,” ucap si pemilik warung sambil mewadahi beberapa potong makanan yang memang akan ada sisa sedikit sebelum warungnya tutup. Lantas dia menyerahkannya.
“Ini buat kamu dan William ya?”
“Duh Mas, kok repot-repot sih?” Larasita merasa tak enak sendiri, ingin menolak namun tak sampai hati.
William memperhatikannya di luar tenda. Sedikit kesal saat Larasita tersenyum, masih mempertanyakan kenapa gadis itu tak mau tersenyum padanya.
Larasita berjalan menghampiri William ogah-ogahan. Tapi ya tetap saja dia sudah berdiri di samping William untuk menyeberang. Niatnya memesan ojek online pun batal hanya karena dia sudah tahu kalau William datang, yang terjadi cowok itu akan mengantarnya pulang.
“Ini.” Dia menyerahkan plastik kecil berisikan dua potong paket pecel ayam.
William menerimanya. Dia tak harus menolak pemberian itu.
“Cepet naik, udah malem.”
Larasita mengangguk.
Semuanya menjadi pertanyaan di benak Larasita selama duduk di belakang William.
“Lo enggak dicariin sama kakak lo?” tanya William setengah berteriak.
“Kak Deri sudah tahu kok. Dia punya kontaknya Mas Tejo juga.”
“Ngapain lo panggil orang tua itu Mas?!” Ada rasa tak suka di nada bicara William. Cowok itu sebenarnya ingin menghentikan motornya dan berdebat soal panggilan yang disematkan Larasita pada pria paruh baya dan beristri itu.
“Panggilan sopan.”
“Ck! Sopan-sopan, sopan bagian mananya,” gerutu William.
Larasita memilih diam dan tak meladeni cowok itu. Dia malas meladeni obrolan aneh mereka yang terbilang paling aneh itu.
Larasita hanya bisa diam saja, sementara William bisa melihat jelas melalui kaca spion motornya bagaimana Larasita memejamkan matanya, yang sepertinya memang sedang lelah.
“Lo enggak usah banyak kerja begitulah,” ucapnya.
Larasita mendengus saja. Untuk apa juga William menyarankan hal yang tak membantunya soal keuangan keluarganya. Dia masih butuh uang untuk kelangsungan hidupnya.
Sudah banyak orang berkata seperti yang dilakukan William tadi.
Gadis itu segera turun ketika motor sudah berhenti di depan rumahnya. Sementara William kecewa karena Larasita tak mau berlama-lama dengannya. Memang aneh, tapi perasaannya yang membingungkan itu selalu saja muncul tanpa tahu kondisi dan waktu.
Larasita yang menghadap rumah pun menegang, matanya membulat saat melihat sosok yang berdiri sambil menyorot tajam ke arahnya. Tangannya sudah meremas tali tas miliknya.
Larasita sedikit menunduk saat berjalan menghampiri pria itu.
William yang juga ikut turun pun merasa terkejut melihat sosok itu lagi. Segera saja dia berlari dan berdiri di belakang Larasita.
“Malam-malam, kamu balik sama cowok? Apa kata tetangga, Laras?” desis pria itu.
“Maaf Kak.” Larasita hanya bisa mengatakan itu saja tak ada pembelaan sama sekali.
Deri menatap tajam sosok William, memiliki tatapan permusuhan.
“Bukan dia yang minta, saya yang berinisiatif mengantar pulang,” sambarnya, berusaha membuat pembelaan bagi Larasita.
“Kenapa kamu enggak minta jemput?” tanya Deri masih dengan nada dingin kepada adik perempuannya itu.
Larasita tertunduk. Dia benar-benar tak bisa menjawab apa-apa kalau Deri sudah memperingatkannya.
“Kalau kamu paham ajaran norma di sini, kamu enggak akan biarin adik saya kena gosip tetangga kan? Sudah cukup hidup kamu susah dan kamu enggak perlu buat nambah kesusahan kami,” sindir Deri pada William.
William hanya bisa diam. Dia merasa kalau kakak dari Larasita itu memang tak menyukainya. Dia memilih diam.
“Masuk, Laras,” perintah Deri. “Dan terima kasih sudah mengantar adik saya pulang dengan selamat, kamu tidak perlu melakukan itu lain kali,” tegasnya sambil menatap tajam William.
William hanya bisa diam saja dan Larasita ikut diam. Gadis itu melewati kakaknya untuk masuk ke dalam rumah.
Deri masih menunggu. William tak punya pembelaan apa-apa saat salah satu pihak keluarga Larasita sudah mengusirnya saat ini.
Deri ikut masuk ke dalam. Menutup dan mengunci pintu, meninggalkan William seorang diri.
Larasita menatap tajam kakaknya, merasa kesal dan tak suka.
“Apa Kakak akan begitu dengan temanku? Dia sudah mengantar Laras pulang!” sentak Larasita menahan emosi dari kekesalannya.
“Kamu mau jadi gosip tetangga?” desis Deri.
“Memangnya tetangga bisa kasih makan kita? Enggak Kak!” Nada suara Larasita sudah meninggi.
“Iya, memang enggak bisa. Tapi bisa mempersulit kondisi kita, Ras.”
“Ck! Sejak kapan gosip tetangga mempersulit? Kakak cuma egois. Faktanya, aku enggak bisa minta tolong buat jemput karena memang motor Kakak aja kadang mogok.”
“Kamu bisa nelepon Kakak, seenggaknya Kakak bisa minta teman Kakak jemput.”
“Apa kabar gosip tetangga?! Memangnya enggak beda dengan William antar aku pulang?” Larasita masih tak mau mengalah. Malam ini dia gerah dengan sikap posesif kakaknya yang terbilang kejam.
“Kakak cuma mau kamu aman, Ras!” bentak Deri.
Larasita semakin menatap benci pada sosok kakak laki-lakinya itu.
Wanita paruh baya segera keluar begitu mendengar perdebatan anak-anaknya.
“Apa masalah kalian sampai malam-malam malah seperti kucing ribut?” sela sang ibu menegur kedua anaknya.
Larasita diam, tak mau memperpanjang masalah. Begitupun Deri yang juga ikut mengunci mulut. Mereka sama-sama tak mau menambah beban masalah untuk ibu mereka yang rautnya sudah lelah karena bekerja seharian.
“Laras, ganti baju dan tidur,” perintah sang ibu. Larasita segera masuk ke dalam kamarnya.
“Dan kamu Deri … jangan terlalu keras pada adikmu,” tegurnya pada putra tertuanya itu.
Deri menatap tak senang. Dia diam sambil menatap pintu kamar Larasita yang sudah tertutup. Dia sendiri sebenarnya merasa kasihan.
“Ibu enggak bisa kasih lebih pada kalian, tapi kalian bisa memiliki hal lebih saat mau berusaha.” Ada nada sedih di sana.
“Sudah Bu, enggak usah dipikirkan. Tidur lagi ya? Maaf mengganggu,” sesal Deri yang tak mau mengucapkan tiitk masalah dirinya dengan sang adik.
Malam itu, semua kegundahan dan keresahan soal hidup yang susah memang menyeruak, menampakkan bagaimana takdir yang tengah mereka jalani.
***
William meletakkan helmet di buffet. Dia segera ke dapur, memindahkan makanan yang diberikan oleh si pemilik warung. Dia tersenyum kala mengingat waktu yang dihabiskan olehnya dengan Larasita.
Aruna ternyata menunggunya pun mengintip.
“Kenapa kamu senyum-senyum?” tanyanya curiga.
William menegang, tak tahu kalau Aruna ada di belakangnya.
Aruna melongokkan kepalanya, melihat apa yang dilakukan oleh William. “Sejak kapan kamu suka pecel ayam?” tanyanya kembali.