Tatapan menyelidik Aruna harus berakhir dengan ucapan menghina William. “Anak kecil, ngapain lo bangun?”
Aruna merasa kesal mendengarnya. “Awas kamu ya!” Dia menghentakkan kakinya menuju kembali ke kamar. Dia tahu kalau William kadang-kadang akan mengesalkan dan mengadu pada Matthew.
Matthew akan menegur kalau Aruna kurang tidur. Bagi Matthew, perempuan harus terdidik dan dia memberi kelonggaran untuk William daripada Aruna.
William pun kembali ke kamarnya setelah menghabiskan pecel ayam. Dia enggan untuk berbagi makanan yang satu itu padahal dia anti sekali dengan makanan itu sebelumnya.
Dia pun menikmati peristirahatan malam ini yang terbilang indah baginya.
Bahkan tak biasanya, William sudah duduk dengan seragam rapi di meja makan.
Aruna sampai terkejut melihatnya. “Kek, William kayaknya terinfeksi deh lukanya,” cerocosnya.
William memandangi Aruna tak senang.
“Luka? Luka apa?” Matthew tentu tak paham.
Aruna menggigit bibirnya. “Lu--luka di kakinya satu tahun lalu loh Kek.” Dia meringis sendiri hampir kelepasan soal luka di tangan William.
“Kok begitu?” tanya Matthew.
“Tuh, tiba-tiba aja dia udah duduk buat sarapan. Biasanya mesti ditunggu dulu, pangeran ini,” sindir Aruna lantas segera duduk di samping William.
“Hahaha … ada-ada saja kamu. Itu artinya William sedang rajin.”
Mereka masih bisa bercanda saat sarapan.
“Wah …kesambet kamu,” seloroh Aruna saat akan memasuki mobil dan diantar ke sekolah.
William yang mengenakan helm pun membalas, “berisik lo.”
Aruna masih bertanya-tanya ada apa dengan sepupunya semalam?
Belum sempat Aruna kembali meledek William, cowok itu sudah menggeber motornya dengan sengaja dan melajukan motornya cepat keluar dari area pekarangan rumah Matthew. Dia tak mau mendengar kecurigaan Aruna lagi tentangnya.
Dia sedang memiliki suasana hati yang bagus.
Sebenarnya dia semalam mencari tahu, merasa ingin dekat dengan Larasita sampai-sampai nekad untuk merubah gaya hidupnya agar bisa selaras dengan gadis itu, mantannya.
Dia pun masuk ke dalam kelas sampai membuat para siswa yang sudah rajin datang ke sekolah di awal waktu pun keheranan melihatnya. Ada apa dengan William hari ini?
Semuanya hening saat William mengambil duduk di tengah. Dia paling seenaknya untuk duduk di mana saja, tak akan ada yang melarangnya.
Kakinya pun diselonjorkan di atas meja.
Dia melihat sekelilingnya.
“Lo?” panggilnya pada perempuan yang sedang sibuk mencatat.
Tentu mereka tak tahu siapa yang dipanggil William.
“Woy! Bando ungu!” serunya.
Teman di sisi gadis yang memakai bando ungu pun menyenggol, dia memberitahu lewat matanya soal panggilan William.
“Lo b***k apa gimana sih, bando ungu?!” sentak William.
Gadis itu menoleh, terkejut dan takut melihat William. “Sa--saya?”
“Ada PR enggak?”
Semua diam.
“PR?”
“Iya! PR, lo tau PR kan?”
“A--ada, PR PKN.” Buru-buru gadis itu memberitahukan, takut kalau nantinya William malah mengamuk.
“Ok. Pinjem! Gue mau nyalin PR-nya,” seloroh William sambil bangkit menghampiri gadis itu.
“Eh?”
Gadis itu sibuk mencerna perubahan aneh William dan terburu-buru mengeluarkan bukunya. Mencoba untuk memberikannya pada William. Dia tak bisa menolak kalau William sudah berucap, tak mau jadi korban kekesalan cowok itu nantinya.
William pun sibuk mencatat. Sementara para siswa semakin bertanya-tanya. Ada dengan cowok itu hari ini? Bahkan anak perempuan diam-diam memotretnya yang tengah fokus membaca tulisan di buku yang dipinjamnya.
Sementara mereka dengan cepat menyebarkan gosip di grup geng wanita masing-masing tentu tak terang-terangan memberitahukan di grup besar.
‘Anjrit! William hari ini aneh banget di kelas. Tiba-tiba ngerjain PR?! Apa dunia mau kiamat?!’
‘Gila girls … William mendadak rajin!’
‘Calon gue kesambet jin kamfret mana ya? Rajin ngerjain PR guys!’
Semuanya dengan cepat menyebar. Termasuk gadis yang duduk di samping Yanuar dan menikmati bubur ayam yang dipesannya untuk sarapan.
“Yan, teman kamu lagi kenapa?” tanyanya sambil menodongkan ponsel yang menampilakan foto William.
Yanuar yang sedang menikmati soto ayam pun mendongak dan melihatnya. Matanya menyipit dan terus melihat video yang terputar setelah foto William yang menyamping.
Brooot!
“Anjir! Dia kenapa?” tanyanya, merebut ponsel milik si gadis itu.
Dia terus menarik layar ke atas, dunia pergosipan si gadis. Buru-buru dia mengeluarkan selembar uang berwarna merah. “Lo bayarin makanan gue!” serunya dan berlari keluar kantin.
Si gadis tersenyum sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di meja usai Yanuar melihat berita itu. “Lumayan, gratis deh bubur gue.”
Ynuar sampai terengah-engah. Napasnya ngos-ngosan usai berlari dan menaiki tanggan berbukit-bukit. Ah itu, terlalu lebay. Intinya undakan anak tangga dia naiki demi menuju kelasnya.
Dia melihat dengan mata telanjangnya. William di sana! Duduk dan tengah menyalin PR.
Buru-buru dia menghampiri cowok itu. “Anjir! Lo kesurupan Nyet?!” serunya sambil memegang dahi sahabatnya.
William mendongak, menatap heran Yanuar yang tiba-tiba menyentuh dahinya.
“Wah … enggak panas!” ucap Yanuar lagi sambil membandingkan suhu tubuh William dengannya.
Dia mendorong wajah William ke kiri dan ke kanan. Lagi-lagi dia menggeleng, “normal kok.”
Dia mulai membaca mantra aneh, “Simsalabim, abra kabarnya?! Jin-jin sontoloyo kecebur di got, keluar-keluar!” Dia menyambar sebotol air mineral di meja sampingnya. Tanpa izin menenggaknya.
Byurrrr! Segera saja dia menyembur William dan tangannya menyentuh kepala William. “Keluar kamu! Keluar! Jangan ganggu sahabat saya!” ujarnya bak dukun yang tengah beraksi mengobati pasiennya.
Semua siswa yang melihatnya pun melongo, tak pernah melihat kejadian luar biasa ini. William menutup matanya sebentar. Merasakan wajahnya lumayan basah.
“Yanuar Brata Asmantyo! Kurang ajar lo!!!” bentaknya sambil bangun.
Dia memelintir tangan Yanuar sampai cowok itu kesakitan. “Lo kalau bosen idup bilang, Anjir! Enggak usah nyembur-nyembur gue!”
William emosi. Dia membuat Yanuar mengaduh dan pada akhirnya melepaskan pitingannya saat Yanuar meronta kesakitan.
Yanuar sendiri masih mengamati William yang malah kembali menyalin PR PKN.
“Lo lagi belajar jadi siswa nasionalis ya?”
William diam.
“Tapi enggak mungkin. Lo enggak pernah ngerjain PR begini sebelum dihukum. Lo kenapa sih Nyet?!” Yanuar gusar sendiri tak bisa menemukan jawabannya sama sekali.
“Berisik lo. Mau gue banting?” ancam William.
Yanuar segera mengunci mulutnya rapat-rapat.
Bahkan guru PKN pun keheranan melihatnya. Bahkan ikut bertanya sama halnya seperti yang Yanuar tanyakan.
Saat istirahat, William pun dipanggil guru BK. Yanuar mengangguk paham, “ini sih tanda-tanda dia mau didepak kayaknya, efek guru bahasa indonesia.” Dia berspekulasi kepada kedua sahabatnya yang baru saja dia ceritakan soal perubahan William yang mendadak.
Carol menyandar, ikut bingung.
“Ya kali. William keluar sekolah nantinya dia yang mampus. Enggak mungkin. Kakek Matthew pasti turun tangan kalo gitu.” Hansel memberikan pembelaannya.
“Ya Allah, lo kaga tahu aja tadi pagi. Gue liat pake mata kepala sendiri, Njir. William, ngerjain PR! Gila enggak tuh? Dia fiks kesambet Njir!” tutur Yanuar berapi-api.
***
Yanuar masih kembali mengamati William di dalam kelas sampai akhirnya salah satu staf bimbingan konseling pun memanggilnya.
“William, bisa ikut saya?” tanyanya.
“Bisa Bu.”
Dengan tenang cowok itu keluar kelas, membuntuti wanita dengan jilbabnya yang dikenakan begitu rapi.
“Duduklah,” pinta wanita itu.
William mengambil duduk berhadapan dan hanya terhalang meja saja. Dia masih tak berekspresi apa pun juga selain menatap guru yang dianggapnya paling bijak selain guru-guru yang mengajar di kelas.
“Saya sudah mendengar laporan dari Bu Dewi. Jadi bagaimana kamu akan mengambil konsekuensinya? Tentu kamu tahu kalau nilai Bahasa Indonesia tidak boleh kosong untuk kelas 12 ini?” tanyanya.
William mengangguk setuju. “Saya masuk ke kelas lain saja Bu.”
“Ibu sudah mengecek dan tidak ada yang sesuai dengan jadwal yang kamu miliki. Kamu tidak bisa mengorbankan mata pelajaran lain demi mendapatkan jam bahasa indonesia.”
William masih tenang. Dia tahu kalau itu hanyalah pembuka untuknya. Intinya bukan itu, dan dia juga tahu kalau guru BK akan memberikan solusi lain. Dia akan lebih mudah menghargai wanita muda yang ada di hadapannya ini.
“Ibu sudah memiliki solusinya, dan Bu Dewi tidak akan keberatan untuk ini.”
Betul bukan?
Tok! Tok! Tok!
Seorang siswi berkacamata pun menghadap guru BK. “Bu, sudah saya panggilkan,” ucapnya.
Wanita berjilbab itu tersenyum. “Terima kasih, Ningsih. Kamu boleh kembali ke kelas ya?”
Siswi itu mengangguk dan segera keluar kelas. Dia tak mau berlama-lama berhadapan dengan William. Siswa populer akan memiliki masalah.
Tak lama, kembali ada yang mengetuk pintu ruangan.
“Assalamualaikum, Bu Aisyah,” sapa perempuan itu.
William menoleh ke belakang. Melihat dengan pandangan tak percaya sosok Larasita yang berdiri di pintu.
“Masuk, Laras.”
Gadis itu pun masuk. Berdiri di depan meja sang guru namun sama sekali tak melihat ke arah William. Larasita sudah tahu siapa siswa yang sedang duduk bersama gurunya itu. Dia hanya tak mau dianggap dekat oleh para pengajar lainnya.
“Duduk Laras.”
Gadis itu pun duduk, menghadap lurus pada gurunya. Sama sekali tak menoleh dan memilih diam untuk mendengarkan apa yang akan guru itu katakan padanya.
“Begini … saya sudah mendiskusikan dengan Bu Dewi. Dan Bu Dewi tak keberatan jika itu kamu. Kamu bisa membantu jam tambahan untuk William untuk bahasa indonesia bukan?”
Dahi gadis itu mulai berkerut. Dia tak paham kenapa dirinya yang sekarang dikaitkan oleh William.
“Apa tidak ada siswa lainnya saja Bu?” tanyanya, mencoba mencari alternatif lain.
William segera menyela, “saya rasa memang Sita lebih cocok. Dia siswi beasiswa, tentu saja dia memiliki keunggulan di bidang akademis bukan Bu?”
Larasita terdiam, dia tak suka saat William malah menunjuk dirinya. Itu artinya dia akan semakin berhubungan dengan William.
“Itu juga alasan yang Ibu miliki. Tenang saja, itu bukan tanpa balasan. Kamu akan memiliki resume khusus untuk ini sebagai tambahan nilai kelulusan. Bu Dewi akan memberikan kontak langsung perihal seseorang yang bisa kamu ajak kerja sama untuk resume mu.”
Sebuah tawaran yang menggiurkan.
Program sekolah yang mengharuskan mereka memiliki satu projek akhir yang menyusahkan akan bisa dilewati olehnya tanpa harus bersusah payah menyebar proposal.
“Sampai berapa lama Bu?” tanyanya.
“Sampai Penilaian Semester Akhir Ganjil saja.”
“Baik Bu.”
“Untuk jamnya, kamu bisa diskusikan dengan langsung bersama William ya?”
Larasita mengangguk dan segera pamit meninggalkan ruangan. Sementara William masih harus diceramahi panjang lebar setelah mendapatkan satu masalah.