Pesawat menepi, mencari tempat yang sekiranya cocok dijadikan landasan untuk mendarat. Semua orang menunggu hingga pesawat Aster mendarat lebih dulu, setelah itu barulah mereka mengikuti di belakangnya.
Pesawat mendarat dengan sempurna, menjadi yang paling pertama menjejakkan kaki di atas tempat itu sebelum para penumpangnya merasakan hal serupa. Sang pilot mematikan mesinnya, pertanda bahwa sudah saatnya bagi mereka untuk turun dari dalam sana.
Aster menjejakkan kakinya di atas pasir. Melompat dengan semangat dari atas pesawatnya. Dia merasakan tanah putih kering yang seakan menyedot kakinya ke dalam bumi. Beberapa menyusup melalui lubang tali sepatu boots. Membuat langkahnya menjadi semakin berat dari pada biasanya, dan sedikit memberikan rasa geli. Namun itu semua membuatnya sangat senang.
Hamparan benda kecil itu gemerlapan saat tersinari oleh mentari. Bagaikan penuh dengan berlian yang berserakan di atasnya. Suara ombak berdebur keras beriringan dengan gemersik dedaunan di sekitar sana. Semua orang berlarian dengan riang di atas hamparan pasir putih. Mereka terlihat seperti baru saja menemukan sebuah harta karun. Bagaimanapun tidak akan ada yang bisa membendung kegembiraan di saat melihat benda indah tersebut untuk pertama kalinya.
Aster merasakan gelitik pasir yang masuk ke dalam sepatu. Namun dia tidak membiarkan hal tersebut mengganggu konsentrasinya. Matanya menyapu tiap sudut dari tempat baru tersebut. Pulau yang baru saja mereka temukan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Nibbana. Bahkan mereka tidak bisa melihat di mana ujung dari pantai tersebut berada.
Bebatuan besar berjajar, turut menghiasi pinggiran pantai. Tanaman pun tumbuh dengan bebasnya tidak jauh dari sana. Jarak antara tumbuhan satu dengan lainnya terlihat sangat jarang, sehingga mata Aster dapat menangkap berbagai bangunan kokoh berdiri di baliknya.
Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan bangunan apa yang tersembunyi di balik semua pohon itu. Hanya berpikir tanpa melakukan sesuatu tidak akan membuahkan apapun, pikirnya. Aster bergegas mengambil keputusan untuk segera menjelajahi pulau tersebut. Meski sebenarnya dia merasa enggan, ketika melihat wajah bahagia teman-temannya yang sedang asik bermain di atas pasir. Bahkan raut wajah kesedihan yang semula selalu terlihat kini hilang sama sekali. Tampaknya semua pasir itu telah menyihir pikiran mereka, sehingga melupakan semua kejadian yang telah terjadi.
Maaf Carles. Kami tidak bermaksud melupakanmu. Aster sedikit merasa bersalah kepada satu temannya itu yang pasti kini sedang mengintip dari sebuah tempat yang entah di mana.
Aster sedikit tertawa melihat teman-temannya. Bergerak spontan seperti anak kecil yang baru saja memasuki taman kanak-kanak. Terutama Johan, sejak awal dia langsung merebahkan diri, merasakan hangatnya pasir yang menjadi alas tubuhnya. Bahkan Erik pun turut tertegun memandangi pasir dalam genggaman. Selanjutnya, dia mengeluarkan sebuah botol kecil bekas air minum, mengganti air di dalamnya dengan pasir-pasir yang ada.
“Hei,” sapa Ethan sedikit mengejutkan. Lagi-lagi Aster tidak menyadari sejak kapal lelaki itu sudah berada di sampingnya. “Kemarikan tanganmu!”
Aster mengulurkan sebelah tangannya ke hadapan lelaki tersebut. Ethan menaruh sesuatu si atas telapak tangannya.
“Benda apa ini? Indah sekali.”
“Entahlah. Aku mendapatkannya di sekitar sini.”
“Terima kasih.”
Aster meneliti batu berwarna biru yang dia dapat. Bentuknya nyaris bulat sempurna. Mungkin lebih tepatnya berbentuk oval. Warna pada permukaannya belum pernah dia lihat sama sekali. Tidak sejernih mata Alby, maupun langit di siang hari. Warnanya lebih gelap, namun tampak halus. Beberapa buah garis putih melengkung di sekitarnya, semakin memperindah bentuk dari batu tersebut.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?”
Aster memasukkan harta karunnya tadi ke dalam saku celana. “Baru saja aku ingin memberitahu rencana selanjutnya kepada semua.”
“Baiklah kalau begitu. Aku percayakan padamu, ketua!” Ethan menepuk pelan bahu Aster.
Tak lama setelah itu, Aster berjalan menuju sebuah batu besar untuk dijadikan sebagai pijakan kaki. “Perhatian semuanya!” teriaknya sembari menepuk-nepukkan tangan untuk menarik perhatian semua orang.
“Ayolah, jangan sekarang!” protes Johan karena masih ingin bersantai di atas pasir.
“Kamu bisa melakukannya lagi nanti setelah misi kita selesai, Jo!” Alby sedikit mendorong punggung Johan agar bergegas bangkit dari duduknya.
Semua orang berkumpul ke arah Aster. Menaruh sesaat kegembiraan dan bersiap menerima misi selanjutnya.
“Semua sudah berkumpul?” mata Aster mengecek satu-persatu anggota kelompoknya. Memastikan agar Johan tidak tiba-tiba menghilang dari sana. Kini semua sudah berdiri mantap menghadap ke arahnya. “Aku ingatkan kembali bahwa tujuan utama kita adalah menyelidiki mengenai Orion. Dan ini merupakan sebuah langkah yang sangat penting untuk menuju tercapainya misi kita. Dan selanjutnya, kita akan melanjutkan perjalanan. Tujuan kita sekarang adalah ke sana,” jelasnya sembari menunjuk ke arah bangunan yang terhalang pohon. “Kalian bisa lihat bangunan-bangunan itu?”
Semua orang berbalik badan, beberapa hanya menengokkan kepala. Tidak sulit untuk bisa menemukan lokasi yang dimaksud dari tempat mereka berkumpul sekarang. Pepohonan sepertinya tidak benar-benar bermaksud untuk menyembunyikan tempat tersebut.
“Tampak seperti... sebuah kota kecil,” Simon paling pertama berkomentar.
“Benar. Mungkin penduduk di sana bisa membantu kita.”
“Tapi... aku merasa aneh.”
Aster hanya mengerutkan dahinya ke arah Alga tanpa mengeluarkan suara untuk bertanya. “Posisi kota itu tidak terlalu jauh dari sini. Tapi kenapa tidak ada satu pun orang yang terlihat? Bahkan mereka seakan tidak tertarik dengan kedatangan pesawat kita.”
“Mungkin semua ini tampak biasa bagi mereka. Atau... entahlah. Kita bisa cari tahu setelah ini.”
“Jadi, kita pergi sekarang?” Johan yang semula menjadi yang paling enggan untuk pergi, kini berubah menjadi yang paling tidak sabar untuk melanjutkan petualangan.
“Tentu saja, Jo. Kapan lagi? Ayo kita berangkat, dan jangan sampai ada yang terpisah!”
Mereka semua melangkah di atas pasir dengan kaki berat. Menapaki jalanan yang sedikit menanjak. Rerumputan berwarna kecokelatan mulai tumbuh di sekitar mereka, mengantarkan hingga ke kerumunan pepohonan ramping yang sebenarnya tidak terlalu lebat. Warnanya sudah tidak terlihat segar. Seperti tanaman yang hendak layu namun masih berusaha untuk tetap hidup. Aster mengelus salah satu daunnya yang terasa kasar. Beberapa langsung berjatuhan ke atas tanah, beberapa terbang terhembuskan oleh angin.
Langkah Aster terhenti di ujung perjalanan menanjak. Pandangan matanya kini sudah tidak terhalang lagi oleh pepohonan. Semua yang mengekor di belakangnya pun turut berhenti. Mulai memandangi sebuah kota di hadapan mereka.
Deretan pepohonan tadi memisahkan pantai dengan kota. Beberapa langkah dari tempat mereka berdiri, sebuah jalan beraspal terbentang, saling sambung-menyambung dengan jalan kecil lainnya. Pasir-pasir yang tertiup angin bertebaran di atasnya. Bahkan menumpuk di setiap sela-sela bangunan.
Tidak ada satu pun penduduk yang terlihat keberadaannya. Aster mulai khawatir bahwa tempat yang mereka singgahi hanya sebatas kota mati. Namun, mungkin saja matahari yang bersinar sangat terik membuat mereka memilih untuk diam di dalam rumah masing-masing. Jadi, dia berniat melanjutkan penyelidikan untuk memastikan hal tersebut.
Semua melanjutkan perjalanan. Berjalan menyusuri aspal dengan pelan. Sebenarnya kota tersebut terbilang sangat menakjubkan. Bangunannya dibangun menggunakan semen dan diberi cat berwarna-warni. Bahkan beberapa menanam tanaman hias di depan rumahnya. Mobil bermerek yang tampak mahal terparkir di pinggiran jalan. Ada berbagai mesin yang belum mereka ketahui kegunaannya. Bahkan ada sebuah kotak kaca yang menampung berbagai makanan di dalamnya. Semua beranggapan bahwa benda tersebut hanyalah lemari es biasa, yang sengaja di simpan di depan rumah entah untuk apa. Seburuk apapun penampilan luar kota tersebut, tapi para penduduk tampaknya sudah tidak kekurangan apapun selama hidup di sana.
Aster memiliki kebiasaan terdiam saat terkesima oleh sesuatu yang baru dan menakjubkan. Mulutnya akan berdecak kagum tanpa disengaja. Akan tetapi, kali ini terasa lain. Dia memang terkejut dengan keberadaan kota tersebut. Keadaannya jauh berbeda dengan Oakland. Mungkin bisa dikatakan lebih layak untuk dihuni. Ya, memang benar seperti itu, kalau saja debu-debu tidak beterbangan, menempel pada tiap bangunan, membuat warna mereka menjadi begitu kusam.
Matahari selalu bersahabat dengannya di Oakland ataupun Nibbana, namun tidak di kota itu. Panasnya seakan membuat semua air menguap, meninggalkan sebuah kegersangan. Pepohonan masih terlihat tumbuh di sekitar sana, namun kebanyakan hanya berupa bangkainya saja. Tidak ada yang benar-benar tumbuh subur menghijau sempurna.
Semua orang mengerutkan dahi, memandangi berbagai bangunan menjulang. Sekaligus menghalangi sinar matahari yang mulai menyakiti mata. Sayangnya mereka tidak memasukkan topi ke dalam daftar perlengkapan misi. Karena memang tidak pernah disangka akan sampai ke tempat seperti ini sebelumnya. Sekarang hanya telapak tangan mereka sendirilah yang dapat digunakan sebagai penyeka sinar matahari agar tidak langsung masuk menusuk mata.
Mata Aster menyapu bangunan berwarna merah jambu dan hijau yang kini sudah sangat kusam. Dia berpikir kota tersebut pasti sangat indah kalau saja keadaannya tidak seperti sekarang. Lalu apa yang membuatnya seperti itu?
Rasanya ada yang salah dengan kota ini. Andai saja keadaannya terlihat lebih baik, mungkin semua orang di Oakland dan Nibbana dapat tinggal di sini. Ya, kalau saja seperti itu...
Awalnya Aster berharap besar kepada tempat tersebut, untuk bisa dijadikan tempat tinggal dari semua keluarganya. Tapi, entah kenapa dia justru merasa sedih saat menyaksikan pemandangan di hadapannya itu. Kepalanya kembali berpikir, mungkin menghabiskan sisa hidupnya di Nibbana atau Oakland masih lebih baik, ujar Aster dalam hati.
Kelompok Aster mulai terpisah, berjalan ke arah berbeda untuk mengamati sesuatu. Mellisa memperhatikan bunga-bunga mawar yang menguning di dalam pot-nya. Kelopaknya segera berjatuhan di saat jemari gadis itu menyentuhnya pelan, seakan sudah tidak lagi memiliki kekuatan untuk hidup. Air muka Mellisa menjadi begitu sedih akan hal itu.
Di saat yang sama, Johan berjalan ke arah sebuah kotak kardus di sudut jalan. Dia melihat hewan kecil berbulu terdiam di dalam sana. Kepalanya sengaja disembunyikan di dalam sebuah kain agar tidak terkena sinar matahari langsung. Dia mulai merasa iba kepada hewan malang tersebut. Nampaknya tidak ada yang mau mempedulikannya di kota itu.
Si pemuda sipit bermaksud untuk mengangkat binatang malang tersebut ke pangkuannya. Meski begitu, dia tetap berhati-hati karena belum pernah melihat hewan seperti itu sebelumnya. “Mungkin hanya seekor kucing berbulu lebat’ pikirnya.
Johan mendekati hewan tersebut sangat pelan agar dia tidak terkejut. Mengelus bulunya yang sudah mulai kasar, lalu menggunakan kedua tangan untuk mengangkatnya. “Halo hewan kecil. Kasihan sekali kamu…”
Hewan tersebut terlihat pasrah dan tidak melawan. Johan tersenyum, sembari memutarkan badan hewan di dalam tangannya untuk melihat wajah lucunya. Akan tetapi, dia tidak bisa lagi mendapati wajah lucu hewan tersebut. Bukan karena raut wajahnya yang buruk, namun karena Johan benar-benar tidak bisa mendapati wajahnya berada di tempat seharusnya.
Sebuah lubang besar terpampang pada wajah hewan yang dulunya adalah seekor anak anjing. Semut-semut dan belatung tampak tengah melahap wajah anak anjing itu dengan lahap. Benar-benar melumat habis wajahnya hingga tak menyisakan apapun.
“Huwa!!” teriak Johan yang terkejut. Dengan spontan dilemparnya bangkai tersebut hingga kembali ke tempat semula. Dia bergegas mengelap tangan ke atas celana. Berusaha menghilangkan rasa jijiknya dan bertahan agar tidak perlu muntah.
“Ada apa, Jo?” Simon dan Okta mendekat, terkejut setelah mendengar teriakan dari salah seorang temannya itu.
“Bukan ada apa denganku, tapi ada apa dengan kota ini?!” protes Johan dengan napasnya yang masih tersengal-sengal karena terkejut. Nada bicaranya sedikit mengandung perasaan marah bercampur kesal.
“Kamu menemukan sesuatu?”
“Tidak. Hanya sebuah bangkai.” Johan masih mengelap-ngelapkan tangannya yang sebenarnya tidak kotor. “Bagaimana dengan kalian?”
“Tidak berbeda denganmu.”
“Sepertinya kita terlalu berharap banyak terhadap kota mati ini,” tambah Okta. “Semoga kita tidak perlu mati di sini juga.”
***
Aster berkunjung ke salah satu rumah, berharap si penghuni mau membukakan pintu untuknya. Diketuklah pintu kayu yang ada beberapa kali. Pada percobaan pertama, tidak ada respon apapun. Begitu pula dengan percobaan-percobaan berikutnya.
Apa mereka sedang tidak ada di rumah, ya?
Setelah tidak mendapatkan apapun, Aster kembali berjalan mendekati jendela rumah tersebut. Berusaha membersihkan debu pada kacanya dengan telapak tangan. Dia melongokkan kepala, mencoba untuk melihat ke dalam rumah. Kaca itu sudah terlalu kusam, ditambah lagi dengan keadaan ruangan yang sangat gelap. Aster kesulitan untuk mendapatkan sesuatu di dalam sana.
Di saat yang sama, sekelebat bayangan sekilas tertangkap oleh matanya. Entah apa sesuatu yang baru saja melintas di dalam sana. Aster merasa tidak yakin jika sosok itu adalah manusia. Tapi yang jelas dia percaya pasti ada sesuatu di dalam sana.
Dia sudah tidak menempelkan dahinya pada kaca. Sedikit mundur dan berbalik. Lagi-lagi entah sejak kapan Ethan berdiri di belakangnya, membuat Aster sedikit ingin berteriak. “Kau mengejutkanku!”
“Maaf, maaf,” ucapnya sembari tertawa melihat gadis di hadapannya itu. “Apa yang sedang kamu lakukan?” Ethan mengusap kotoran yang menempel pada dahi Aster.
Aster sedikit menepis tangan Ethan dan lanjut membersihkan dahinya seorang diri. “Aku mencoba melihat ke dalam rumah. Siapa tahu ada orang yang tinggal di dalam sana.”
“Kenapa tidak masuk ke dalamnya?”
“Mungkin akan aku lakukan. Tadi aku masih ragu karena takut pemiliknya merasa terganggu dengan kemunculanku yang tiba-tiba.”
“Maksudku, coba mengetuk pintu dan berkunjung dengan baik-baik.”
“Sudah aku lakukan sebelumnya.”
“Dan hasilnya?”
Aster hanya menggeleng dengan perasaan kecewa.
Ethan menghadap ke arah jalan memanjang di hadapannya. Bertolak pinggang sembari menyeka sinar mentari oleh tangan kanannya yang ditaruh di depan dahi. Dahinya masih mengernyit karena silau. “Ke mana perginya semua penduduk kota ini?”
“Apa mereka sedang berkumpul di suatu tempat?”
“Kamu masih yakin ada orang di kota ini?”
“Yap,” jawab Aster singkat. Berusaha agar keyakinannya tidak tergoyahkan oleh apapun atau siapapun.
“Kenapa?”
“Karena sampah-sampah itu.” Ditunjuknya tumpukan kantong plastik hitam yang terlihat menggembung karena terisi penuh oleh sesuatu. “Di dalamnya terdapat banyak sampah bekas kulit buah yang tidak termakan. Dan masih terasa basah. Sepertinya baru saja dibuang tadi pagi.”
“Hmmm...” Ethan bersuara aneh. “Kamu mengorek-ngorek plastik sampah?” Dia merasa tidak percaya atau mungkin sedikit jijik membayangkannya.
“Masih lebih baik dibandingkan harus mendobrak rumah orang, bukan?”
“Ya, ya terserah kamulah. Asal jangan coba-coba menyentuhku dengan tangan itu!”
Aster melihat kedua telapak tangannya, lalu tersenyum licik ke arah Ethan. “Tapi aku merasa sedang ingin memelukmu.” Senyum jahilnya mulai mencuat pada bibirnya.
“Tidak, jauh-jauh dariku!”
Aster terus mencoba memeperkan telapak tangannya pada baju Ethan, sementara lelaki itu terus menghindarinya. Mereka berdua bercanda, tertawa di tengah panas yang menyilaukan itu. Sayup-sayup suara Erik terdengar memanggilnya. Aster segera berhenti sembari berusaha memberhentikan tawanya juga.
“Ya? Ada apa Erik?” dia sedikit berteriak. Letaknya dengan Erik cukup jauh, membuatnya harus berbicara dengan kencang. Terlalu malas baginya untuk kembali berjalan di tengah cuaca sepanas itu.
Terlihat Erik sedang berjalan mundur dari belokan. Badannya muncul dari balik sebuah bangunan. Aster mulai merasa bingung saat mendapati ekspresi tegang dari wajah temannya itu. Baru saja dia hendak berlari menghampiri, namun sesuatu yang membuat Erik bertingkah aneh mulai terlihat.
Gerombolan orang asing tampak membawa berbagai senjata tajam yang diacungkan ke arah Erik. Lelaki itu mundur perlahan, hingga berkumpul dengan gerombolan teman-temannya yang lain. Aster bergerak pelan mendekati teman-temannya. Berusaha waspada dan merasa harus segera melakukan sesuatu.
“Angkat tangan!” teriak seorang lelaki yang membawa pistol. Membuat semua orang mendadak membeku di tempat mereka berdiri. “Jangan bergerak jika tidak ingin kepala kalian berlubang!”