Aster, Alga dan Johan bercanda sepanjang perjalanan. Mereka terus berbicara tanpa sempat memperhatikan wajah Okta yang sedari tadi terdiam tanpa ekspresi. Ada suatu pertanyaan yang ingin sekali dia ucapkan, namun tidak berani untuk menginterupsi teman-temannya yang sedang bersenda gurau tersebut.
Meski begitu, semakin lama perasaan penasaran tersebut dipendam, semakin besar tanda tanya dalam benaknya. Okta tidak dapat menyimpannya lebih lama lagi. “Umm... Saudaraku itu,” akhirnya Okta memperdengarkan suaranya. Aster bergegas menolehkan wajah ke arahnya. “Sepertinya dia disukai banyak orang.”
“Ya!” jawab Aster penuh semangat. “Sudah sepatutnya kamu bangga menjadi saudara kembar dari Edy.”
Mata Okta masih tetap terfokus ke depan. Sementara pikirannya turut bergabung ke dalam pembicaraan. Ada sedikit perasaan iri kenapa Edy begitu memberikan berbagai kesan baik kepada banyak orang. Bahkan orang lain justru lebih mengenal saudaranya itu dibanding dirinya sendiri.
“Aku ingin merasa seperti itu, kalau saja aku tahu banyak tentangnya. Tapi... kalian tahu sendiri kan?”
Aster melirik ke bawah meski tak ada yang harus dilihatnya. Menganggung-angguk kecil untuk beberapa saat. “Mungkin ada yang ingin kamu tanyakan tentangnya?”
“Seperti apa saudaraku itu?” tanya Okta tanpa terlihat berpikir terlebih dahulu. Tampaknya dia sudah sangat ingin menanyakan hal tersebut sejak lama. Meski sejak keluar dari Dione dia tinggal bersama ayahnya sendiri, tapi jarang sekali dia membicarakan hal pribadi seperti sekarang ini karena berbagai hal.
“Ingin tahu jawabannya? Kamu hanya perlu menatap ke arah cermin,” canda Johan.
“Maksudku seperti apa sifatnya?”
Johan berhenti tertawa karena Okta sedang tidak bisa diajak bergurau sama sekali. “Aku hanya bercanda,” sahutnya dengan kecewa.
“Aku pernah menanyakan hal yang sama pada ayahku. Tapi, ternyata dia pun tidak begitu mengenalnya karena mereka berpisah sejak lama. Huh, ada apa dengan kami ya? Pada akhirnya memilih untuk berpisah dengan orang tua.”
Aster tidak berani berkomentar apapun mengenai hal tersebut. Namun dia masih ingin membantu Okta untuk bisa lebih mengenal saudara kembarnya itu. “Mungkin Alga lebih mengenal Edy,” ujarnya sembari melirik ke arah kiri.
Alga mulai membiarkan berbagai kenangan berputar dalam kepala. Membiarkan semua berdatangan satu persatu membawa sebuah perasaan nostalgia. “Lumayan. Aku, Tony, Simon, dan Edy sudah bersahabat sejak lama, sejak kami bertemu di akademi. Sebenarnya Tony lah yang paling mengenalnya. Mereka lebih sering membicarakan masalah hati berdua, ya... kalian pasti mengerti apa maksudku.”
Johan tertawa mendengarnya, seakan tidak percaya bahkan orang seperti Edy pun peduli terhadap masalah perasaannya.
Alga memasang pose berpikir. Menggosok-gosokkan jari telunjuk pada dagu sembari menopangkan tangan kiri pada tangan satunya lagi. Matanya terpejam dengan alis yang berkerut. “Pada awalnya Edy terlihat seperti orang yang sangat misterius. Dia tidak bisa terbuka kepada siapapun. Bahkan kami tidak pernah tahu kenapa dia bisa berada di akademi. Beberapa bulan dia habiskan waktunya seorang diri. Tidak ada yang berani mendekat karena pasti akan tertusuk oleh sorot matanya yang tajam. Bahkan dia langsung menjadi bahan pembicaraan berkat perkembangannya yang begitu pesat dibanding siswa lain. Hingga suatu saat komplotan senior yang merasa iri datang menghampirinya.”
“Coba kutebak. Pasti Dicky menjadi salah satunya?” Johan kembali tertawa.
Alga menggeleng. “Kamu belum pernah mengenal mereka, karena orang-orang itu lulus sebelum kamu masuk ke akademi. Bahkan Dicky tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Orang-orang itu dibutakan oleh rasa iri, hanya karena tidak bisa menyaingi kemampuan Edy, yang merupakan junior mereka. Aku tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam pikiran mereka.”
“Lalu apa yang terjadi?” Johan semakin penasaran mendengar kelanjutan kisah Alga.
“Untunglah waktu itu aku dan Tony memergoki mereka saat hendak melakukan sesuatu kepada Edy. Di saat yang sama pula kami bertemu Simon. Sebelumnya dia belum menjadi salah satu anggota kelompok junior.”
Aster baru mendengar cerita tersebut untuk kali pertama. Sedikit mengandung kejutan bagi dirinya. Memang banyak sekali hal yang belum sempat dia tanyakan kepada semua orang, karena waktunya kini terlanjur tersita oleh hal lain. “Oya? Lalu bagaimana dia bisa masuk ke dalam kelompok junior?”
“Berkat kejadian tempo hari. Simon lebih dulu menyelamatkan Edy daripada aku dan Tony. Dia salah seorang senior pada waktu itu. Saat Simon memutuskan untuk menghadapi komplotan senior itu sendirian, aku dan Alga pergi membawa Edy ke tempat yang aman. Setelah itu kami tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Yang pasti, akhirnya Simon menjadi seorang siswa baru di kelompok junior. Mulai dari situlah cerita persahabatan kami dimulai.”
Alga memberikan senyuman terbaiknya di akhir cerita. Aster turut melakukan hal sama. Entah kenapa cerita tersebut terdengar begitu indah di dalam telinganya.
“Aku masih ingat saat hari-hari pertamaku di sana.” Kini giliran Johan yang berusaha mengingat-ingat masa lalunya di akademi. “Edy masih menjadi orang yang kaku dan sulit bersosialisasi. Tapi, lama-kelamaan dia menjadi orang yang ramah kepada siapa saja. Perubahan yang sangat drastis.”
“Ya. Dia benar-benar berubah sejak hari itu. Terutama, kamu tahu?” Alga menyerongkan badannya agar bisa menoleh ke belakang, melihat wajah Aster. “Setelah kamu datang ke akademi.”
“Hah?” Aster ingat benar cerita yang sempat didengarnya dari Tony. Namun dia berpura-pura seakan terkejut mendengar hal tersebut.
“Aku baru tahu dia bisa tersipu malu dan begitu salah tingkah jika kami sudah membicarakan tentangmu.” Alga tertawa sementara Johan mulai meledek Aster.
“Berapa lama kalian sudah bersama?” tanya Okta yang masih merasa penasaran.
“Aku?” Aster berbalik bertanya.
“Maksudku, kamu berpacaran dengan saudaraku waktu itu?”
Mendadak sebuah pertanyaan sederhana menjadi sangat sulit untuk dijawab. Ingin menjawab ‘ya’ tapi ada sebuah perasaan bahwa hal tersebut salah. Ingin menjawab ‘tidak’ tapi kata tersebut pun memiliki arti yang salah. Jadi, apa yang harus dia katakan kepada Okta? Aster kesulitan memilih kata.
Semakin dipikirkan, semakin kelu lidahnya untuk bergerak. Wajahnya mulai terasa panas, entah seperti apa kelihatannya sekarang. Aster hanya berharap tidak ada yang menyadari saat wajahnya mulai memerah karena malu.
“Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Yang jelas kami baru saling mengetahui perasaan masing-masing beberapa saat sebelum Edy akhirnya...” perkataan tersebut sengaja digantungnya. “Terserah ingin kamu tangkap seperti apa.”
“Tapi, kamu masih mencintainya? Hingga sekarang?”
Aster sedikit tertawa terpaksa. “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Entahlah. Sejak awal kita bertemu kamu selalu memberikan pandangan yang sekaan berkata bahwa kamu benar-benar memiliki perasaan kepadaku. Tapi, aku yakin benar tatapan itu bukan ditujukan untukku. Mungkin saat itu kamu melihat Edy dalam diriku. Dan mungkin saja sampai sekarang pun masih sama. Karena kamu selalu terlihat berbeda saat membicarakan dia.”
Alga dan Johan membungkam mulutnya. Mereka memilih untuk melihat ke arah laut di sampingnya. Pembicaraan tersebut sudah bukan lagi suatu hal yang bisa mereka campuri sesuka hati. Aster melirik ke arah mereka berdua yang sudah lebih dulu menghindari tatapan matanya.
Keadaan semakin terasa menyesakkan bagi Aster sendiri. Sementara Okta yang membuatnya seperti itu sama sekali tidak menyadari seperti apa perasaan gadis tersebut. Okta menganggap pembicaraan mengenai hubungan Edy dan Aster itu hanya sekedar sebuah pembicaraan ringan. Padahal Aster sendiri mulai terbebani karenanya.
“Sejujurnya aku merasa kurang pantas membicarakan hal ini di saat seperti ini.”
Setelah mendengar perubahan nada pada ucapan Aster, barulah Okta tersadar. “Maaf. Aku tidak bermaksud membuat keadaan menjadi tidak mengenakkan seperti ini. Tidak apa jika kamu tidak ingin menjawabnya.”
“Tidak, tidak. Aku hanya ingin berkata kalau ini bukan saat yang tepat. Mungkin setelah misi ini berakhir, kita bisa bertukar lebih banyak cerita.”
Aster tersenyum ke arah Okta meski lelaki tersebut tidak bisa melihatnya.
“Mendengar cerita kalian, aku menjadi sedikit iri kepadanya. Aku tidak memiliki hal yang dia miliki.”
“Apa itu?”
“Teman.”
Aster kembali terdiam, begitu pula dengan Alga dan Johan yang masih tenggelam dalam lamunanya sendiri.
“Di Dione, aku tidak pernah memiliki sahabat bahkan teman sekalipun. Hanya karena aku anak seorang ratu yang sebenarnya tidak mereka sukai. Semua orang selalu saja men-judge seseorang tanpa alasan. Aku selalu merasa, ibu yang memiliki kesalahan, namun karena orang-orang itu tidak pernah berani melawannya, mereka melimpahkan semua padaku. Terkucilkan di tengah masyarakat, itu sangat menyedihkan.” Okta menertawakan dirinya sendiri. Namun Aster justru menangkap nada kesedihan di balik kata-katanya. “Bahkan hal itu yang membuatku terpaksa harus menggunakan sedikit ancaman agar orang-orang itu pun segan terhadapku. Kupikir lebih baik orang-orang takut kepadaku. Daripada aku yang harus selalu terdiam ketakutan di tengah mereka. Dan, saat itulah aku bertemu ibumu.”
“Ah, ya. Ibu sempat bercerita tentang itu.”
“Apa yang diceritakannya?”
“Tidak banyak. Hanya sebatas yang perlu aku ketahui.”
Okta sedikit tersenyum mengingat masa lalu. Sepertinya ada kisah yang hanya bisa dia simpan seorang diri tanpa harus diketahui orang lain. Baginya, tidak semua kenangan boleh dibagikan kepada orang lain. Rasanya akan berkurang dan tidak seindah saat merasakannya seorang diri.
“Tapi sekarang tidak perlu lagi kamu merasa iri. Karena kamu pun sudah menjadi bagian dari kami semua,” tambah Aster lagi sembari menepuk pundak Okta.
“Iya.”
Aster turut tersenyum menyaksikan bibir Okta yang sedikit tersungging. Perasaan dari dalam hati lelaki tersebut sepertinya sangat tulus. Cukup untuk membuat keadaan menjadi mulai hangat.
Aster sangat senang mendengarkan cerita dari orang-orang. Itu kenapa terkadang dia dianggap cerewet karena terlalu banyak bertanya. Ternyata di balik semua itu tidak semata-mata dia hanya ingin memenuhi rasa penasarannya saja. Aster selalu merasa kebahagiaan orang lain seakan menjadi kekuatan lebih bagi dirinya sendiri.
“Aku senang kalian bisa menerimaku dengan senang hati. Jika keadaan berbalik, mungkin aku tidak bisa menerima kalian begitu saja.”
Alga menepuk pundak Okta sembari turut tersenyum. Begitu juga dengan Johan yang perhatiannya mulai tercuri oleh kata-kata lelaki di hadapannya.
“Siapa bilang? Setelah ini kamu harus melakukan semacam tes untuk bisa bergabung ke dalam kelompok kami!” protes Johan.
“Oya? Tes seperti apa?” Okta menanggapi candaan tersebut.
“Yang pastinya tes tersebut akan sangat berat, menakutkan, dan menyakitkan!”
“Wah, aku jadi takut,” tanggapnya dengan ekspresi pura-pura ketakutan.
“Memang benar, sudah seharusnya kamu merasa takut, siswa baru!”
“Jangan menyepelekannya! Bahkan jika bertarung pun kamu bisa dengan mudah dia kalahkan!” ujar Aster kepada Johan yang masih berlagak seperti seorang senior yang galak.
“Siapa bilang aku akan mengadu keahliannya dalam bertarung? Tenaga tidak ada apa-apanya jika tidak sebanding dengan ini.” Sekarang Johan mengetuk-ngetukkan jari telunjuk pada kepalanya sendiri.
“Bilang saja kamu merasa tidak bisa menang jika bertarung dengannya.”
“Ayo saja jika ingin mengadu kekuatan. Menurut analisaku, karena Edy sangat ahli dalam bela diri, maka saudara kembarnya tidak akan seperti itu.”
“Teori dari mana itu?” tanya Okta sembari tertawa.
Aster dan Alga pun turut tertawa mengiringi cerahnya langit hari ini. Keadaan dalam pesawat Aster tampaknya menjadi yang paling ramai dan menyenangkan. Seakan mereka berempat sedang pergi bertamasya, bukan untuk menjalankan sebuah misi.
Aster kembali membiarkan sinar mentari mengelus kulit wajahnya. Rambutnya mengilat indah di bawah sinar terang itu. Menjadi sesuatu yang begitu menarik perhatian. Mungkin karena itu pula pesawat Alby menyejajarkan posisinya. Aster dapat melihat lelaki berambut pirang itu melirik ke arahnya untuk memberikan senyuman. Di saat yang sama, Ethan turut tersenyum kepadanya dari jok belakang Alby. Tidak mungkin Aster tidak membalas senyuman tersebut, meski dia tidak tahu pasti untuk siapa senyuman tersebut ditujukan.
Matahari merangkak perlahan untuk mencapai tengah langit. Cahayanya terasa hangat saat menyentuh kulit. Dinginnya angin kini sudah mulai tidak terasa lagi. Mata Aster terpejam sesaat untuk menikmati saat-saat yang sangat disukainya tersebut. Bersandar pada punggung joknya dengan nyaman. Senyumnya tidak pernah dilepas untuk tetap mempertahankan perasaan hatinya yang sedang baik.
Dia membuka mata, memandangi awan berarak pada langit di atas kepalanya.
Bagaimana perasaanmu saat ini, Edy? semua orang mendadak mengingat tentang dirimu. Sepertinya mereka sudah sangat rindu padamu. Terutama Okta. Dia pasti berharap bisa bertemu walau sesaat untuk bertukar cerita. Kadang aku menangkap rona kesedihan pada wajahnya. Seperti apa masa lalu membiarkan dia hidup seorang diri. Terkucilkan, terabaikan, bahkan meski terlambat dia berharap saat itu kamu ada di sisinya. Tapi syukurlah, dia bisa berada di sini. Merasakan bagaimana rasanya memiliki banyak sahabat yang sangat mempedulikannya.
Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah karena sempat sengaja memandangnya sebagai dirimu. Setelah ini aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Sebelum ada orang yang tersakiti lagi perasaannya karenaku.
Hah... andai kamu bisa menampakkan diri, saat ini. Sesaat saja, kamu mengintip atau sedetik muncul di hadapanku.
“Muncul!” Jo sedikit berteriak.
Aster terbangun dari lamunan juga duduk santainya. “Apa yang muncul?” sesaat dia berharap sosok Edy yang muncul di hadapannya. Tapi lagi-lagi dia sudah memimpikan hal yang mustahil.
“Itu!” ujar lelaki itu sembari menunjuk ke arah depan.
Mata Aster memicing. Dia berkonsentrasi penuh ke arah depan, ke titik yang ditunjukkan oleh Johan. Dengan sekejap, mulutnya sedikit menganga karena terkesima oleh sesuatu yang mulai terlihat.
Kabut tipis yang semula masih menghalangi pandangan, mulai menghilang perlahan. Seakan mereka sedang berusaha untuk mengejutkan para tamu barunya. Dan hal tersebut, telah sukses besar.
“Akhirnya, kita menemukannya!” Sahut Johan lagi dengan girang. Dia meneriakkan kalimat yang sama kepada semua orang.
Aster mulai tersenyum dengan penuh rasa puas. Batinnya sudah tidak bisa lagi dikurung untuk mulai berlari mendahului pesawatnya. Andai saja bisa berenang, mungkin dia sudah nekat terjun ke dalam air untuk menuju sebuah tempat yang terpampang tak jauh dari posisinya itu. Sebuah pulau yang lain, telah menunggu untuk mereka singgahi.