Hari ini nasib telah berhasil mempermainkan perasaan Aster. Gadis itu mulai merasa lelah dengan semua kejutan yang ada. Tidak bisakah sehari saja permainan nasib ini memberikannya waktu untuk mengistirahatkan pikiran? pikirnya. “Kamu bicara terlalu keras, yah!” Sesuatu menabrak d**a Aster dengan keras. Meski bukan benda nyata, namun dia bisa merasakan dadanya terpukul hingga terasa sakit. Memang, dia tidak mengerti apa-apa, tapi keadaan haru berubah menyesakkan dalam seketika. “A-apa maksudnya barusan?” Aster tidak bisa hanya diam. Dia mendapati raut wajah yang menutupi kepanikan tampak pada wajah Thomas. “Dulu seharusnya kamu membunuhku?” dia kembali bertanya sehalus mungkin, berharap bahwa semua yang terdengar hanyalah sebuah kesalahan. “Jelaskan sekar

