Di dalam sebuah ruangan kayu, perjalanan mereka berakhir. Rombongan bersenjata memperingatkan agar mereka semua tidak beranjak dari dalam sana, sebelum akhirnya meninggalkan para tawanannya tanpa pengawasan. Entah apa yang selanjutnya terjadi, semua terdiam kebingungan. ‘Untuk apa kita diam di sini di saat orang-orang itu tidak ada? Kenapa kita tidak kabur saja dari sini?’ pertanyaan serupa muncul dari dalam kepala tiap orang. Tapi, tidak ada yang berani bertindak.
Mata tiap orang menyusuri keadaan ruangan hampir b****k itu dengan seksama. Tempat tersebut tidak terlalu besar. Ada beberapa buah pintu lain yang tertutup di dalam sana. “Apa mereka tidak memiliki biaya untuk merenovasi tempat ini?” komentar Johan.
“Sepertinya tidak begitu jika dilihat dari bangunan megah di sampingnya.”
“Bahkan kamu bisa dengan mudah melubangi temboknya hanya dengan beberapa kali tendangan, Aster.”
Sayup-sayup terdengar suara beberapa orang datang mendekat. Dari luar pintu tentunya suara tersebut berasal. Itu tandanya mereka semua harus lebih siaga dan tidak bertindak macam-macam.
Makin lama makin terdengar jelas suara dua orang lelaki yang tengah berselisih sembari berjalan cepat menuju ke dalam ruangan. “Berpuluh-puluh tahun! Dan kau membuat kesalahan yang sangat fatal untuk pertama kalinya!”
“Kubilang semua teknologi itu yang sudah tidak bisa mengimbangi kemajuan otak manusia.”
“Ya, dan itu adalah otakmu!”
“Daripada kau menyalahkanku, kenapa tidak segera membuang semua benda itu dan menggantinya dengan yang baru?”
“Jadi, kamu akan masuk ke sana lalu berkata ‘permisi, kami akan mengganti kamera sebentar, anggaplah kalian tidak melihat apa-apa dan lanjutkan aktivitas seperti biasa’ begitu?”
“Kita bahas hal itu nanti, sekarang ada hal yang lebih penting.”
“Kau selalu saja menghindar.”
Aster tidak ingin melewatkan apapun, matanya sudah menyoroti pintu dan sosok yang sebentar lagi akan terlihat dari baliknya. Percakapan atau lebih tepatnya pertikaian yang semula terdengar mendadak terdiam saat kedua orang itu berdiri di depan pintu. Suara decitan dari pintu yang terseret di atas kayu lapuk terdengar.
Dua sosok lelaki muncul di hadapan mereka. Satu berumur sekitar empat puluh tahun dan satunya lagi jauh lebih tua. Badannya hampir bungkuk dengan rambut putih yang hampir semua berguguran. Keriput di wajah itu, seakan membuat yang melihat ingin menariknya agar terlepas. ‘Mengerikan’ itu yang muncul dalam benak Aster.
Lelaki yang lebih muda memandangi satu-persatu tamunya, atau mungkin tawanannya. Dia terlihat seakan tidak begitu terkejut, hanya saja wajah itu melukiskan perasaan heran. Satu-persatu wajah ditelaahnya dengan teliti, hingga terakhir matanya bertemu pandang dengan mata Aster. Lelaki tersebut sedikit memandangnya lebih lama daripada yang lain. “Jadi, bisa tolong jelaskan mengenai siapa dan darimana kalian berasal?” tanyanya.
Aster tahu kalimat tersebut hanya sekedar pertanyaan formalitas semata. Si lelaki itu berjalan santai dan duduk di atas kursi kayu sembari menunggu seseorang memberikan jawaban.
Sebagai ketua kelompok, Aster merasa dialah yang harus memberikan jawaban mewakili semua temannya. “Kami penghuni dari tempat yang bernama Oakland dan Nibbana. Apa kalian tahu tempat itu? Kebetulan kami menemukan tempat ini saat sedang menjelajah keluar pulau,” jelasnya singkat.
“Sudah kubilang hari ini akan tiba,” potong si lelaki tua dengan suara serak.
“Diamlah, ayah!” lelaki satunya menyahut dengan cepat. “Kami tidak tahu-menahu soal tempat yang kamu sebut barusan. Tapi, kami sangat senang jika kalian mau menceritakan semuanya pada kami.”
Lelaki itu tersenyum dengan lembut ke arah Aster. Membuat dia nyaman meskipun baru pertama kalinya bertemu orang itu. Bukanlah perasaan yang biasa muncul saat Aster bertemu dengan orang asing. Namun, wajahnya seketika berubah di saat si lelaki tua kembali berkata kasar dengan suara serak dan mulai lemah. “Kau hanya membuang waktu, Thom!”
‘Thom?’ tanya Aster kepada dirinya sendiri. Dia kembali memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Rambut berwarna gelapnya sama dengan apa yang dimilikinya. Secercah harapan seakan berkembang semakin membesar di dalam benaknya. ‘Tidak salah lagi, semua alasan munculnya perasaan ini... Aku tidak mungkin salah. Dia pasti ayahku!’
“Thomas, apakah namamu Thomas?” tanya Aster spontan.
Kedua lelaki yang hampir bertengkar mulut kembali di hadapannya langsung berdiam diri. Mereka menoleh ke wajah seorang gadis berambut panjang yang tak berekspresi sama sekali.
“Dari mana kamu mengetahui namaku?”
Dengan kalimat pertanyaan tersebut seakan selesai menjawab pertanyaan Aster. Dia tidak perlu menanyakan hal lain untuk memastikan, karena kini dirinya sudah merasa yakin. “Dari cerita ibuku.”
“Tunggu, tunggu! Aku tidak mengerti,” tanya Thomas sembari tertawa kecil.
“Ibuku, Sheila. Kamu pasti mengenalnya, karena dia adalah isterimu.”
Thomas tidak langsung berkomentar. Alisnya mengerut sesaat sambil terus memandangi gadis di hadapannya. “Astaga!” serunya pelan setelah beberapa saat terdiam.
“Namaku Aster. Anak perempuanmu.”
Aster belum sekalipun memandang ke arah wajah teman-teman yang berdiri di belakangnya. Namun dia bisa mendengar betapa terkejutnya mereka yang sekarang mulai berdesas-desus berbisik tentang sesuatu. Sementara pandangannya tidak bisa lepas dari arah wajah Thomas.
Beberapa detik menjadi saat-saat mengejutkan bagi Thomas. Mulutnya sedikit menganga karena tidak percaya anak perempuanya berdiri di hadapannya saat ini. Matanya mulai berkaca-kaca dan mulutnya seakan ingin tertawa bahagia. Dia bergegas bangkit dari kursi dan mulai berjalan. “Anakku...” ucapnya sembari memeluk Aster erat.
Aster bukan orang sekuat itu untuk bisa menahan rasa haru karena bahagia bisa menemukan ayah yang selama ini dicarinya. Air mata mulai meleleh membasahi baju Thomas. Dia tahu pencariannya akan segera membuahkan hasil, dan inilah hasilnya. Akhirnya, keluarganya dapat kembali utuh, seperti yang selalu Aster idam-idamkan saat melihat keluarga temannya yang lain.
Sesaat terbesit berbagai kenangan masa lalu. Di saat dia terduduk seorang diri di atas menara sekolah ketika waktu pengambilan rapor. Saat itu dia berumur sepuluh tahun dan sedang sangat berharap pelukan ayah ibunya ketika dia menjadi siswa teladan saat itu. Miss Belly tidak bisa berlama-lama bersamanya, karena banyak anak lain yang membutuhkannya sebagai wali untuk sama-sama mengambil rapor mereka. Meski begitu, tetap saja Miss Belly bukanlah ibu kandungnya.
Aster ingat benar saat air mata membasahi deretan huruf A pada bagan nilainya dalam buku rapor. Dia tidak berani memandangi pemandangan di bawah menara terlalu lama. Padahal semua orang yang ada berwajah bahagia bersama ayah dan ibu mereka. Namun semua itu justru balik menyiksa kepada dirinya yang terus mengintip dari atas sana. Andaikan setelah ini dia bisa kembali ke sekolah hanya untuk merasakan bagaimana rasanya ayah dan ibu datang saat acara pengambilan rapor, khayal Aster.
“Aku mencarimu kemana-mana, yah,” suaranya bergetar dan terbata-bata, sedikit tidak jelas karena wajahnya tenggelam di dalam pelukan sang ayah. “Hampir saja aku berpikir bahwa ayah dan ibu adalah orang yang kejam karena meninggalkanku sendirian. Tapi akhirnya aku bisa menemukan kalian. Dan kita bisa berkumpul bersama lagi.”
“Ssstt,” Thomas menghapus uraian air mata pada pipi Aster. “Maafkan aku, Aster. Ada banyak hal yang membuatku harus melakukan semua itu. Yang jelas, kita bisa bertemu lagi di sini.”
Aster hanya mengangguk. Perasaannya kini mendadak menjadi begitu lega dibanding sebelumnya.
“Syukurlah, Aster.” Ethan mengusap bahu temannya itu sembari tersenyum.
Di tengah saat-saat mengharukan, suara serak yang sama kembali terdengar memecah suasana. “Apa-apaan ini? Kau tahu apa yang telah kau lakukan, Thomas?”
Wajah lembut Thomas berubah menjadi sangat kesal. Seperti gunung berapi yang siap memuntahkan lahar. Aster dapat melihat urat-urat di sekitar kepala ayahnya itu bertonjolan semakin jelas. Thomas berbalik ke arah lelaki tua yang seharusnya merupakan kakek dari Aster tersebut. Meski dia sedikit berharap bisa memiliki kakek yang jauh lebih baik daripada orang itu.
“Apa benar orang itu ayah dari ayahmu yang tampan itu?” bisik Johan. Aster menahan tawanya.
Ayah dan anak itu kembali bertengkar mulut, hanya saja nadanya lebih pelan. Meski begitu tetap saja semua masih dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka perdebatkan.
“Tidak bisakah sedikit peka terhadap suasana?” Thomas memulai.
“Kacau semuanya!”
“Sudahlah! Ayah hanya mendramatisir.”
“Aku tahu sejak dulu ada yang kamu sembunyikan dariku.”
“Aku tidak memiliki rahasia apapun.”
“Kamu masih ingin menyangkal di saat buktinya sudah ada di depan mataku?” Si lelaki tua menunjuk Aster. Kakinya sedikit melangkah mundur, seakan khawatir jari keriput tersebut bisa mengeluarkan sesuatu yang berbahaya. “Dulu kamu sendiri yang bilang, bahwa wanita itu dan anak perempuannya ini sudah kau bunuh!”