Sekitar lima belas menit berlalu. Kelompok Aster kini dapat melihat sebuah bangunan cukup besar yang bertengger kokoh. Seperti gedung walikota, hanya saja temboknya terbuat dari tumpukan semen yang belum pernah mereka lihat di Oakland. Warnanya pun bukan hanya putih atau abu, melainkan biru muda yang indah. Kaca kehitaman turut menghiasi bangunan tersebut. Mengilat tersirami cahaya mentari yang sedikit menyilaukan mata.
Aster serta semua temannya hampir lupa bahwa mereka sedang menjadi tawanan dari entah siapa. Namun keindahan bangunan tersebut membuat semua kecemasan hilang seketika. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kemegahan ruangan yang ada di dalamnya. Sepertinya mereka sudah tidak sabar ingin segera masuk ke dalam sana.
Aster memperhatikan sekitar, keadaan kini menjadi lebih ramai dibandingkan dengan tadi. Mereka sudah berjalan ke bagian kota yang lebih dalam, meski letaknya tidak terlalu jauh dari pantai.
Rumah-rumah bertembok kusam masih banyak ditemui di sepanjang jalan. Hanya saja, kali ini lebih terlihat hidup karena si penghuni berlalu-lalang di sekitarnya.
Meski berharap persinggahan mereka selanjutnya adalah gedung megah tadi, sungguh disayangkan saat mengetahui bahwa tujuan kali ini bukanlah bangunan tersebut. Mereka diperintahkan berbelok ke arah sebuah bangunan kayu yang sudah sangat lapuk, bahkan khawatir tak lama lagi akan runtuh. Mungkin itu adalah penjara yang diperuntukkan bagi mereka, pikir Aster.
Semakin mendekati bangunan tersebut, semakin banyak pula orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Semua berpakaian hampir seragam. Memakai jas berwarna putih seperti para perawat yang pernah Aster lihat di klinik. Kebanyakan dari mereka membawa berkas-berkas yang kelihatannya penting. Dan semua orang itu memandanginya dengan tatapan aneh yang tidak mengenakkan.
Aster memperhatikan satu-persatu orang yang berpapasan dengannya di jalan. Dia semakin yakin bahwa mereka semua adalah seorang peneliti. Entah apa yang sedang mereka teliti, yang pasti dia dan teman-temannya mungkin akan segera bergabung ke dalamnya.
Selain itu, ada satu hal aneh yang muncul dalam benak Aster. Entah kenapa dia belum pernah mendapati keberadaan anak kecil di tempat tersebut. Semua yang terlihat hanyalah orang-orang dewasa, bahkan hanya beberapa yang berumur sekitar dua puluh tahunan. Dan tentu saja, mereka pun mengenakan setelan berwarna sama.
Dari sekian banyak orang berpakaian putih, ada beberapa yang berpakaian santai. Sebuah kemeja dan celana bahan. Aster dapat melihat orang yang berpakaian seperti itu dari kejauhan. Dua orang lelaki muda yang sebentar lagi akan berpapasan dengannya. Mungkin berumur sekitar dua puluh tahunan. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu sembari berjalan.
Tanpa sadar Aster terus memperhatikan sosok dua lelaki yang semakin lama semakin berdekatan dengannya itu. Suara seorang yang berambut cokelat mulai terdengar sayup-sayup. Aster tidak bisa terlalu jelas melihat wajah lelaki berambut pirang satunya yang sedari tadi tertunduk. Tampaknya dia menahan kesal karena temannya terus-menerus berbicara.
“Bodoh, memang bodoh,” lelaki rambut cokelat tertawa seorang diri. “Kamu harus melihat wajah paniknya saat itu. Bahkan aku susah payah untuk menahan tawa. Memang tidak bisa menyangka kalau dia akan melakukan itu. Aku yakin kamu tidak mungkin berbuat seperti itu kan, Chris?”
Entah kenapa Aster sedikit bereaksi mendengar nama Chris disebut. Tanpa sadar si lelaki pirang yang tampaknya pemilik dari nama tersebut menoleh, matanya bertemu pandang dengan mata Aster. Warna hijau jernih terpantul jelas dari kedua bola mata itu. “Ibu...”
“Ada apa, Aster?” Tony mendengar gumaman gadis di sebelahnya itu, yang kini sedang membalikkan badan.
“Chris!” teriak Aster tiba-tiba. Dia berusaha berlari ke arah lelaki berambut pirang yang kini berhenti tak jauh darinya. Namun dua orang penjaga mencengkram lengannya sembari menyeret tubuhnya agar kembali ke barisan. “Chris! Chris!” Aster tidak henti berteriak-teriak. Semua orang yang sedang berjalan di sekitar turut berhenti dan memandangi gadis histeris tersebut.
“Kamu mengenal perempuan itu?”
“Tidak. Melihatnya pun aku tidak pernah.”
“Bagaimana bisa dia tahu namamu?”
“Entahlah. Ayo kita pergi!”
Melihat sosok yang dipanggilnya itu kembali berjalan menjauh, Aster semakin berteriak kencang. “Chris! Chrystal!”
Meski tubuhnya semakin berjalan menjauh, namun si lelaki berambut pirang merasa jantungnya seakan mendobrak dari dalam tubuh. Dia merasakan reaksi spontan saat mendengar nama Chrystal disebut.
“Apa katanya? Kenapa dia memanggilmu dengan nama konyol seperti itu?” ujar lelaki satunya sembari tertawa.
“Dia pasti sudah gila. Cepat, kita hanya membuang-buang waktu di sini, Will!”
‘Brug,’ tubuh Aster terbanting ke atas tanah yang kasar. Si orang bersenjata sepertinya sudah mulai kesal kepadanya. Aster merasakan perih pada lengannya yang tergores bebatuan.
“Hei! Bisakah kalian tidak bertindak kasar?!” Tony bergegas membantu Aster berdiri.
“Ajari temanmu itu bagaimana caranya taat pada perintah!”
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Natasha.
“Tidak apa-apa. Hanya tergores sedikit.”
“Kamu memang selalu mengejutkanku.”
Langkah semua orang terhenti seketika. Siapa yang tidak terkejut di saat sang ketua mendadak histeris karena sesuatu? Meski ekspresi pada wajahnya selalu mudah ditebak, namun untuk memprediksi tindak-tanduk Aster bukanlah hal mudah. Dia tidak pernah gagal membuat semua temannya terkejut.
“Siapa lelaki yang kamu panggil Chris itu?” tanya Ethan yang berjalan di depan Tony.
Aster sibuk mengusap lengan kirinya yang penuh goresan tipis dan tanah. “Dia adikku.”
“Apa? Bagaimana kamu bisa tahu?” Berkat Aster yang selalu bercerita, Ethan banyak tahu mengenai keluarga gadis tersebut. Dia tahu Aster belum pernah bertemu dengan adiknya sekali pun. Sama halnya dengan ayahnya sendiri.
“Entahlah, Ethan. Aku tiba-tiba yakin bahwa orang itu adalah adikku.”
Aster percaya benar bahwa hubungan darah merupakan sebuah ikatan yang tak terelakkan. Seakan dia bisa merasakan semua di dalam dirinya, bahwa lelaki yang baru saja mengabaikannya itu adalah adik kandungnya sendiri.