"Amera ...!" Amera yang akan masuk ke dalam mobil lantas menoleh, menatap aneh ke arah bibinya. "Tunggu sebentar!" Citra menghela nafas panjang setelah bisa berhadapan dengan keponakannya. "Ada apa, Bi?" tanya Amera menatap datar ke arah bibinya. "Kenapa kamu harus pindah? Si sini ada kamar kosong yang sengaja kami siapkan untukmu," ucap Citra. Amera tersenyum tipis penuh makna. "Terima kasih sudah mau menampungku, Bi. Tapi, setelah aku pikir dan rembukan dengan mama, aku lebih baik tinggal sendiri agar tak merepotkan kalian lagi." "Tapi, Amera—" "Tidak, Bi. Keputusanku sudah bulat. Dan untuk masalah apa pun mengenai peninggalan orang tuaku, aku tak menyimpan semua dokumen kepemilikan karena semua di pegang paman," ucap Amera mampu membuat Citra diam tak bisa menjawab. Tatapan Citr

