Senja kemudian mengambil duduk di sebelah Langit yang masih senantiasa untuk rebahan. Bahkan Langit tadi hanya mengintip melalui ujung matanya tanpa niat untuk melihat lebih jelas. "Maaf udah hancurin lo tadi," tutur Senja. Langit masih bergeming, setia dalam diamnya. Sekarang juga Langit sedang memejamkan matanya dengan cukup erat. Kedua senja itu tidak lagi ingin dia saksikan sekarang. Helaan napas kasar Senja keluarkan. Gadis itu menatap Langit yang terpejam. Di detik berikutnya, Senja sedikit maju untuk menjangkau kaki Langit. Dia lihat pada sebuah engkel yang membiru. Senja menyentuhnya membuat sebuah ringisan terdengar. "Maaf sekali lagi, tapi kalau gue nggak lancang, memangnya lo mau nggak bisa jalan?" Masih dengan satu mata Langit melihat Senja. Masih belum ada kata yang

