53. Flashback

1895 Kata

Langit masih bengong tidak melakukan respon apapun terhadap tangan Ayah yang mengulurkan sapu tangan kepadanya. Langit hanya melihat sapu tangan itu dengan bingung. Darah? Darah apa memang? Melihat tanya yang begitu jelas di wajah Langit, Ayah lantas sedikit menghela napasnya. Tangan Ayah yang tadinya terulur sekarang sudah bergerak dan berhenti di hidung Langit, Ayah mengusap bagian bawah hidung tersebut. Setelah selesai, Ayah langsung menunjukkan hasilnya kepada Langit. Sapu tangan krem itu sekarang sudah memiliki bercak merah yang sangat pekat. "Kenapa Bang? Capek atau banyak pikiran?" Tidak niat menjawab, Langit terlebih dahulu meraba hidunya dan cairan itu masih saja terus keluar. Entah sejak kapan, yang pasti Langit benar-benar sangat tidak sadar. Melihat putranya yang kewalaha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN