Dengan gerakan pelan Senja memutar handle pintu kamar inap Langit. Senyum Senja mengembang, tapi tak bertahan lama ketika dia harus melihat kondisi Langit yang begitu memprihatinkan. Perlahan Senja masuk setelah kembali menutup pintu. Kakinya bergetar takut. Seiring langkah Senja mendekat, suara mesin EKG terdengar semakin jelas. Ditatapnya dalam diam seorang laki-laki yang kini tengah terbaring lemah dengan berbagai macam alat rumah sakit yang membantunya agar tetap hidup. Sebuah selang terlihat mencengkal mulut cowok itu. Wajahnya terlihat damai dan tenang, tapi begitu pucat dengan banyak luka dan lebam yang menghiasinya. Senja kemudian menarik kursi untuk duduk di sebelah tempat Langit tidur. Senja mengangkat senyumnya sambil meraih tangan Langit yang terbebas dari jarum infus. "Din

