Bunda menurunkan ponselnya dengan lesu. Setelah itu Bunda buru-buru masuk kembali ke dalam ruang rawat inap Langit dan melihat Langit yang juga tengah menatapnya, seperti menunggunya untuk memberikan penjelasan atas air mata yang sekarang sudah keluar itu. "Kenapa, Bun?" tanya Langit dengan suara yang sangat pelan. Bunda menggeleng, lalu mengambil duduk tepat di sebelah tempat Langit tidur. Bunda memegang kepalanya yang terasa pusing membuat tangan dingin Langit juga refleks terangkat untuk mengusap punggung tangan milik Bunda. "Siapa tadi yang telfon, Bun?" Langit bertanya lagi. Ditariknya napas dengan rakus oleh Bunda. "Bukan siapa-siapa, kamu gimana? Masih lemas? Minum lagi ya?" Langit menggeleng. "Sky mana?" "Kenapa dia nggak ada di sini?" "Sky masih di rumah, besok dia ke

