“Ma. Hiks!” Ayesha menangis saat mamanya terus menatap penuh amarah. Dia tahu dia salah, tapi dia tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Ayesha merasa tidak dihargai, padahal dia butuh ibu yang mau mendengar ceritanya, bukan yang menuduhnya macam-macam. “Kamu bener-bener kelewatan, Ayesha!” Mama Ayesha berdiri di ruang tengah sambil bertolak pinggang. “Ma. Ayesha bisa jelasin.” “Nggak perlu! Mama terlalu kecewa sama kamu.” Air mata Ayesha kembali turun. Hari ini dia terlalu banyak menangis. Kelegaan selama beberapa jam kembali tertoreh karena tangisannya. “Ma. Kenapa malem-malem teriak-teriak?” Dari arah tangga, Afisha memperhatikan Ayesha dan mamanya itu. Seketika Afisha mendekat, merasa Ayesha telah melakukan kesalahan. “Lo kenapa?” bisiknya. “Kak!” Ayesha beringsut memeluk kaka

