[4] Jangan Ganggu Gue

1982 Kata
Mobil merah itu berhenti beberapa meter dari gerbang sekolah SMA Pancasila. Redo memperhatikan beberapa siswa yang mulai berjalan keluar, tapi tidak satupun yang dia kenal. Semakin lama, siswa yang keluar semakin sedikit dan Redo tidak kunjung melihat Ayesha atau temannya. Mungkin jika seragam SMA Pancasila tidak sama dengan yang dikenakan Ayesha, Redo akan berpikiran dua gadis tadi membohonginya. Terik matahari yang berada di ufuk barat membuat Redo berkali-kali mengusap sisi kanan wajahnya. Dia beberapa kali bergerak tak nyaman tapi tidak sekalipun beranjak dari mobilnya itu. Hingga di saat gerbang sekolah itu sepi, seorang gadis dengan buku tebal keluar sambil bermain ponsel. Tanpa sadar Redo tersenyum saat melihat Ayesha. Cowok itu segera turun dari mobil dan menyeberangi jalanan yang tidak cukup ramai. Saat beberapa langkah dari Ayesha, gadis itu malah berjalan menjauh. Entah gadis itu sudah menyadari kehadirannya atau tidak. “Awas!!” Redo tiba-tiba berteriak saat sebuah motor melintas di depan Ayesha, nyaris menabrak gadis itu. Redo seketika berlari dan menatap pengendara motor yang langsung kabur itu. “Minta maaf dulu, woi!!!” teriaknya yang tentu saja tidak akan mendapatkan respons. Sedangkan Ayesha hanya mampu menunduk sambil memegangi dadanya yang berdetak tidak keruan. Entah bagaimana nasibnya kalau motor tadi menabraknya. “Lo nggak apa-apa?” Redo membungkuk, memperhatikan wajah Ayesha yang pucat pasi. “Nggak apa-apa. Makasih.” Ayesha melanjutkan langkah dengan kepala tertunduk. “Gue jamin lo bakal ketabrak kalau jalan lo kayak gitu!!” Teriakan itu membuat Ayesha langsung menghentikan langkah. Perlahan dia menoleh dan terkejut melihat kehadiran Redo. “Lo ngapain di sini?” Redo melangkah mendekat dan memperhatikan wajah Ayesha yang mulai memerah, tapi masih ada sisa ketakutan di wajah cantik itu. “Emm. Main.” Ayesha tak serta merta percaya. “Lo pasti mau nyelidikin gue, kan?” “Buat apa?” “Terus ngapain ke sini?” Arah pandang Redo tertuju ke sekolah dengan bangunan melebar itu. Gedung itu hanya memiliki dua lantai dengan cat tembok berwarna merah bata. Di bagian depan terdapat dua pohon palem yang Redo tebak di bawahnya adalah tempat parkiran. “Pengen tahu sekolah lo kayak apa.” “Yang jelas nggak sebagus sekolah lo. Tapi siswa di sini unggulan semua.” “Berarti lo pinter dong?” Bukannya menjawab, Ayesha memilih melanjutkan langkah. Dari sudut matanya, dia merasa Redo mengikutinya. Ngapain, sih, nih cowok ngikutin? “Kalau lo pinter gue bakal muji lo,” ucap Redo. “Gue bukan cewek haus pujian.” “Oh, iya lupa. Lo kan cewek sombong.” Seketika Ayesha menghentikan langkah dan mendongak menatap Redo. Apa maunya cowok ini? Tiba-tiba datang menemuinya dan mengobrol tanpa tahu arah. Ayesha cukup tenang setelah kembali dari SMA Graha Buana. Namun, sekarang ketenangannya terusik karena kedatangan Redo. “Terserah lo mau ngatain gue sombong atau enggak!” Ayesha mengedarkan pandang, mencari mobil sopirnya yang tak kunjung nampak itu. Redo berdiri bersisian dengan Ayesha. Cowok itu melirik ke wajah Ayesha, lalu mengedarkan pandang melihat jalanan yang cukup lenggang. “Lo, nggak inget gue?” “Inget. Cowok yang udah ngusir gue dari mobil. Cowok aneh yang nantang matahari. Cowok aneh yang tiba-tiba ngikutin gue.” “Terus apa lagi?” Ayesha menghentakkan kaki kemudian mendongak menatap Redo. “Intinya lo cowok aneh. Pergi sana jangan deketin gue!!” “Berarti lo udah lupa sama gue,” ucap Redo. “Apanya yang lupa?” Redo tidak menjawab, malah bersedekap sambil menatap lurus ke depan. Mungkin topi yang dia kenakan waktu itu membuat Ayesha tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Atau mungkin Ayesha memang sengaja melupakannya. Namun, Redo masih ingat jelas gadis itu menolongnya dari kejaran anak buah mamanya. “Tuh, kan, lo aneh! Mending gue pergi!!” Ayesha hendak berbalik tapi pundaknya langsung dipegang oleh Redo. “Lo mau pulang? Gue bisa anter.” Ayesha melirik tangan besar yang masih bertengger di pundaknya. Refleks dia bergeser hingga tangan itu menjauh dari pundaknya. “Makasih!” Setelah mengucapkan itu Ayesha kembali berjalan menuju gerbang. Penolakan Ayesha yang kesekian kalinya ini membuat Redo tersenyum. Bertambah satu gadis yang menolak kehadirannya. Redo balik badan dan melihat Ayesha berdiri bersandar pintu gerbang yang setengah tertutup. “Beneran nggak mau gue anter. Bentar lagi malem, loh!” ucapnya sambil mendongak. Ayesha melirik sekilas dan tidak memberi respons apapun. Beruntung tidak lama kemudian sopirnya datang. Tanpa menoleh ke arah Redo, Ayesha segera masuk mobil. Meninggalkan Redo yang terus menatap ke arah mobilnya. “Ayesha,” gumam Redo dengan seulas senyum.   ***   Ayesha sampai rumah saat matahari telah tenggelam. Dia bergegas masuk, ingin segera menghilangkan keringat yang menempel. Saat melewati ruang tengah, dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang berkaca mata tebal yang beberapa hari ini menghilang tanpa kabar. “Kakak!! Akhirnya lo inget rumah!!” ucap Ayesha terdengar ceria. “Lebay. Gue jarang pulang karena tugas gue banyak!!” Afisha—kakak Ayesha yang berjarak empat tahun—itu berdiri dan mendekati adiknya. “Lo ke mana aja baru balik sekarang?” Lagi-lagi Ayesha ingat dengan keterlambatannya hari ini. “Apes, deh, kayaknya. Pak Jajang telat jemput. Udah gitu, ya, tadi pagi gue hampir telat,” ungkapnya. Belum lagi ketemu cowok aneh, lanjutnya dalam hati. “Makanya kalau berangkat jangan mepet-mepet!!” Afisha tidak pernah berhenti menasihati adiknya. “Oh, ya, gue punya sesuatu buat lo!” “Apa?” Afisha balik badan dan mengambil buku tebal yang tergeletak di atas meja. Ayesha menerima buku itu tanpa ada raut kebahagiaan sedikitpun. “Buku tentang kedokteran. Jangan lupa baca. Biar setelah lulus nanti lo tinggal milih mau jadi dokter apa,” jawab Afisha. “Atau lo mau jadi dokter hewan kayak cita-cita gue?” “Gue aja nggak berani pegang hewan.” “Kalau pegang anak kecil nggak takut, kan? Ya udah lo jadi dokter anak aja.” “Lihat nanti, deh.” Ayesha mendekap buku itu lalu berjalan menuju kamarnya di lantai dua. “Langsung lo baca, ya, Sha. Itu ngebantu lo banget!!” Ayesha terus berjalan menaiki tangga tanpa menggubris teriakan kakaknya. Dia sangat lelah baru pulang sekolah, tapi kakaknya mengingatkannya untuk terus belajar tentang kedokteran. Kepala Ayesha rasanya mau pecah. Brak!! Sampai di kamar, Ayesha melempar buku itu ke lantai kemudian melepas tasnya dan melemparkannya ke ranjang. Bukannya segera mandi seperti niatan sebelumnya, dia malah berdiri di depan jendela. Angin yang berembus pelan cukup membuat tubuhnya menjadi relaks. Saat sedang berdiri, tanpa sadar Ayesha menunduk melihat tumpukan kayu yang tersisa setengah. Dia ingat dengan cowok bertopi merah yang bersembunyi di rumahnya. Entah cowok itu terlibat masalah apa hingga memilih bersembunyi. Lalu di pikirannya tergambar wajah Redo dengan sorot mata tajam. Ayesha seketika menggeleng barusaha menghapus bayangan itu. “Ngapain, sih, gue kepikiran tuh cowok?” Ayesha bersedekap, selalu emosi sendiri setiap ingat Redo. Dia berharap cukup hari ini dia apes bertemu dengan cowok itu. Besok-besok jangan sampai bertemu cowok aneh itu lagi.   ***   “Mobilmu aman sama, Om.” Redo lega mendengar kalimat itu. Dia baru saja mengadaikan mobilnya. Bisa saja dia membawa mobilnya ke mana saja, tapi itu mempermudah anak buah mamanya untuk mencarinya. Selain itu, Redo tidak ingin memperlihatkan jika dirinya kaya di lingkungan barunya nanti. “Setelah Redo dapat uang, pasti langsung Redo tebus.” Om Khalil menepuk remaja lelaki itu dengan sayang. “Kapanpun. Kalau kamu butuh mobil ini, kamu bisa langsung ke sini.” “Makasih, Om.” Lagi-lagi Redo lega mendengarnya. Om Khalil adalah sahabat Papa Redo. Namun, hubungan keduanya sekarang berjauhan karena Om Khalil selalu menasihati Papa Redo agar tidak terus bekerja. Papa Redo yang keras kepala menganggap Om Khalil terlalu mencampuri urusannya, hingga keduanya saling diam dalam waktu yang cukup lama. “Sekarang rencanamu apa, Do?” tanya Om Khalil. “Nyari kosan yang agak jauh dari sekolah, Om. Anak buah mama pasti nanti nyariin. Males berurusan sama mereka.” Redo sudah terpikir akan memilih tempat kos di mana. Dia yakin, kehidupannya akan lebih baik di sana. “Om nggak bisa nyalahin keputusanmu. Cuma, saran Om luangin waktu buat pulang. Bagaimanapun di tempat itu kamu dibesarkan.” “Meski tanpa rasa sayang.” Om Khalil menepuk pundak Redo beberapa kali. “Om percaya kamu anak kuat. Inget pesan, Om, jangan lampiasin kekecewaanmu ke hal-hal yang nggak bener.” “Iya, Om.” Redo tahu banyak sekali cara untuk melampiaskan rasa kecewanya. Namun, dia tidak ingin terjerumus ke dalam bahaya itu. Bagaimanapun, di sudut hatinya dia ingin sesekali dibanggakan. Meski dia tidak tahu apakah itu akan terwujud atau tidak.   ***   Biasanya Redo akan berangkat dari rumah pukul 06.30 atau lebih parahnya pukuk 06.45. Sekarang, dia ingin mengubah kebiasaan itu. Waktu baru saja menunjukkan pukul enam tapi dia sudah siap berangkat sekolah. Sejak semalam Redo tidur di kosan kecil tapi tetap bersih. Dia memilih kamar sendiri daripada sharing dengan orang yang belum dia kenal. Bukannya apa, Redo kurang nyaman dengan orang-orang baru. Dia juga sudah melunasi biaya kosannya sampai tiga bulan ke depan. Uang dari Om Khalil masih cukup untuk keperluan sehari-hari. Yah, setidaknya kabur kali ini cukup membuatnya tenang sendiri. Brum!! Saat membuka gerbang rumah bertingkat dua itu, Redo mendapati jalan raya mulai padat merayap. Beberapa siswa berseragam pramuka berjalan kaki dengan wajah semringahnya. Redo menoleh ke arah kanan dan melihat siswa SMA Pancasila mulai berdatangan. Kemarin setelah menemui Ayesha, dia tidak sengaja melihat tulisan “terima kos putra”. Tanpa buang waktu Redo memilih kosan itu. Bukan karena ingin mendekati Ayesha, karena kosan itu sangat bersih dan sedikit jauh dari sekolahnya. Selain itu, lingkungan sekitar juga tidak cukup ramai, tidak seperti di sekolahnya. Redo menyeberang jalan dan berjalan menuju halte di depan SMA Pancasila. Waktu masih terlalu pagi, pasti Ayesha belum datang. Wait, kok malah mikirin dia? batinnya. Tidak ingin pikirannya dipenuhi nama gadis itu, Redo memilih mempercepat langkah menuju halte. Ini pertama kalinya Redo berangkat dengan angkutan umum. Sejak kecil dia hanya perlu menyuruh sopirnya, maka dia bisa pergi ke mana saja. Redo duduk di halte yang sepi itu sambil menunggu bus yang lewat. Sambil menunggu, Redo menoleh ke arah sekolah Ayesha. Entah apa yang mendorongnya, dia malah beranjak dan masuk ke sekolah itu. Beruntung dia juga memakai baju pramuka hingga satpam depan tidak curiga dengan kehadirannya. Namun, saat masuk ke dalam, Redo merasa ada beberapa siswa yang mulai memperhatikannya. Bukan Redo namanya kalau tidak bersikap cuek. Dia terus saja berjalan seolah dia hafal lingkungan sekolah ini. Langkah kakinya membawanya menuju lantai dua. Secara keseluruhan bangunan sekolah ini masih kalah bagus dengan sekolahnya. Sekolah ini siswanya tidak banyak, tapi Redo cukup paham kalau siswa sini unggulan semua. “Lo cowok yang kemarin, kan?” Saat melewati sebuah kelas, ada suara seorang gadis yang tidak asing di telinga Redo. Dia menoleh dan melihat gadis berambut panjang tengah menunjuknya. “Lo temennya Ayesha?” tebaknya. “Iya. Ngapain lo ke sini?” Nala bingung kenapa Redo bisa berada di sekolah ini, bahkan berjalan dengan sangat santai. Redo maju selangkah, memperhatikan sebuah kelas yang masih sepi itu hanya Nala seorang. “Ayesha mana?” “Belum dateng. Lima belas menit lagi pasti dateng,” jawab Nala. “Lo ngapain ke sini?” Pikiran Redo bekerja cepat. Tidak mungkin dia menjawab hanya iseng ke sekolah ini. Itu sama saja menunjukkan dia kurang kerjaan. “Gue minta nomor ponselnya Ayesha!” “Ha?” Nala mengerjab. “Buat apa?” “Ya buat telepon. Masa buat nyari wangsit.” “Ya tapi buat apa? Lo suka sama Ayesha?” Redo menatap Nala yang banyak tanya itu. Ditatap serius seperti itu membuat Nala menelan ludah. Iris mata Redo yang berwarna hitam legam terlihat menyeramkan. Belum lagi alis tebal yang hampir menyatu itu. “Iya-iya ini gue kasih!” Nala mencari kontak Ayesha dan memperlihatkan ke Redo. Seketika Redo menyimpan nomor Ayesha. Setelah itu dia balik badan tanpa mengucapkan terima kasih. Nala yang masih ketakutan hanya bisa menggeleng pelan. Setelah beberapa langkah, Redo menoleh ke arah Nala. Gadis itu masih di sana dengan wajah bingung. “Oh, ya salam buat Ayesha!” Nala hanya mampu mengangguk. “Nasib lo sial bener, Sha, ketemu cowok kayak gitu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN