[5] Cowok yang Sama

1868 Kata
Hari ini akan indah Ayesha! Semesta selalu mendukungmu. Sebelum turun dari mobil, Ayesha mensugesti dirinya sendiri. Bisa dibilang kemarin cukup apes, sekarang giliran keberuntungan di pihaknya. Gadis itu mengembuskan napas pelan kemudian turun dari mobil. “Thank you, Kak Afisha,” ucapnya sebelum menutup pintu. “Belajar yang bener. Jangan pacar-pacaran dulu!” “Iya!!” Sebelum kakaknya menasihati lebih lanjut, Ayesha segera berlari menuju sekolah. Langkahnya sangat ringan, seperti tidak ada beban sama sekali. Sampai di kelasnya, dia melihat Nala sedang bermain ponsel. “Hari ini nggak ada PR, kan? Kok lo dateng pagi?” tanya Ayesha. Nala seketika mendongak dan menatap Ayesha penuh rasa bersalah. Ayesha yang mendapat tatapan seperti itu mulai kebingungan. “Lo ngilangin buku catetan gue, La?” tebaknya. “Enggak.” “Lo nggak bawa buku paket gue?” “Enggak.” Ayesha terdiam sejenak. Jika, bukan buku catatan lalu apa yang membuat Nala seperti itu? “Atau, lo lupa bikin materi workshop kemarin?” “Udah gue buat kok,” jawab Nala dengan seulas senyum. Meski selanjutnya dia kembali murung. “Terus kenapa?” Ayesha duduk di samping Nala dengan penasaran. “Lo belum dapet vitamin C?” “Nggak juga.” Lama-lama Ayesha sebal sendiri karena Nala hanya menjawab singkat-singkat. “Serah lo, deh. Capek gue.” Nala memeluk Ayesha dari samping kemudian mulai merengek. “Gue kasih nomor lo ke Redo. Sorry, tapi gue takut sama tatapannya.” Mendengar nama Redo disebut, tubuh Ayesha seketika kaku. Ketenangan yang sejak tadi berada di pihaknya, entah sekarang berada di mana. Harapannya untuk mendapat keberuntungan, sekarang entah pergi ke mana. “Redo?” tanya Ayesha sambil melepas pelukan sahabatnya. “Kok lo bisa ketemu dia?” Nala menepuk keningnya beberapa kali. “Mungkin kali ini gue yang apes. Nggak seharusnya gue berangkat pagi dan bikin gue ketemu Redo! Sial-sial!!” “Lo ketemu Redo di mana?” “Dia tadi ke sini. Nyariin lo.” Bola mata Ayesha membulat. Gila, cowok itu benar-benar nekat. Apa tidak cukup peringatan Ayesha kemarin? “Kok bisa dia ke sini? Kok bisa dia tahu kelas kita?” “Nah, itu gue nggak tahu. Dia jalan santai gitu keliling kelas. Sampai akhirnya dia lewat kelas ini. Begonya gue malah tanya dia, harusnya gue ngumpet aja.” Ayesha memijit pelipisnya. Fix, hidupnya sekarang tidak aman. Redo yang bukan anak sekolah sini saja bisa nekat masuk. Tidak menutup kemungkinan cowok itu melakukan hal-hal nekat lainnya. “Terus lo ngasih nomor gue?” tanya Ayesha dengan wajah sendu. “Iya. Sorry.” Nala menyatukan kedua tangannya di depan d**a. “Lo tahu, kan tatapannya itu nyeremin?” “Iya-iya gue tahu. Tapi lo secepet itu ngasih nomor ponsel gue? Kenapa lo nggak kabur aja?” “Gimana mau kabur, dia berdiri di depan pintu. Sha, jangan marah, ya.” Masih pagi, Ayesha sudah pusing sendiri. Dia ingin menyalahkan Nala karena memberi nomor ponselnya ke sembarang orang. Namun, dia juga kasihan ke Nala. Orang yang harusnya disalahkan adalah Redo. “Bener-bener, ya, tuh cowok!!” geram Ayesha. “Kalau ada telepon atau chat, jangan lo gubris. Takutnya itu Redo.” “Ya. Gue bakal hati-hati.” Nala menatap Ayesha kasihan. Sejak kelas satu tidak ada cowok yang berani mendekati Ayesha. Sahabatnya itu terlihat serius dan cuek terhadap semua cowok. Hanya Redo yang mendekati Ayesha terang-terangan. Namun sayang, tatapan cowok itu cukup membuat ketakutan.   ***   Tet!! Redo sudah berangkat cukup pagi, tapi masih saja telat. Bagaimana tidak, bus yang tadi dia tumpangi melewati jalan memutar. Belum lagi Redo harus berjalan kaki untuk mencapai sekolahnya. Namun, kesekian kalinya telat tidak membuat Redo panik. Justru dia berjalan santai seperti biasa. Kelas Redo berada di lantai tiga, berada di deretan sebelah kiri. Bukannya memilih lajur ke kiri, dia milih berjalan ke arah kanan melewati kelas IPA. Sudah menjadi rahasia umum Redo memilih kelas itu, karena bisa melewati kelas Auryn. Syukur-syukur kalau gadis itu ada di depan kelas dan bisa mengobrol sebentar. Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak ke Redo. Dari kejauhan melihat gadis berbando pink sedang duduk di depan kelas. Redo mempercepat langkah kemudian duduk di samping Auryn. “Hai.” “Hai, Do.” Redo memperhatikan Auryn yang semakin cantik itu. Wajah gadis itu terlihat putih bersih. Pipi Auryn juga sedikit tembam sekarang, tidak tirus lagi seperti awal bertemu. “Nggak masuk ke kelas?” tanya Redo. “Bentar lagi,” jawab Auryn sambil menoleh ke belakang. “Kalau gurunya udah dateng baru masuk.” “Oh.” Arah pandang Redo tertuju ke kelas seberang yang mulai sepi, deretan kelas bahasa. Dia lalu menoleh ke arah kiri dan melihat beberapa teman di kelasnya masih di depan. Redo kemudian melirik ke Auryn, melihat gadis itu hanya menekan-nekan layar ponsel. “Lo ada masalah?” “Apa?” Auryn seketika mendongak menatap Redo. “Enggak kok. Gue baik-baik aja.” “Meski hubungan kita cuma bentar, gue cukup kenal lo. Seorang Auryn nggak mungkin sebingung ini.” Redo kemudian melongok ke arah kelas Auryn. Di deretan depan, Virgo sedang menatap ke arahnya sebelum cowok itu membuang pandangan. “Lagi marahan sama Virgo?” “Ahh.. eng.. enggak. Lo ngomong apa, sih?” “Udah ngaku aja. Dia dari tadi ngelihat jendela terus.” Redo bisa melihat Auryn tersenyum kecil. Ada sebagian diri Redo yang bahagia melihat Auryn telah menemukan kebahagiaan lain. Tapi, dia tidak bisa memungkiri jika dia sakit hati. “Kapan gue ketemu cewek yang kayak lo, Ryn,” ucapnya sambil setengah melamun. Auryn memperhatikan Redo, cowok itu terlihat terlarut dengan pikirannya sendiri. Jika, ingat masa itu, Auryn merasa jahat karena melukai Redo. Dia menepuk pundak Redo memberi semangat. “Lo pasti ketemu cewek yang bisa sayangi lo. Percaya sama gue.” “Semoga ya, Ryn,” ucap Redo dengan senyum tulus. “Gue masuk dulu, ya. Lo buruan deh ke kelas.” Setelah mengucapkan itu Auryn masuk ke kelas meninggalkan Redo yang duduk termangu. Kadang Redo ragu, apakah ada orang yang perhatian kepadanya? Orangtuanya saja tidak memberikan kasih sayang itu, bagaimana mau orang lain. Sebelum pikiran Redo ke mana-mana, dia segera beranjak menuju ke kelas 12 IPS 3.   ***   Drrt!! Getar ponsel itu mulai terasa. Ayesha memejamkan mata dengan jantung berdegup kencang. Baru kali ini dia sangat deg-degan mendapati ponselnya bergetar. Ini semua karena Redo. Drtt!! Getar itu kembali terasa. Ayesha merogoh sakunya dan melihat chat dari ekskul seni. Menyadari hal itu Ayesha mengembuskan napas lega. Sampai-sampai Nala menoleh karena tindakannya itu. “Kenapa, sih?” bisik Nala. “Gara-gara lo, gue takut tiap ponsel gue getar.” “Takut dari Redo?” “Iyalah!” Ayesha menatap papan tulis dan melanjutkan materi kimia. “Ya, sorry, Sha. Gue kepepet.” Ayesha memilih tidak menjawab daripada menimbulkan perdebatan. Nala yang masih merasa bersalah memilih diam. Intinya gara-gara Redo dua orang yang akrab itu sedikit menjauh. Drtt!! Ponsel Ayesha kembali bergetar. Dia mengeser layar ponselnya tanpa mengalihkan pandangan dari papan tulis. Setelah itu Ayesha menunduk dan melihat chat dari nomor baru. 0812908888xx: Hai, Ayesha Salsa Parulina. Jantung Ayesha mencelos. Tidak salah lagi, ini pasti nomor Redo. Hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama lengkap. Ayesha menarik lengan Nala sambil terus menatap chat itu. “Apa, sih?” Nala yang sedang berkonsentrasi membaca materi langsung menoleh ke arah Ayesha. “Ini nomor, tuh, cowok bukan?” Nala seketika merebut ponsel Ayesha dan membaca chat itu. Dia kemudian membuka profile picture milik Redo. Terlihat seorang cowok sedang melempar bola ke ring. “Fotonya dari belakang, cuma dari posturnya ini beneran Redo.” Ayesha merebut ponselnya dan menatap foto Redo dengan saksama. Rambut cowok itu cukup lebat hingga melebihi kerah. “Duh, ngapain, sih, dia ganggu gue!” Tanpa membalas pesan itu, Ayesha menekan tombol home dan memasukkan ponsel di saku kemejanya. “Kayaknya dia beneran, deh, suka sama lo,” bisik Nala. “Nggak mungkin. Baru juga ketemu.” “Namanya suka nggak bisa ditebak. Tapi nasib lo gini banget. Dapet cowok ganteng, tapi auranya nyeremin.” Tidak ada tanggapan dari Ayesha. Dia berusaha fokus dengan pelajaran kali ini. Meski motif Redo mendekatinya terus mengusik hatinya.   ***   Setiap hari jumat Ayesha selalu pulang telat. Dia harus mengikuti ekskul seni yang sudah dia ikuti sejak kelas sepuluh. Melalui ekskul ini, Ayesha yang cenderung kaku jadi memiliki banyak teman. Selain itu ini pelampiasan dari rasa jenuhnya. “Sha. Dari sini makan dulu, yuk.” Ayesha tersenyum ke Aidan siswa bahasa yang sejak awal ekskul dekat dengannya itu. “Gue langsung pulang kayaknya. Sorry.” “Dari kelas sepuluh ajakkan gue selalu lo tolak, Sha.” Aidan kecewa mendengar penolakan Ayesha yang kesekian kalinya itu. “Lo izin ke orangtua Ayesha, pasti bisa keluar sama dia,” ucap Nala menimpali. Ayesha tidak bodoh, dia tahu Aidan memiliki perasaan untuknya. Namun, Ayesha belum boleh pacaran. Dia dituntut untuk fokus sekolah dan persiapan untuk masuk ke universitas kedokteran. “Kalau nggak boleh pergi berdua. Bertiga sama Nala, deh,” ajak Aidan tak menyerah. “Nah, kalau lo yang traktir gue bisa!” Nala tersenyum lebar, berbeda dengan Aidan yang mendengus pelan. “Tapi kalau bayar sendiri-sendiri gue nggak mau. Duit gue habis.” Saat tidak ada tanggapan dari Ayesha, Aidan menambahkan. “Oke, deh, sama Nala. Gue yang traktir.” Nala menyenggol pundak Ayesha. “Gimana? Bentaran doang. Di kafe ujung gimana?” “Huh....” Ayesha mengembuskan napas. Setiap hari jumat di rumahnya selalu ada makan malam bersama keluarga. Dia tidak bisa absen begitu saja, karena di kesempatan itu dia bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya. Setelah berhari-hari papa dan mamanya sibuk dengan pasien masing-masing. “Cuma minum aja, ya. Gue harus makan di rumah,” putusnya. “Oke, Sha!” Wajah Aidan berubah semringah. Akhirnya setelah sekian lama bisa keluar bersama Ayesha. Sedangkan Nala geleng-geleng melihat ekspresi Aidan yang seperti mendapat penghargaan itu. “Jangan lupa traktir gue, Dan.”   ***   Sesuai rencana, Ayesha, Nala dan Aidan ke kafe di ujung jalan sekolah. Mereka memilih duduk di teras sambil menatap jalanan yang mulai lenggang. Di hadapan mereka telah tersedia cappucino dan donat sebagai pendamping. “Oh, ya, akhir-akhir ini lo ngelukis apa, Sha?” tanya Aidan penasaran. “Nggak ngelukis apa-apa.” “Kalau gue ngelukis ini.” Aidan menunjukkan foto lukisannya ke Ayesha. Sebuah siluet seorang gadis sedang melukis. Ayesha tidak perlu bertanya lebih lanjut, karena di bagian bawah lukisan itu tertulis namanya. “Bagus.” “Lo mau nggak? Kalau mau besok gue bawain.” “Itu, kan, lukisan lo. Lo simpen aja.” Setelah mengucapkan itu Ayesha membuang pandangan. Rasa canggung itu tiba-tiba terasa. Dia tidak enak terus-terusan menolak Aidan, tapi jika menangkap umpan cowok itu, sama saja dia semakin melukai. “Wah, ada yang berantem, tuh!!” Tiba-tiba Nala menyeletuk. Ayesha seketika menoleh dan melihat seorang cowok sedang bertengkar dengan dua orang berbadan besar. Salah satunya seperti tidak asing bagi Ayesha, pria berambut keriting dengan kalung rantai. Seketika Ayesha ingat dengan cowok bertopi merah yang pernah bersembunyi di halaman rumahnya. Seketika Ayesha berdiri dan berjalan ke pinggir trotoar. Dia melihat cowok itu terus menghindari pukulan dari pria berbadan besar itu. “Berhenti, woi!!” teriak Ayesha tapi tidak digubris. “Woi!!” teriaknya lebih kencang. Cowok berseragam itu menoleh lalu tersenyum ke arah Ayesha. Sedangkan Ayesha terpenjat menyadari siapa cowok itu. Nggak mungkin!! batin Ayesha sambil berjalan mundur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN