Pukul lima sore, Redo baru keluar dari ruang guru. Dia baru selesai mengerjakan soal ekonomi yang berjumlah lima belas itu. Sebenarnya tidak sulit karena dia pandai menghitung, hanya saja Bu Tia yang terus menasihati tiada henti membuat konsentrasi Redo buyar. Yah, setidaknya dia lega telah terbebas dari ocehan Bu Tia. Redo berjalan santai menuju halaman dan melihat gerbang sekolah telah tertutup setengah. Dari kejauhan dia melihat motor jadul itu hendak keluar gerbang. Seketika Redo berlari mengetahui siapa pengemudi motor itu. “Wiska!!” Akhirnya Redo berhasil mengejar motor jadul itu. Dia langsung duduk di jok belakang dan menepuk pundak Wiska. “Nebeng, dong!” Wiska menoleh kemudian memukul lutut Redo. “Mobil lo mana?” “Udah gue bilang, gue males bawa mobil.” “Males bawa tapi nyusa

