[23] Nilai Buruk

1878 Kata

Lampu ruang tamu hingga ruang tengah telah padam, menandakan hari memang telah larut malam. Ayesha berjalan mengendap sambil menenteng sepatu di tangan kiri. Dia tidak ingin ketahuan orang rumah jika baru pulang pukul setengah sebelas malam. Setelah melewati ruang tengah, Ayesha mengusap dadanya naik turun. Keringat sebiji jagung mulai keluar membasahi hidung mancungnya. Barulah setelah dia merasa tenang, gadis itu melangkah menaiki tangga. Satu persatu anak tangga telah dia lewati hingga dia menginjakkan kaki di lantai dua. “Haduh lega!” Ayesha seketika berjongkok, mengistirahat kakinya yang terasa lemas. Cekrek!! Suara engsel pintu itu membuat Ayesha langsung berdiri. Dia hendak bersembunyi tapi suara serak itu lebih dulu terdengar. “Lo ngapain malem-malem di situ?” Ayesha memperha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN