[24] Dipandang Sebelah Mata

1956 Kata

“Mbak Sari, buatin teh hangat, ya. Agak manis.” “Siap, Mbak Ayesha.” Ayesha menaiki tangga dengan tubuh yang terasa lemas. Setelah pulang sekolah, rasa pusingnya semakin menjadi. Bahkan, kini pundaknya terasa begitu pegal. Brak! Pintu bercat putih itu terbuka, lalu Ayesha masuk dengan bahu terkuai lemas. Dia meletakkan tasnya begitu saja kemudian berbaring di ranjang. Tiba-tiba ada bau maskulin yang masuk ke indera penciumannya. Ayesha menggapai benda itu dan mendekapnya, jaket merah milik Redo. “Mbak Ayesha ini tehnya.” Perlahan Ayesha bangkit dan menerima cangkir berwarna putih itu. Dia lalu mendapati Mbak Sari menatapnya intens. “Kenapa?” “Kok Mbak Ayesha pucet? Mbak sakit?” Ayesha mengangkat bahu pelan. “Pusing sama ngerasa capek banget.” “Mau ke dokter? Atau Mbak Sari telepon

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN