[11] Jalan-Jalan

1952 Kata
Lima menit lagi jam pelajaran berakhir tapi Ayesha merasa waktu berjalan lama. Dia bertopang dagu sambil menatap papan tulis. Dalam hati dia berharap bel segera berbunyi. “PR halaman lima puluh. Dikerjakan dengan teman sebangku!” Kalimat itu membuat Ayesha menoleh. Dia memberenggut menatap Nala. “Gue bentar lagi pergi. Gimana dong?” Nala menjentikkan jari. “Tenang. Biar gue yang ngerjain!” “Lo bisa?” Tet!!! Bel sekolah berbunyi. Senyum Ayesha seketika mengembang. Dia bergegas memasukkan buku ke dalam tas kemudian mencangklongnya ke punggung. “Lo coba kerjain dulu. Nanti gue bantu! Bye!!” Ayesha kemudian berlari keluar kelas. Beruntung dia satu kelompok dengan Nala, jika tidak mungkin dia harus membatalkan janjinya dengan Redo. Sampai di gerbang depan, Ayesha celingukan. Dia tahu Redo pulang sekolah lebih telat. Gadis itu bersandar di tembok gerbang sambil menunggu kedatangan Redo. “Sttt!!” Desisan itu membuat Ayesha menoleh. Dia melihat cowok berseragam krem berdiri di ujung bangunan sekolah. Ayesha kemudian tersenyum dan melangkah ke arah Redo. Tapi baru tiga langkah dia dikejutkan dengan suara klakson. Tin!! Ayesha menoleh dan melihat seorang siswa tengah mengendarai motor keluar dari gerbang. Dia menangkup kedua tangan kemudian berjalan cepat menuju Redo. Lagi-lagi dia hampir ditabrak karena kecerobohannya. “Lo ceroboh banget, sih! Nggak kenapa-napa, kan?” Redo memperhatikan tubuh Ayesha. Jantungnya hampir mencelos melihat Ayesha hampir tertabrak tadi. “Nggak apa-apa kok!” jawab Ayesha meski jantungnya masih berdegup kencang. “Kok lo udah balik?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Redo tersenyum miring. “Gue kabur dari sekolah.” Ayesha melotot. “Lo nekat banget, sih? Kalau kena skors gimana?” Bukannya menjawab, Redo justru memutar tubuh Ayesha. Cowok itu kemudian mendorong Ayesha berjalan lebih dulu. “Gue udah pernah kena skors. Jadi B aja.” Kalimat itu membuat Ayesha langsung menoleh. Dia memperhatikan Redo yang terlihat santai menceritakan kenakalannya itu. “Kok lo bisa santai gitu, sih?” “Kenapa emang? Kenyatannya gue kayak gini,” jawab Redo sambil berjalan lebih dulu. Baru beberapa langkah, dia langsung berbalik menatap Ayesha. “Lo nggak ada niat menghindar lagi, kan?” Ayesha menatap Redo saksama, cowok itu terlihat sendu. Ayesha tahu Redo pasti sudah berpikiran yang tidak-tidak. Dia berjalan mendekat kemudian menepuk pundak Redo. “Enggak kok. Yuk, kita mau ke mana?” Senyum Redo seketika mengembang. Dia berbalik dan melihat Ayesha berjalan menuju halte. Redo berlari kemudian menggandeng Ayesha dan mengajak berlari. “Lo seneng banget, sih, ngajak gue lari-larian kayak gini?” “Karena cuma lo, cewek yang bisa ngimbangi lari gue!” “Gue harus bangga atau enggak, nih?” Ayesha memperhatikan rambut Redo yang bergerak naik turun itu. Dia yakin, rambut Redo pasti sangat lembut. Setelah sampai di ujung jalan, Redo berhenti berlari. Dia menoleh ke kanan dan kiri tanpa tahu tujuan. “Gimana kalau kita jalan-jalan aja?” Ayesha mengangguk. “Boleh. Ke arah sana?” tunjuknya ke arah kiri. Redo menggerakkan tangan meminta Ayesha berjalan lebih dulu. Barulah dia menyejajarkan langkah dengan Ayesha. “Apa yang bikin lo berubah pikiran?” “Apa?” Ayesha menatap Redo, cowok itu sedikit mengernyit karena sinar matahari yang hampir pulang itu. “Tadi pagi lo mau ngehindarin gue. Terus tadi lo telepon gue.” Redo menoleh dan melihat wajah Ayesha yang mengkilat tapi tetap cantik itu. “Gue nggak tahu, ya, Do. Gue selalu takut sama lo,” jawab Ayesha sambil menunduk. “Tapi selama ini lo selalu baik ke gue.” “Makasih.” Redo berjalan lebih dulu kemudian duduk di bangku besi. Dia menepuk sisi sampingnya meminta Ayesha mendekat. Ayesha menurut lalu duduk sambil meluruskan kakinya. “Gue nggak sejahat yang lo kira, Sha.” “Jadi lo jahat?” Redo mengangguk sama sekali tidak merasa dirinya baik. “Sebaik-baiknya manusia pasti ada sisi jahatnya.” “Bener juga, sih...” Ayesha memperhatikan sepatu hitam Redo. Dari logo yang terlihat, jelas itu bukan sepatu sembarangan. Ayesha seketika menatap Redo, kulit cowok itu yang putih mulus. Seberapa banyak rahasia lo, Do? “Lo haus nggak?” Redo mengedarkan pandang dan melihat sebuah neon box sebuah kafe. “Kita beli minum di sana?” Seketika Ayesha menoleh ke arah pandang Redo. “Boleh,” jawabnya sambil berdiri. Mereka berdua berjalan beriringan dengan kepala tertunduk, menghindari sinar matahari yang membuat mata mereka perih. Sesekali Redo melirik Ayesha yang hari ini mengucir setengah rambutnya itu, sedangkan sisa rambutnya dibiarkan tergerai. Redo tersenyum, entahlah sejak mengenal Ayesha cowok itu jadi sering tersenyum.   ***   Setelah membeli minuman, Ayesha dan Redo kembali berjalan. Di tangan mereka terdapat Thai Tea yang tinggal setengah itu. “Lo nggak apa-apa balik telat?” tanya Redo kembali membuka percakapan. “Kalau ada kakak gue, pasti gue diinterogasi!” Jawaban itu menarik perhatian Redo. Dia menatap Ayesha yang berjalan sambil merentangkan satu tangan itu. “Orangtua lo pulang jam berapa?” “Nggak tentu, sih, tergantung pasien mereka.” “Orangtua lo dokter?” tanya Redo memastikan. “Keren, dong!” Ayesha mengangguk dengan senyum mengembang. Dari kecil hingga sekarang, dia bangga memiliki orangtua yang berprofesi sebagai dokter. Namun, selalu ada duka di balik itu semua. “Bokap dokter bedah. Nyokap dokter kandungan,” ceritanya. “Kadang mereka harus ke rumah sakit walau mereka nggak ada jadwal.” Redo manggut-manggut. “Jadi, lo sering ditinggal, ya?” “Ya bisa dibilang gitu!” Ayesha menunduk, tampak ada gurat kesedihan di wajahnya. Secara naluri, Redo menepuk pundak Ayesha menenangkan. “Jangan sedih.” Ayesha menggeleng pelan, kemudian berdiri tegak. “Gue nggak sedih. Cuma, ya, ada sedikit yang kosong gitu. Jadi jarang kumpul sama keluarga.” Kalimat terakhir Ayesha langsung menohok hati Redo. Cowok itu bahkan bisa menghitung dengan jari kapan berkumpul dengan keluarga. Itupun mama dan papanya sering bermain gadget untuk memantau bisnis perhiasan mereka. “Udahlah jangan sedih-sedihan. Sekarang kita ke mana lagi?” tanya Redo. “Terserah. Lo, kan, yang ngajakin gue!” Redo mengedarkan pandang. “Kalau nonton gue takut lo pulang kemaleman.” Cowok kayak gitu lo bilang jahat, Sha? hati Ayesha menjerit. Dia telah salah besar menilai Redo. “Ya udah jalan lagi aja.” “Lo nggak capek jalan terus?” Redo tidak ingin Ayesha kelelahan karena mengikutinya berjalan. “Gue kuat kok.” “Sorry, ya, gue nggak punya kendaraan.” Ayesha melirik dan menemukan jam tangan merk Girrard Perregaux berwarna hitam di pergelangan tangan kiri Redo. Tentu jam itu sangat mahal, tapi herannya Redo bahkan tidak memiliki kendaraan. “Mobil lo yang waktu itu?” tanya Ayesha penasaran. Redo menggaruk tengkuk, lupa pernah bertemu Ayesha saat dia membawa mobil. “Mobil pinjeman kok itu.” “Oh, gue kira mobil lo.” “Lo nggak masalah, kan, kalau gue ajak jalan kaki doang? Atau naik angkutan bukannya mobil mewah?” Ayesha menepuk pundak Redo hingga cowok itu melotot kaget. “Gue bukan cewek gitu kok. Gue juga pernah hidup susah waktu papa sama mama belum jadi dokter tetap.” Tanpa sadar Redo mengembuskan napas lega. Di tengah pelariannya, dia menemukan gadis tulus yang tanpa memandang kekayaannya. “Gue makin kagum sama lo, Sha!” ucapnya. Seketika Ayesha menoleh dan pipinya terasa panas. Dia memilih menutupi itu semua dengan meminum thai tea-nya. Namun sayang, Redo sudah terlanjur melihat pipi merah itu. “Bentar!!” Redo merogoh ponsel dan memfoto Ayesha. “Yah, merah-merahnya nggak kelihatan,” ucapnya setelah melihat hasil bidikannya. Ayesha terdiam, baru kali ini Redo memperlihatkan ponselnya. Bukan sembarang ponsel, kelihatannya IPhone terbaru. “Lo kabur dari rumah, ya?” Tanpa sadar Ayesha menyuarakan isi pikirannya. Seketika Redo tersadar. Dia segera memasukkan ponsel kemudian menunduk memperhatikan penampilannya. “KW semua kok ini,” jawabnya. “Yuk! Pulang!” ajaknya sambil menggenggam tangan Ayesha. Di belakangnya Ayesha menghela napas panjang. Dia melihat Redo barusan sempat panik. “Nggak masalah kok lo nggak cerita kehidupan lo. Sorry, gue tanya kayak gitu.” Mereka sampai pinggir jalan dan Redo langsung mencari taksi online. Sambil menunggu, dia memperhatikan Ayesha. “Suatu saat nanti gue bakal cerita. Gue nggak seburuk yang lo kira kok.” Ayesha mengangguk, kali ini lebih mantap dari sebelumnya. Perlahan dia meremas tangan Redo di genggamannya. “Siapapun lo, gue harap kepribadian lo kayak gini.” Redo mengusap rambut Ayesha dengan lembut. “Makasih lo udah percaya gue.”   ***   Nala: Gimana tadi kencannya? Ada yang mencurigakan lagi? Sehabis mandi, Ayesha mendapat pesan dari Nala. Tanpa sadar dia tersenyum, ingat jalan-jalan sorenya bersama Redo. Memang tidak ada yang spesial, tapi bagi Ayesha jalan-jalan tadi sangat berkesan. Ayesha: Ada, deh. Redo barang-barangnya mewah semua padahal dia anak kos. Ayesha berbaring terlentang menatap sticker bintang yang tertempel di sisi tembok kamarnya. Dia kembali ingat dengan Redo, yakin jika cowok itu bukan dari kalangan biasa. Seketika dia ingat dengan pria berbadan besar yang mengejar Redo. Feeling Ayesha mengatakan Redo kabur dari rumah atau cowok itu merantau di Jakarta. “Tapi kalau ternyata Redo bukan kabur atau apapun?” Ayesha terdiam oleh pertanyaannya sendiri. Drtt!!! Getar ponsel itu membuat Ayesha terduduk. Dia melihat ada dua pesan masuk, dari Nala dan Redo. Nala: Mungkin Redo anak orang kaya, tapi dia merantau. Nyatanya, Nala juga sepemikiran dengan Ayesha. Tanpa membalas pesan itu Ayesha membuka pesan dari Redo. Redo: Tadi dimarahin nggak? Ayesha dengan cepat membalas pesan itu. Ayesha: Enggak kok. “Ayesha!!” Tepat setelah Ayesha mengirim pesan itu, suara mamanya terdengar. Dia langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantal kemudian berlari menuju pintu. “Ya, Ma!” jawabnya sambil membuka pintu. Mama Ayesha melongok, melihat meja belajar Ayesha yang masih rapi itu. “Kamu nggak belajar?” Ayesha menggaruk belakang telinga. “Baru selesai mandi, Ma.” Sontak Mama Ayesha mengangkat tangan kiri, menatap arloji berwarna perak. “Jam delapan baru mandi? Kamu pulang jam berapa?” “Udah tadi kok, Ma. Cuma mandinya baru sekarang,” jawab Ayesha beralasan. Mama Ayesha menatap dengan pandangan menyelidik. “Kamu pulang telat? Pak Jajang bilang kamu nggak mau dijemput.” “Huh...” Ayesha mengembuskan napas pelan. “Iya, Ma. Tadi kerja kelompok dulu sama Nala.” “Kamu, kan, bisa minta Pak Jajang nunggu,” saran Mamanya. “Jangan lupa belajar, Sha!” Mama Ayesha kemudian berjalan ke arah tangga. Setelah kepergian mamanya, Ayesha mengusap d**a. Dia kira akan kena marah, tapi mamanya hanya mengingatkannya untuk belajar. Ayesha menutup pintu kemudian berlari ke ranjang. Mamanya tidak perlu repot-repot menanyakan kesehariannya di sekolah, pesannya selalu sama “jangan lupa belajar.” *** Waktu telah menunjukkan pukul sebelas tapi Redo masih bertukar kabar dengan Ayesha. Cowok itu bersandar di tembok sambil menyelonjorkan kaki. Hawa di kamar sangat panas, meski terdapat kipas angin di bagian pojok. Namun, Redo seolah tidak peduli itu terlalu asyik dengan ponselnya. Redo: Lo udah belajar, kan? Gue nggak mau gara-gara gue nilai lo turun. Ayesha: Udah kok. Jangan lupa belajar, biar naik kelas. Redo: Lulus. Bukan naik kelas Ayesha: Lo udah kelas 12? Redo: Kalau lo percaya gue masih kelas 9. Hahaha. Redo menunggu balasan Ayesha, tapi tidak kunjung muncul. Dia mulai berbaring dan memposisikan ponselnya di samping kepala. Namun, sampai Redo hampir terlelap pesan itu tidak kunjung datang. Dia mengambil benda itu kemudian mengirimkan pesan untuk Ayesha. Redo: Good night Ayesha Salsa Parulina. Redo tersenyum. Entahlah dia suka memanggil Ayesha dengan nama lengkap, terasa lebih spesial. Dia kemudian memejamkan mata, tapi tidak kunjung terlelap. Menyerah, Redo memilih mengambil ponsel dan tidak mendapat chat dari siapapun. Dia kemudian mengambil SIM card di dompetnya, dan menukar dengan SIM card yang terpasang. Pemberitahuan di ponsel itu mulai muncul bebarengan. Namun, perhatian Redo hanya tertuju ke tulisan “Mama” di antara chat lainnya. Akhirnya Redo membuka pesan itu dan kecewa sendiri. Mama: Kalau kamu udah bosen, pulang ke rumah. “Huh....” Redo membuang napas panjang kemudian memilih berbaring. Berhari-hari dia menghilang, mamanya hanya mengirimkan pesan seperti itu. Mungkin urusan bisnis lebih menarik bagi mama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN