[12] Chat

1937 Kata
“Selamat pagi!!” Ayesha bergabung di ruang makan dan langsung duduk di samping Afisha. Gadis berseragam biru dongker itu menatap kursi paling ujung—tempat papanya—yang masih kosong itu. “Papa ke mana?” tanyanya kemudian. “Papa masih tidur.” Mama Ayesha menjawab seraya mengulurkan sepotong beef sandwich ke piring Ayesha. Afisha yang sudah menghabiskan sarapannya, memperhatikan adiknya yang kali ini terlihat ceria itu. “Lo semalem mimpi apa?” Wajahnya terlihat penuh selidik. “Mimpi apa?” Ayesha menoleh dengan kening berkerut. “Lo kayak bahagia banget sekarang.” “Bener, Dek, kamu kelihatan lagi seneng,” timpal mama mereka. Bukannya menjawab, Ayesha malah tersenyum. Dia tidak tahu kenapa pagi ini rasanya membahagiakan. Semalam dia hanya bertukar pesan dengan Redo dan cowok itu mengucapkan selamat malam. Hanya selamat malam tapi Ayesha merasa seperti mendapat lotre. “Ya, kan, nggak salah kelihatan bahagia,” jawab Ayesha setelah jeda cukup lama. Afisha dan Mama Ayesha tidak begitu memedulikan jawaban itu. Afisha berdiri kemudian berpamitan ke mamanya. “Ma, nanti Afisha pulang telat, ya. Ada praktikum.” “Iya. Hati-hati, Fi.” “Bye, Sha!!” Afisha melambaikan tangan kemudian keluar dari dapur. Respons Ayesha hanya menggerakkan tangan lalu menyantap beef sandwich-nya yang tersisa setengah itu. Dari ekor matanya, dia merasa mamanya tengah menatapnya intens. Seketika Ayesha menoleh menatap mamanya penuh tanya. “Kamu punya pacar, Sha?” “Uhuk!!” Seketika Ayesha tersedak roti. Refleks dia mengambil segelas s**u dan menegaknya, tapi tenggorokannya tetap terasa sakit. Dia mengusap leher kemudian menatap mamanya takut-takut. “Kok mama tanya gitu?” Mama Ayesha menyatukan kedua tangan di bawah dagu, sambil terus menatap anaknya. “Kamu jarang, loh, pagi-pagi kelihatan sebahagia ini,” jawabnya. “Ya mama seneng lihat kamu ceria, tapi ngerasa ada yang aneh.” “Memang Ayesha salah?” tanya Ayesha tidak mengerti. “Memang mama nggak mau Ayesha bahagia?” “Mau, Sha. Tapi bukan pacaran!” sela Mama Ayesha cepat. “Sha, masa depanmu masih panjang. Kejar cita-citamu sebelum kamu nyesel. Memang kamu nggak mau kayak Kak Afisha?” “Huh....” Ayesha menghela napas panjang. “Mau, Ma. Ayesha juga nggak pacaran kok.” “Tapi semalem kamu dianter cowok?” Jantung Ayesha berdegup lebih kencang. Bibirnya terbuka dan sorot matanya terlihat kaget. Mama Ayesha tentu tahu arti tatapan itu. “Mbak Sari barusan bilang ke mama.” Sial!! Ayesha tidak tahu jika pembantunya semalam mengintip dan parahnya mengadu ke mama. Sekarang dia harus menyiapkan mental untuk mendengar omelan mamanya. “Kamu bilang kemarin kerja kelompok sama Nala. Mana yang bener?” Mama Ayesha tersenyum melihat mata Ayesha bergerak ke kiri dan ke kanan itu. “Cowok itu cuma temen, Ma!!” “Tapi nggak perlu, kan, sampai nganter kamu pulang? Sudah jadi tanggung jawab Pak Jajang buat antar jemput kamu.” Sepertinya perdebatan ini akan berlangsung lama dan Ayesha tidak siap diinterogasi. Akhirnya dia memilih beranjak dan mencium tangan mamanya. “Ayesha berangkat dulu ya, Ma! Udah telat.” Dia tidak sepenuhnya berbohong, karena jarum jam bergerak begitu cepat. “Jangan macem-macem! Ingat tugasmu hanya belajar!” Ayesha hanya mendengarkan kalimat itu tanpa menjawab. Dia tahu tugasnya sebagai siswa adalah belajar. Namun, apakah dia salah jika bersosialisasi dengan orang lain? Drtt!! Setelah keluar dari rumah, ponsel Ayesha bergetar. Dia memilih masuk mobil, takut ada yang mengintip tindakannya. Setelah duduk di bangku penumpang, barulah dia membaca pesan masuk itu. Aidan: Sha, nanti kumpul bentar ya sepulang sekolah. Hati Ayesha mendadak kecewa. Entahlah dia mengharapkan pesan dari siapa. Ayesha meletakkan ponsel di samping tubuh dengan kasar lalu menatap jendela sambil setengah melamun. Redo dengan cepat masuk ke kehidupan Ayesha dan membuat pikiran gadis itu kacau.   ***   Sampai di sekolah, Ayesha tidak mendapati cowok yang biasanya berdiri di dekat gerbang dan menunggunya itu. Dia mengedarkan pandang tapi tidak menemukan sosok Redo. Dia nggak ke sini? Ayesha memilih berdiri di ujung bangunan sekolah menunggu kedatangan Redo. Namun, sampai bel sekolahnya berbunyi cowok itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Ayesha merasa, mungkin Redo tidak menemuinya. Gadis itu kemudian berjalan pelan menuju gerbang. “Sha!!” Panggilan itu membuat Ayesha seketika menghentikan langkah. Dia menoleh ke arah kiri dan melihat Redo berlari ke arahnya. Ayesha seketika berbalik dan melambaikan tangan. “Gu. Guee. kesiangan!” ucap Redo dengan napas putus-putus. “Pantesan.” “Pantesan apanya?” Redo menatap Ayesha penuh menyelidik. Ayesha menggeleng pelan dengan senyum canggung. Tidak mungkin dia menjawab menunggu chat dan menunggu cowok itu di ujung sekolah. “Ya, udah lo cepet berangkat, deh, sebelum telat.” “Sebenarnya nggak masalah gue telat. Dipulangin juga nggak masalah.” Redo menjawab dengan senyum segaris. Bola mata Ayesha seketika membulat. “Lo udah kelas tiga, nggak takut kalau nggak lulus?” “Bisa lulus bareng lo,” jawab Redo sambil menahan tawa, karena Ayesha terlihat menggeram kesal itu. “Ya sudah masuk sana. Kalau lo yang telat itu bakal jadi masalah.” Seketika Ayesha menoleh dan melihat guru piket mulai menutup pintu dalam. Seketika dia menepuk lengan Redo sebagai salam perpisahan. “Semangat sekolahnya, Sha!!” Redo belum beranjak dari posisinya sebelum Ayesha menghilang dari pandangan. Dia melambaikan tangan saat Ayesha menoleh ke arahnya. Setelah gadis itu berbalik di tikungan, barulah Redo berjalan ke halte dengan setengah berlari. Tumben telat hari ini membuatnya was-was, padahal dia selalu santai.   ***   Jam pelajaran rasanya begitu membosankan bagi Redo. Dia mendengarkan materi untuk persiapan tryout minggu depan. Sambil mendengarkan, dia bertopang dagu dengan pikiran ke mana-mana. Drtt!! Ponsel di saku Redo tiba-tiba bergetar. Dia mendapati chat dari grup kelas. Salah satu teman Redo mengirimkan gambar cowok bertanduk. Ternyata tidak hanya dia yang bosan mendengarkan materi, teman lainnya juga. Dia kemudian tersadar, lupa mengganti SIM card-nya padahal dia penasaran apakah Ayesha membalas pesannya atau tidak. “Redo!!” Seketika Redo memasukkan ponsel ke dalam saku kemudian duduk tegak. Bu Tia mengulurkan spidol dan itu artinya Redo harus mengerjakan soal di depan. Cowok itu seketika berdiri dan menerima spidol itu. “Lanjutkan jawaban nomor lima.” Redo membaca soal perusahaan yang memiliki penghasilan besar dan harus menghitung pajak pertahunnya. Dia menulis deretan angka yang sudah dia hitung di kepala. Setelah itu dia menyerahkan spidol itu ke Bu Tia. “Bagus. Redo sering bantu mamanya hitung pajak pertahun, ya?” Respons Redo hanya senyuman pelan. Boro-boro menghitung pajak, pendapatan orangtuanya selama sebulan saja dia tidak tahu. Beberapa kali Redo berusaha tanya sedang buka cabang di mana, atau apapun tapi mamanya tidak pernah mau menjawab. Yah, tugas Redo hanya di rumah dan diberi uang. Cukup itu saja.   ***   Sepulang sekolah, Ayesha berkumpul bersama anak-anak ekskul seni. Entah apa yang akan dibahas kali ini, padahal bukan jadwalnya ekskul. “Jadi, kedatangan gue ke sini mau infoin sesuatu,” ucap Aidan. Ayesha dan anggota lainnya menatap cowok berkulit sawo matang itu. Sedangkan Aidan terlihat serius menyampaikan materi. “Dua bulan lagi sekolah kita kedatangan tamu dari Bandung. Dari perwakilan ekskul harus ikut nunjukkin karyanya,” kata Aidan. “Anak tari jelas nari. Anak teater nampilin drama. Enaknya kita nunjukin apa? Saran dari Bu Dewi kita bikin mini pameran.” “Bagus, tuh!” timpal Nala. “Tapi apa yang bakal kita tunjukin buat mereka?” Aidan tersenyum, sepertinya sejak tadi sudah menunggu pertanyaan itu. “Lukisan sama karya dari bahan bekas. Gimana?” “Boleh, tuh. Gue sama Nala, kan, pernah ikut workshop manfaatin barang bekas,” jawab Ayesha semangat. “Nah, sekarang kalian tulis rencananya mau bikin karya apa. Nanti gue konsul sama Bu Dewi.” Aidan membagikan kertas ke setiap anggota ekskul. Ayesha seketika terdiam, bingung harus membuat apa. Ingin membuat lukisan, tapi lukisannya kalah jauh dibanding Aidan. Dia kemudian memilih memanfaatkan barang bekas saja. “Nih!” Ayesha mengembalikan kertas itu ke Aidan. “Oke. Gue rasa pertemuan kali ini cukup. Jumat nanti bakal gue infoin lagi saran Bu Dewi gimana.” Ayesha seketika berdiri, kemudian keluar lebih dulu. Tindakan itu membuat Aidan mengernyit bingung. “Ayesha ke mana itu buru-buru?” “Ada, deh!!” Nala sok misterius, membuat Aidan kian penasaran. *** Awalnya Ayesha ingin menunggu Redo seperti hari-hari biasa saat cowok itu menunggunya. Namun, yang dia dapat justru Pak Jajang sudah menunggunya. Ayesha seketika kecewa, padahal dia ingin sedikit ngobrol dengan Redo. “Ayo, Mbak,” kata Pak Jajang sambil membukakan pintu. Terpaksa Ayesha masuk mobil. Dia mengedarkan pandang berharap Redo ada di depan sekolah, tapi cowok itu tidak ada di sana. Ayesha mengembuskan napas berat. Rasanya ada yang aneh karena cowok itu tidak menunggunya. “Ada yang ketinggalan, Mbak?” Ayesha menghadap depan dan baru sadar Pak Jajang sesekali memperhatikannya. Dia duduk bersandar kemudian menggeleng pelan. Selama beberapa menit pikiran Ayesha dipenuhi dengan Redo. Hingga dia berinisiatif untuk menghubungi cowok itu. Ayesha mengeluarkan ponsel kemudian mengirim pesan ke Redo. Ayesha: Hai. Centang satu. Ayesha semakin kecewa. Penasaran, dia membuka chat room-nya dengan nomor Redo yang satunya. Cowok itu sedang online. Seketika Ayesha menegakkan tubuh sangking senangnya. Namun, tiba-tiba keraguan menghampirinya. Apa dia sering pakai nomor ini daripada nomor yang satunya? Drtt!! Ayesha tersentak merasakan ponsel di genggamannya bergetar dan menampilkan pesan dari Redo. Tanpa sadar bibir Ayesha tersungging. Redo: Kamu udah pulang, ya? Ayesha: Iya. Kenapa? Sekitar lima menit cowok itu belum membalas, Ayesha sampai sebal sendiri. Redo: Ketinggalan deh gue. Redo: Harusnya gue tadi nggak ke kosan dulu. Ayesha: Emang lo habis ngapain? Redo: Mandi. Biar wangi ketemu sama lo. Ayesha menahan tawa. Dia penasaran jika sehabis mandi Redo setampan apa. Sadar dengan apa yang dipikirkan Ayesha menepuk kening, kemudian dia kesakitan sendiri. “Aw!!” “Kenapa, Mbak?” Seketika Ayesha mengangkat wajah dan menatap Pak Jajang dari spion tengah. “Enggak!” jawabnya kemudian memilih duduk menepi. Redo: di-read doang, nih? Ayesha: Ini gue bales. Redo: Sayang banget hari ini nggak ketemu lo. Besok boleh ketemu? Ayesha: Boleh.   ***   “Yes!!” Redo berteriak sambil mengangkat satu tangannya ke atas. Hari ini dia cukup ceroboh. Pertama, dia bangun kesiangan hingga tidak bisa mengobrol dengan Ayesha lebih lama. Kedua, dia lupa mengganti SIM-card, benar sih masih bisa menghubungi Ayesha tapi rasanya kurang spesial. Ketiga, harusnya dia tadi tidak memaksakan diri untuk mandi dulu hingga berakibat tidak bertemu dengan Ayesha. Untungnya sekarang dia masih bisa bertukar kabar dengan gadis itu. Redo: Tadi pagi lo nggak bangun kesiangan, kan? Redo berjalan menuju kosan sambil bermain ponsel. Dia terlambat beberapa menit. Saat Saat sampai sekolah, tempat itu sudah sepi. Kekecewaan memang datang paling akhir, jika tahu akan seperti ini Redo memilih langsung menunggu Ayesha setelah pulang sekolah. Drrt... Saat hendak menyeberang, dia dikejutkan dengan pesan balasan dari Ayesha. Dia berhenti sejenak dan membasa pesan itu. Ayesha: Gue tidur nyenyak banget. Thanks “Why?” gumam Redo. Redo: Terima kasih kenapa? Ayesha: Pengen aja. Redo: Ya udah makasih. Redo menahan tawa karena membalas dengan kata terima kasih juga. Dia buru-buru menyeberang kemudian masuk ke halaman kos. Drttt... Ayesha: Ih, ikut-ikutan. Redo: Ya udah, gue nyaman sama lo. Ayesha: Makasih. Redo: Kok makasih? Harusnya bilang gue sayang sama lo. Setelah pesan itu terkirim, Redo tersadar, mungkinkah dia terlalu agresif? Dia membaca chat itu sekali lagi kemudian buru-buru mengoreksi. Redo: Bercanda kok. Brak!! Redo menendang pintu kamar kemudian berbaring di kasur. Dia menunggu pesan balasan dari Ayesha yang tidak kunjung muncul itu. Berkali-kali dia mengecek chat room-nya dengan Ayesha. Lalu memejamkan mata sambil menunggu. Hingga setelah beberapa menit berlalu, pesan itu belum juga dibalas dan Redo tidak sesabar itu untuk menunggu lebih lama. Redo: Sha. Lo marah? Redo menunggu lagi dan berharap chat-nya kali ini segera dibalas. Namun, sampai lima belas menit belum juga ada balasan. Redo mengacak rambutnya frustrasi. Harusnya dia tadi tidak mengatakan itu hingga Ayesha memilih mendiamkannya. Lagi-lagi Redo dibingungkan dengan urusan perempuan. Redo: Ayesha! Sha-Sha! Are you okay?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN