"Bella, pulanglah jika kau merasa tidak enak badan," ujar Mbak Kania mendatangi meja kerjaku. Aku yang sementara mengetik, menghentikan aktivitasku. "Aku baik-baik saja kok Mbak," balasku sambil berusaha tersenyum kepadanya. Aku bisa melihat tatapan cemas dari Mbak Kania, meski begitu dia hanya mengangguk singkat. Seolah mengerti bahwa baik-baik saja yang kukatakan bukanlah arti sebenarnya. Tidak bisa kupungkiri bahwa setelah terakhir kali aku bertemu dengan Defin di parkiran arena seluncur es dan berkomunikasi dengannya pada suatu malam di mana listrik padam, aku selalu merasa gundah, gelisah sekaligus sedih. Mungkin saja Defin mengiyakan ajakanku untuk berpisah darinya pada malam itu. Setelah memikirkannya beberapa ini, aku sempat beranggapan bahwa mungkin inilah yang terbaik. Namun a

