Defin datang sesuai prediksiku. Aku yang masih duduk di kafe sambil menghabiskan minuman cokelat yang mulai mendingin. Diriku juga telah mengirim pesan kepada Mbak Tiara bahwa harus pergi, karena keadaan mendesak. "Apa yang kau lakukan di sini? Dan mana Jemi?" tanya Defin begitu duduk di depanku. "Jemi sudah pergi dan di sini dan tentu saja bermain ice skating," balasku agar ketus. Defin menarik napas panjang. Ia kemudian bangkit dan menarik tanganku. Aku tidak memberontak hanya mengikuti arahannya hingga ke parkiran mobil. "Duduklah," perintah Defin membuka pintu mobil. Aku duduk, namun badanku diputar olehnya menghadap ke samping. Defin kemudian berlutut di hadapanku, membuat diriku terkejut. Perlahan tangannya melepas sepatuku. Dia mengangkat kakiku, lalu memerhatikannya secara sa

