Aku mencoba menyibukkan diriku dengan bekerja. Bahkan jika Mbak Kania tidak memerlukan bantuanku, aku akan menawarkan diri untuk menemaninya menemui klien. Hal ini sudah kulakukan dua minggu, demi mengenyahkan pikiran tentang Defin dan wanita di masa lalunya semenjak pulang dari Singapura. Aku sampai sekarang belum berani membahas hal ini dengan Defin. Perhatian lelaki itu yang selalu menghubungiku setiap hari, menanyakan kabar dan apakah aku sudah makan, membuatku takut bahwa kenyaman yang kurasakan ini akan sirna. Aku yang bahkan kemarin makan siang bersama Defin hanya mencoba bersikap biasa saja dan mengobrol tentang masalah pekerjaan atau kesehariannya. Setiap ada kesempatan untuk bertanya, apakah dia ingin menjalin hubungan denganku karena mengingatkanku akan mantan tunangannya memb

