Mataku terbuka dengan kondisi sembab. Ternyata aku tertidur setelah menangis, diriku beranjak dari atas tempat tidur untuk mengecek jam pada ponsel. Ternyata aku tertidur selama dua jam, sekarang sudah pukul sembilan malam. Aku menghela napas panjang. Mengusap wajahku, lalu membuka pintu. Kulihat Defin sedang berbaring di atas sofa depan televisi. Sebelah tangannya berada di atas kepala, sehingga menutupi matanya. Aku tahu bahwa masalah antara diriku dan dia perlu diselesaikan dengan pembicaraan. Menghindar tentu bukan solusi yang baik. Namun perutku terasa begitu lapar, melihat keadaan apartemen Defin yang mungkin sudah lama tidak ditinggali membuatku memutuskan untuk keluar mencari makan. Aku mengambil tas kecil selempangku. Kemudian melangkah keluar hati-hati dari apartemen. Aku memb

