Napasku seolah terhenti beberapa saat, bersamaan dengan itu debaran jantungku semakin terpacu kala mendengar ijab kabul yang kusaksikan di depan mataku sendiri. Defin menjabat tangan ayahku dan menerimaku sebagai istrinya. Begitu dinyatakan sah, aku menoleh menatapnya yang sudah tersenyum lebar ke arahku. Defin mencium dahiku, lalu berkata. "Akhirnya kau menjadi milikku." Pipiku terasa memanas mendengar ucapannya. Andai saja riasanku tidak tebal, mungkin rona merah pada wajahku akan terlihat jelas. Ijab kabul yang dilaksanakan di rumah Bibi Amira berjalan dengan hikmat. Hanya dihadiri oleh keluargaku juga Defin, karena untuk resepsi sendiri akan digelar malam nanti. "Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, artinya kamu bukan lagi tanggungjawab Ayah," ujar Zafran duduk di sebelahku.
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


