"Apa kau yakin dengan pernikahan ini?" tanyaku menatap Defin. Saat ini kami berdua makan malam untuk pertama kali semenjak aku keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu. Defin mengajak dinner di restoran hotel di mana Natalie bekerja. "Aku sangat yakin. Untuk apa ragu?" balas Defin menoleh menatapku. Jika biasanya kami akan makan dengan posisi saling berhadapan, kini Defin memilih duduk di sebelahku. "Apa ... kita tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan?" Aku memikirkan bahwa bisa saja kami mengatur rencana pernikahan dengan persiapan matang dan tentunya memakan waktu cukup lama. Kulihat Defin menghela napas. "Mungkin memang berat mengurus segalanya dalam minggu ini, tetapi aku yakin kita bisa." "Tapi kita tidak punya alasan untuk segera menikah," balasku mengingat diriku yan

