Aku tahu usiaku telah berada di atas dua puluh lima tahun dan sudah menjadi wanita dewasa yang bebas menggunakan hak dan melaksanalan kewajiban tanpa diwakili oleh orang lain lagi. Tetapi aku tetap saja merasa gelisah, takut dan gugup begitu mobil taksi kini melaju dari bandara menuju rumahku yang ada di Palembang. Defin yang duduk di sebelahku menggenggam tanganku. "Tenanglah, jika orang tuamu akan memukulmu maka aku akan menghalaunya." Aku terkekeh kecil mendengar ucapan lelaki itu. Aku bisa membayangkan keterkejutan bahkan kemarahan Zafran dan Marsia, apabila mengetahui aku sedang berbadan dua padahal belum menikah, tetapi aku tidak berpikir mereka akan menyiksaku secara fisik. Begitu taksi berhenti di depan rumah, aku menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu. Aku telah mengab

