BAB 45 | Dua Garis

1265 Kata

"Aku mendadak ke Bogor setelah teleponmu pagi itu, aku mengunjungi salah satu keluarga yang ada di sana dan wanita itu adalah sepupuku." Ucapan Defin yang menjelaskan keberadaannya di Bogor terus tergiang dalam kepalaku. Meskipun aku merasakan sesuatu yang mengganjal, tetapi persoalanku dengan Mbak Tiara jauh lebih penting. Mbak Tiara masih belum membalas pesan dariku, sehingga kini aku hanya sendiri di rumah Bibi Amira. Namun begitu bangun pagi tadi entah mengapa perutku terasa keram, belum lagi rasa pusing yang kurasakan. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Mbak Kania untuk izin sakit, tidak bisa pergi bekerja. "Halo Mbak," sapaku lewat telepon. "Ya Bella?" suara Mbak Kania terdengar santai dari kejauhan. "Gini kayaknya aku lagi enggak enak badan, bisa izin gak?" tanyaku menol

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN