Aku kehilangan pikiranku kala melihat Defin berada di Bukin Gantole, di mana Tama melakukan paralayang. Bagaimana mungkin lelaki itu berada di Bogor, padahal ketika kutelepon katanya dia hanya akan tinggal di rumah untuk mengurus pekerjaan. Kemudian siapa wanita bersamanya yang tampak akrab dengannya? Meskipun melihat Defin, aku memutuskan tidak menghampirinya. Tidak ingin berdebat di tempat keramaian, karena dia telah berbohong kepadaku. Akhirnya setelah sampai di Jakarta, aku berniat menghubungi lelaki itu malam nanti. "Makasih ya Mbak Kania," ujarku setelah keluar dari mobil. Tama mengantarku terlebih dahulu pulang ke rumah Bibi Amira. "Oke, kami pergi dulu ya," balas Mbak Kania menepuk pundak Tama agar menancap gas. Sedangkan lelaki itu lebih memilih membunyikan klakson kepadaku seb

