Aku masih sulit percaya bahwa Defin melamarku. Dia mengajakku menikah setelah kami selesai bercinta. Wajahku kembali memanas apabila membayangkan kejadian itu lagi. Meski itu sudah sebulan berlalu. Aku dan Defin tidak terlalu membahas perihal ucapan lamarannya. Kurasa masih terlalu dini, apalagi kami berdua sedang dalam kesibukan pekerjaan. "Bella," seruan seseorang membuyarkan lamunanku. Itu adalah Erik. Lelaki itu telah sembuh dan keluar dari rumah sakit. Bahkan hari ini adalah hari pertamanya pergi bekerja, sejak kejadian kebakaran tersebut. Luka pada tangannya sudah mengering, untuk menyamarkan itu, dia selalu memakai kemeja berlengan panjang. "Apa?" "Aku telah mengetahui semuanya," ujarnya pelan membuatku mengangkat alis bingung. "Tentang apa?" tanyaku penasaran, tidak tahu apa

