Reza menarik pergelangan tangan Vanessa agar mempercepat langkahnya karena merasa sangat kelelahan dan butuh istirahat yang cukup agar staminanya kembali saat bekerja. Saat masih di depan pintu kamar, ia terbelalak kaget karena kamar yang baru beberapa hari lalu ditinggalkan sangatlah berbeda dari sebelumnya. Ia semakin kaget saat melihat banyak bunga yang bertebaran, cat dinding berwarna pink, hingga letak bendanya pun banyak yang berubah. Ia bisa menebak siapa dalang di balik semua perubahan yang terjadi pada kamarnya.
"Ini kamarmu, Mas?" Sungguh. Ingin rasanya Reza berteriak dan mengamuk, tetapi ia menahan semuanya karena gengsi pada Vanessa. Sehingga ia memilih untuk menganggukk guna menanggapi pertanyaan Vanessa. "Kenapa bercat pink dan banyak bunga yang berserakan?" kata Vanessa sambil memerhatikan sekeliling kamar.
Reza mengembuskan napas kesal. “Aku juga tidak tahu. Pasti ini adalah pekerjaan kedua saudaraku.”
Vanessa menasihati agar Reza tidak berpikiran buruk tentang keluarganya. Ia pun membantah jika ia tak berpikiran buruk melainkan semua yang ia katakan adalah sebuah kenyataan. Reza berkacak kesal karena selalu saja seperti ini. Mereka baru saja menikah kemarin dan mereka berdua telah berdebat tentang hal sepeleh yang tak masuk akal.
"Daripada berdebat, lebih baik aku tidur saja. Oiya, kamu simpan pakaianmu di lemari bagian kanan, ya?" Reza melenggang masuk ke dalam kamar lalu membaringkan tubuhnya di pulau kapuk yang empuk itu. Sebelum ia tertidur, ia masih sempat mendengar suara Vanessa yang mengiakan ucapannya. Dan di saat Reza tengah beristirahat, Vanessa justru membereskan pakaian yang ada di dalam koper ke dalam lemari.
~~~
Karena waktu yang terus berjalan ke depan, membuat hari ini adalah tepat seminggu Reza berstatus sebagai suami dari Vanessa. Dan selama seminggu ini pula, ia mengetahui banyak hal tentang Vanessa, bahkan ia berpikir jika Vanessa adalah seorang istri yang sempurna. Namun, meskipun menganggap Vanessa adalah istri yang sempurna, tetap saja hatinya belum terbuka untuknya.
Kedua orang tua Reza pun telah bertolak menuju Negeri Tirai Bambu, Cina, untuk melakukan serangkaian operasi pengangkatan sel kanker. Dan sebelum mereka berangkat, Arini sempat mengatakan jika ia ingin memiliki seorang cucu dari keturunan Reza.
Sekarang Reza berada di kantor dan sangat disibukkan oleh pekerjaan yang sangat menumpuk karena selama dua minggu lamanya ia mengabaikan pekerjaannya demi menggelar acara pernikahan yang sempurna. Saat tengah membaca berkas, terdengar suara ketukan pintu hingga membuatnya berteriak mempersilakan sang pengetuk pintu untuk masuk. Ia melihat sosok Derian yang memasuki ruangan kantornya sambil tersenyum.
"Tumben sekali kamu mengetuk pintu, biasanya langsung menerobos masuk," cibir Reza pada Derian.
Derian mendudukkan bokongnya di atas meja kerja Reza dengan tumpuan satu b****g. "Ada apa? Kamu terlihat suntuk."
Reza memang sedang merasa bosan apalagi ia terus memikirkan permintaan Arini yang sangat tak mungkin untuk ia kabulkan. Belum lagi ia harus menyelesaikan pekerjaaan yang menumpuk.
"Aku pusing, pekerjaanku menumpuk."
"Sejak kapan kamu merasa pusing dengan pekerjaan? Bukankah kamu selalu merasa jika pekerjaan adalah hiburan terbaik untukmu?"
Perkataan Derian sangatlah benar, entah mengapa ia justru merasa pusing di saat menghadapi banyak tumpukan berkas yang harus ia tangani. Harusnya ia merasa senang karena biasanya ia menjadikan tumpukan berkas sebagai hiburan bahkan sebagai makanannya.
Sebenarnya, Derian ke sana karena memiliki tujuan, yaitu untuk mengundang Reza datang ke acara yang diadakan oleh salah satu teman mereka sewaktu kuliah dulu. Ia sengaja mengundang Reza agar ada yang menjadi wakil karena Derian tak bisa pergi sebab ia memiliki janji dengan Tiara.
Reza berpikir untuk menerima undangan tersebut guna menyingkirkan semua pikirannya yang membuat kepalanya menjadi pusing. Ia sempat disinggung oleh Derian perihal mencintai Vanessa, tetapi urung ia tanggapi.
"Siapa yang memaksamu untuk mencintai Vanessa?"
"Tadi?"
"Aku hanya ingin melihatmu belajar mencintainya. Cobalah untuk habiskan waktu berdua dengannya."
"Iya, nanti aku mencobanya karena pulang dari sini aku ingin menghadiri undangan Riko."
"Kumpul dengan mereka bisa kapan saja. Lebih baik sekarang kamu menjemput istrimu dan ajak jalan ke mana pun yang kamu inginkan."
Tak ada salahnya mengikuti saran Derian, tetapi ia bimbang karena pekerjaannya masih sangat banyak. Reza mengusap wajahnya gusar, "bagaimana dengan pekerjaanku?" keluhnya pada Derian.
Derian tersenyum lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia gunakan. "Tenang saja, pekerjaanmu akan aku tangani," ucapnya menenangkan Reza.
Ia setuju dengan saran Derian dan segera menuju butik Vanessa. Dan syukurlah, semesta tengah mendukung dirinya untuk menghabiskan waktu bersama istri yang belum ia cintai sama sekali. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di butik milik istrinya, banyak sekali yang menatap ke arahnya di sana. Mungkin mereka terpesona akan ketampanan yang ia miliki.
Semua pegawai butik Vanessa sangat tahu jika Reza adalah suami dari atasan mereka, Vanessa. Karena saat pernikahannya, mereka semua hadir sebagai tamu undangan. Kebetulan ia bertemu dengan karyawan Vanessa yang mengenalnya sehingga ia tidak perlu repot untuk bertanya di mana keberadaan sang istri.
Reza diberi tahu jika Vanessa ada di dalam ruangannya, ia pun bergegas menuju ruangan sang Istri. Saat di depan pintu, ia memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia mendengar teriakan Vanessa dari dalam sehingga ia dengan cepat menyebutkan namanya.
Vanessa menyuruh Reza masuk ke dalam ruangannya. Reza terkagum saat baru masuk karena melihat ada foto pernikahan mereka berdua. Berbeda dengan ruangan kerjanya di Abraham's Company, yang sama sekali tak terdapat foto pernikahan mereka.
"Ada apa, Mas?"
"Tidak ada apa-apa. Sekarang kamu harus terbiasa kalau aku datang ke sini dengan tiba-tiba."
"Lantas, tujuanmu ke sini untuk apa?"
Ingin rasanya Reza menjawab jika ia ke sana karena atas dasar saran dari Derian, namun ia tak ingin mengatakannya. Dengan spontan, ia mengajak Vanessa untuk makan siang bersamanya. Dan keberuntungan kembali berpihak padanya karena Vanessa mengiakan ajakan makan siangnya.
Sebelum keluar dari ruang kerja Vanessa, Reza mengambil tangan kiri Vanessa lalu menggenggammnya. Sebenarnya ia takut jika Vanessa merasa tidak nyaman saat ia menggenggam tanganya, tetapi saat ia menanyakan masalah itu, Vanessa sama sekali tidak keberatan. Mereka menjadi pusat perhatian oleh karyawan maupun pelanggan butik saat berjalan keluar.
Mereka bertolak menuju restoran yang telah Reza pesan sebelum menjemput Vanessa. Setelah tiba di sana, mereka duduk di sebuah meja dan menunggu seorang pelayan yang mencatat pesanan mereka kembali dengan membawa santap siang yang telah mereka pesan.
Selagi menunggu pesanan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga membuat keadaan menjadi canggung. Reza beralih menatap Vanessa karena ia mendengarnya menghela napas panjang. "Ada apa, Ness?"
Vanessa menjelaskan bahwa ia kurang menyukai makanan yang dipesan oleh Reza karena rata-rata mengandung lemak yang berlebihan. Sebenarnya ia tidak begitu mempermasalahkannya, tetapi karena ia sedang mengikuti program menurunkan berat badan, akhirnya ia harus menahan nafsu makannya.
Reza menjadi kesal karena mendengar penuturan Vanessa. Sungguh. Ia sangat tidak menyukai wanita yang rela mengurangi porsi makan hanya karena tidak ingin bobot tubuhnya bertambah. Kini Vanessa turut merasa kesal karena Reza mengejek dirinya yang memiliki berat badan berlebihan. Bibirnya manyun ke depan seperti paruh yang dimiliki oleh bebek. Ia malas untuk merespon segala panggilan Reza.
Pesanan mereka telah tiba, tetapi Vanessa tak berniat untuk menyentuhnya sama sekali karena beralasan diet. Reza mengembuskan napas pendek, lalu membujuk Vanessa agar ia mau makan tanpa memedulikan bobot tubuhnya yang akan bertambah jika memakan makanan yang mengandung banyak lemak jahat.
"Makan, Ness!"
Vanessa menggeleng. "Kamu saja yang makan. Aku sedang diet."
"Untuk apa kamu diet? Badanmu sudah bagus, jadi tidak perlu untuk melakukan diet lagi. Lagi pula Allah tidak menyukai hambanya yang tidak bersyukur atas apa yang dia miliki," ucap Reza setelah menelan makanan yang telah ia pesan.
Karena tak ingin menjadi istri yang durhaka, Vanessa memilih untuk mengalah dan langsung melahap makannya hingga tandas. Tak hanya itu alasan yang membuat ia ingin mengalah, karena sebenarnya ia juga merasa lapar apalagi ia telah bekerja hingga siang hari tanpa pernah menyentuh sedikit makanan pun.