5

1261 Kata
Setelah menghabiskan makanan mereka, Reza mengajak Vanessa untuk pergi ke kantornya. Ia kembali menggenggam tangan Vanessa lalu keluar dari sana. Ia mengendara dengan kecepatan sedang agar ia bisa berlama-lama dengan Vanessa. Ia sengaja melakukan hal itu dengan harapan dapat menimbulkan rasa cinta untuk Vanessa. Vanessa menatap ke samping kiri untuk melihat berbagai pemandangan pohon yang berjejer di sepanjang jalan yang mereka lalui. Tak ada yang ingin memulai topik pembicaraan hingga membuat suara deru napas dan alunan lagu yang menemani perjalanan mereka. Karena keadaan begitu canggung, Vanessa berdeham sejenak sebelum memulai berbicara. "Memangnya kamu tidak terganggu kalau aku ikut ke kantor? Kamu sedang sibuk dengan berbagai pekerjaan." "Sebanyak apa pun pekerjaanku, jika bersamamu tidak akan terasa berat karena aku ditemani oleh calon bidadari surga sepertimu." Jawaban Reza membuat pipi Vanessa menghangat dan mungkin saja terlihat seperti kepiting rebus. Sejujurnya, Vanessa sangat tidak bisa jika mendapat pujian dari seseorang karena ia sangat mudah terbawa suasana. Melihat Vanessa tersipu malu, Reza semakin gencar untuk mengganggunya. "Kamu adalah bidadari surgaku, Ness, seperti yang ada pada lagu Almarhum Ustad Jefri." Cukup. Pipi Vanessa terasa seperti ingin terbakar saat itu juga. Ia benar-benar tidak tahan jika Reza terus saja melontarkan kalimat gombalan untuknya. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah kalimat biasa saja. Namun, baginya kalimat itu adalah kalimat yang sangat luar biasa. Setelah menumpuh jarak dengan waktu sekitar setengah jam, mereka tiba di kantor Abraham's Company. Selepas Reza memarkirkan mobilnya di halaman kantor, ia segera turun mendahului Vanessa untuk kembali membukakan pintu sanga Istri. Andai saja Reza menyadari jika Vanessa merasa sangat dihargai olehnya sebagai seorang istri. Meskipun pernikahan mereka terlaksana tanpa didasari cinta, tetapi Vanessa sangat bersyukur mendapatkan sosok suami sepertinya. Reza selalu memperlakukan layaknya seperti seorang istri yang sangat dicintai oleh sang suami. Dan juga, ia rela menahan nafsu b****i yang bahkan jika mereka melakukannya tidak akanmenimbulkan dosa justru mendapatkan pahala karena mengikuti sunah yang diajarkan oleh Rasul Allah. "Aku yakin, kamu pasti akan suka di sini," kata Reza saat mereka berada dalam lift untuk menuju ruangan kerja Reza yang berada di lantai paling atas. "Iya," kata Nessa. Setelah lift berbunyi yang menandakan jika mereka telah sampai di lantai yang dituju, mereka segera keluar lalu memasuki ruangan kerja Reza. Saat memasuki ruangan itu, Vanessa mengedarkan pandangannya untuk melihat bagaimana kondisi ruangan dari sang Suami. Ia merasa sedikit kecewa karena saat melihat sekeliling ruangan, ia sama sekali tidak menemukan foto apa pun, termasuk foto pernikahan mereka.  Mungkin ia terlalu percaya diri jika Reza sangat menghargainya. Tak ada yang bisa menduga jika Reza mungkin melakukan hal baik padanya hanya untuk membalas budi karena ia telah membantu mewujudkan keinginan terbesar Arini. Mungkin saja Reza tidak menyukai kehadirannya sehingga ia tak memasang apa pun di sana. Ah, semua kemungkinan itu terus berputar dalam benaknya. "Vanessa? Hei, kenapa kamu melamun?" Reza menggerakkan tangannya di depan wajah Vanessa. Namun, karena sang Istri telah tersadar dari lamunan, ia langsung tersenyum. "Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, jangan sungkan untuk bercerita padaku. Bagaimanapun juga, aku adalah suamimu yang harus membantu kalau kamu sedang ada masalah." "Iya, Mas. Lagi pula tidak ada masalah yang menggangguku. Tadi aku hanya berpikir kenapa kamu tidak ...." Vanessa menghela napas sejenak, "foto pernikahan kita." Aku harus menjawab apa? "Jadi, kamu melamun karena memikirkan hal itu?" Vanessa hanya menganggukkan kepala untuk merespons pertanyaan. Reza mengusap wajahnya dengan gusar karena ia bingung akan mengatakan apa agar Vanessa tak merasa tersinggung, "maafkan aku, ya? Sebenarnya aku juga ingin memasang foto itu agar aku selalu ingat kalau aku memiliki Istri secantik kamu, tapi aku selalu lupa untuk memasangnya," lanjut Reza sambil cengengesan. Mulut Vanessa membulat. "Lebih baik sekarang lanjutkan pekerjaanmu yang menumpuk," saran Vanessa yang langsung ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Reza. "Tidak perlu. Aku sengaja mengajakmu ke sini bukan hanya untuk menemaniku mengerjakan itu," Reza berjalan ke balkon yang sengaja dibuat untuk membantunya menghilangkan penat saat lelah bekerja dengan melihat pemandangan yang dapat memanjakan mata siapa pun yang melihatnya, "aku ingin kita habiskan waktu berdua di sini. Lagi pula semua pekerjaanku telah ditangani Derian. Jadi, aku bebas melakukan apa saja denganmu termasuk membuat cucu untuk Mama," lanjut Reza yang membuat Vanessa terbelalak kaget seketika. Setiap mendengar ucapan Reza yang menyinggung perihal sunah Rasul itu, secara spontanitas Vanessa pasti akan selalu membayangkan jika ia tengah melakukannya bersama Reza. Namun, tidak menutup kemungkinan juga jika ia menginginkan Reza berada di dalamnya. Bukan karena ia mencintai Reza. Bukan. Hanya saja, ia ingin mendapat rida Allah karena memenuhi semua tugasnya sebagai seorang istri. Apalagi jika hubungan yang telah ia lakukan adalah membuahkan janin. Mungkin ia akan merasa sebagai wanita yang telah sempurna jika berhasil mengandung darah dagingnya sendiri. "Ayo, ke sini, Ness." Reza mengajak Vanessa untuk berada di balkon yang sedang menampung tubuhnya. Dengan ragu, Vanessa melangkahkan kakinya menghampiri Reza. Setelah ia berada di sana, Reza langsung memundurkan tubuhnya sehingga ia dapat berdiri tepat di hadapannya. Balkon tersebut memiliki pembatas sebuah kaca sehingga mereka dapat melihat pemandangan gedung tinggi tanpa harus takut terjatuh. "Cobalah merentangkan kedua tanganmu dan berteriak dengan kencang. Aku jamin, kamu pasti akan merasakan lega karena telah menyalurkan amarahmu pada alam," kata Reza yang langsung dituruti oleh Vanessa. Sesuai instruksi dari Reza, Vanessa merentangkan kedua tangannya lalu berteriak sekencang mungkin guna menghempaskan segala keluh kesah yang sedang ia rasakan. Setelah melakukan itu, ia merasa menjadi sedikit lebih lega dari sebelumnya. Rasanya, beban yang sedang ia pikirkan langsung hilang dalam hembusan angin bersama suara teriakan yang ia salurkan. "Kamu merasa lebih tenang, bukan?" Vanessa mengangguk mengiakan lalu ia menumpuhkan tangannya pada pembatas balkon. Vanessa menolehkan kepalanya ke belakang dan secara otomatis, ia menyentuh d**a bidang milik Reza. Reza menarik Vanessa untuk masuk dalam pelukannya lalu sesekali mencium puncak kepala sang Istri. "Ness, kamu tahu, tidak? Aku sudah berusaha untuk bisa mencintaimu, tapi aku seperti tidak bisa melakukannya. Namun, kamu tidak usah khawatir karena bagaimana pun caranya, aku akan tetap berusaha mencintaimu seperti aku mencintai Mama." Vanessa merasa sangat beruntung menjadi istri dari seorang CEO muda yang sukses dan memiliki sifat penyayang. Ia telah merasakan sendiri sehingga ia dapat mendeskripsikan bagaimana sosok Reza dengan baik. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang dari tadi memerhatikan. Orang itu tersenyum lebar saat melihat kedekatan keduanya. Aku senang akhirnya kamu bisa menghargai Vanessa sebagai istrimu. Aku harap, kamu bisa jatuh cinta padanya dalam waktu dekat. ~~~ Sekarang mereka telah tiba di rumah setelah menghabiskan waktu bersama di kantor Abraham's Company. Reza sedang membersihkan tubuhnya sedangkan Vanessa berniat keluar kamar karena ingin memasak makan malam. Baru saja keluar kamar, Vanessa dikagetkan dengan kehadiran Inayah—asisten rumah tangga—. Beliau memberi tahu jika ada tamu yang sedang menunggunya. Vanessa bergegas menuju ruang tamu untuk melihat siapa tamu yang dimaksud oleh Inayah. Ia menghela napas begitu tahu jika ternyata yang mencarinya adalah Seyza. Kedatangan Seyza untuk meminta bantuan Vanessa menjaga sang buah hati karena beliau ingin pergi ke Kalimantan untuk menghadiri acara pemakaman sang Kakek dari suaminya. Sebenarnya jika Diza—anak dari Seyza—ikut tak masalah, tetapi sang suami khawatir terhadapnya karena tak ingin jika anak yang sedang sedang ia kandung bermasalah akibat melelahan karena menjaga Diza saat di sana. Reza yang telah menyelesaikan mandinya memilih untuk menghampiri Vanessa yang ia pikir berada di dapur, sehingga ia melangkahkan kaki menuju dapur, tetapi di sana ia tak menemukan keberadaan sang istri. Indra pendengarannya mendengar suara ramai yang berasal dari sehingga ia kembali berjalan ke sana. Ia melihat ada Seyza dan Dimas yang sedang bercengkrama dengan Vanessa di sana sehingga ia memutuskan untuk ikut duduk di sana. Baru saja ia ikut duduk, Vanessa langsung meminta izin darinya. Sebelum menjawab, ia menyempatkan diri untuk menghela napas. "Aku mengizinkanmu sekalian kita belajar menjadi orang tua."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN