PART [34] . . . Pikiran Nara berubah kacau, tanpa sadar menepis tangan Kenan dan meninggalkan pemuda kecil itu di dalam kamar. Bahkan saat Bibi Minah keluar dari ruang laundry, menyapa Nara berkali-kali. Telinga Nara rasanya sudah kebas, tidak mendengar apapun. Bahkan bel masuk yang berbunyi. Kakinya melangkah cepat, hendak keluar dari Apart sebelum Arka bangun. Menahan rasa sakit di perut dan kepalanya. Denyutan di kepala itu hampir membuat Nara tumbang, sangat menyakitkan. Pikirannya dipaksa untuk mengingat kembali, meskipun Ia tidak mau. Naluri Nara memberontak. “Eh, lho Nona Nara kok cepat-cepat seperti itu?” Bibi Minah hendak menghampiri Nara sebelum suara tangisan Kenan perlahan terdengar, “Lho, Tuan Kenan!” Bingung ingin menghampiri siapa, tangisan Kenan sukses membuat Bi Mi

