PART [47] . . . Satu getaran handphone itu mengagetkan Arka. Tubuh tegap yang menyender pada pintu, tepat saat Ia masuk ke dalam kamar mandi. Menyembunyikan diri di sana, bagaikan pengecut yang hanya bisa berlari tanpa bisa memberikan kepastian apapun pada wanita itu. Berulang kali mengumpat, merutuki dirinya. Kenapa saat semua ingatan Nara perlahan kembali, Arka justru merasa ragu. Hanya karena melihat Nara berteriak histeris tadi, dia harus mengurungkan niatnya. Memaksa wanita itu mengingat kembali semua. Apa Arka terlalu serakah, kalau dia hanya ingin merebut Nara secara utuh tanpa melukai sosok cantik itu. Sayang, semua kebohongan yang mereka tutupi terlalu besar untuk bisa dipikul oleh Nara seorang diri. Arka takut, Nara tidak bisa menerima semua, dan berakhir hancur. Beberap

