Yuga bersama Chelo di mobil dama perjalanan pulang. Chelo kesal pada sang papi. Ia menatap pada jendela mobil. Sejak tadi Yuga juga diam saja terserah Chelo yang penting anaknya itu diam.
"Kenapa Chelo ga boleh sama mami?"
"Karena dia bukan mami Chelo. Mami Chelo itu cantik, enggak gendut kaya gitu." Yuga menjawab kesal.
Chelo menatap sang papi, kesal tak terima Rei dikatai seperti itu. " Jangan ngomong gitu dong Pi! Mami cantik, bulu matanya bagus, matanya bagus, dan bisa buat Chelo bobo cepet. Mami cantik!"
Kesal, tapi Yuga coba bersabar tak mungkin marah pada Chelo. Malah sebal sama Rei, entah pelet apa yang digunakan gadis itu sampai bisa merebut perhatian Chelo. Yuga jadi semakin kesal karena sekarang buah hatinya jadi marah dan kesal padanya.
"Tapi, dia bukan mami Chelo."
Chelo tak peduli, tak mau tau juga. Dia hanya diam menatap keluar kaca jendela mobil memerhatikan tempat-tempat yang ia lewati. Yuga hela napas saja, kalau sudah ngambek begini lebih baik didiamkan sampai baik sendiri.
Sementara saat ini Rei masih menunggu rekannya selesai. ia duduk bersama kuki seraya meneguk minuman yang tadi dibelikan oleh Yuga. Rei menatap Kuki. Imut, ia bahkan menolehkan wajahnya lalu menatap Kuki dari bawah. Kuki tahan senyum dia gemas, gemas sekali.
"Kenapa lihat begitu?" tanya Kuki.
"Makasih ya, mau nemenin aku," ucap Rei.
Kuki menganggukkan kepalanya. Tentu ini bukan masalah. Bisa bersama Rei cukup menyenangkan. Tida, sebenarnya menyenangkan sekali, buat Kuki gemas berkali-kali.
Tak lama pintu terbuka menunjukkan rekan-rekan rei berjalan masuk. Kuki sedikit terkejut karena mereka semua masih menggunakan kostum hantu. Adit berjalan mendekati meja yang berada di tengah ruangan.
"Ada pesta apa nih?" tanta Teguh.
"Itu dari Pak Yuga tadi." rei menjawab lalu berjalan mendekat,
Teguh lalu gemas, mencubit pipi Rei. Kuki ingin sekali berteriak dan mengatakan jangan. Tapi, melihat Rei memanyunkan bibirnya juga buat Kuki gemas. Pingin gigit pipi Rei, mau juga sentuh Rei kaya laki-laki itu. Tapi, Kuki tahan diri dia mengamati saja. Kini bisa terlihat pipi Rei merah, buat Kuki merasa kasihan. Lalu berjalan mendekat.
"Sakit Teguh ih!!" Rei kesal.
Teguh mala mengusap pipi temannya itu. Tak ada maksud lain karena keduanya memang dekat layaknya sahabat. Hanya saja Kuki tak tau, yang jelas ia cemburu. Kuki cemburu melihat tangan Teguh mengusap-usap pipi Rei yang menggemaskan.
Kuki menggenggam tangan Rei, sedikit menarik ke belakang. "Rei udah boleh pulang?" tanya Kuki.
Kuki memetakan, ada lebih banyak laki-laki di sini. Hanya ada dua wanita di grup yaitu Rei dan Siska yang menjadi suster ngesot. Kuki tak bisa dalam situasi seperti ini. ia jadi cemas sama Rei. Takut Rei dicubit lagi atau ada yang coba dekati. Apalagi setelah dilihat banyak yang sering lirik Rei. Kuki terlalu cemburu bahkan sebelum memiliki. Waktu lebih dari dua jam berdua tadi sudah buat Kuki jatuh hati.
"Rei boleh pulang kok. Udah tinggal rapi-rapi aja seharusnya dari tadi. Cuma karena Pak Bram pulang. Jadi memang harus nunggu sampai selesai." Teguh menjawab. Dia juga laki-laki jadi bisa melihat kalau ada yang lain di mata Kuki dalam menilai Rei.
"Enggak apa-apa nih gue balik duluan?" tanya Rei.
"iya, pulang duluan sana. Rumah lo jauh banget soalnya. Kita tinggal hapus makeup aja. tadi depan udah sekalian kita beresin kok." Adit menimpali.
"Iya gue balik ya, babay. Jangan lupa dimakan itu jangan sampai kalian sakit." Rei kemudian mengambil satu kotak nasi memberikan pada Siska dulu. "Dit suruh Siska makan dulu. Liatin kalau enggak makan cubit." Rei mengingatkan. tau kalau Siska paling susah kalau di suruh makan.
Rei dan Kuki berjalan menuju parkiran belakang. Jaraknya cukup jauh, tapi tentu saja tak masalah bagi Kuki karena ia bisa semakin lama menikmati waktu bersama Rei. Rei menatap Kuki seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Kenapa?" tanya Kuki cemas.
"Kuki, aku boleh pegang tangan kamu?"
Kuki mengangguk cepat, lalu menyodorkan tangannya untuk digenggam. "Silahkan."
Rei menggenggam tangan Kuki, tangan gadis itu dingin. Kuki cemas ia menggenggam tangan rei dengan tangannya yang lain.
"Kenapa tangan kamu dingin Rei?"
"Aku sering begini kalau pulang kerja. Rasanya takut, ketakutan. Enggak ada alasan cuma takut aja." Rei menjawab tanpa menatap Kuki.
Kuki tak tau alasannya, ia penasaran sebenarnya. Tapi tak ingin memaksa Rei. Menikmati saja malam ini berjalan sambil bergenggaman tangan. tak ingin memaksa Rei mengatakan apa yang ia rasakan.
"Rei," panggil Kuki.
"Iya? Apa Kinan?" tanya Rei. Gadis itu menoleh menatap Kuki mengikuti panggilan dari Yuga tadi. Terdengar seperti panggilan sayang di telinga Kuki.
"Aku jadi lupa mau ngomong apa."
Rei terkekeh geli. "Kenapa lupa?"
"Kaget aja kamu panggil aku Kinan."
"Enggak boleh ya?" Rei bertanya tak enak.
"Boleh. Boleh banget, suka Rei manggil aku Kinan," jawab Kuki tak ingin Rei merasa tak enak.
"Jadi tadi kamu mau ngomong apa?" tanya Rei lagi.
"Aku masih menawarkan apa kamu mau balas dendam sama Satya?"
Rei menggeleng. "Gimana kalau libur besok Kinan main ke rumah? nanti aku buatin seblak. Suka enggak?"
Enggak pernah dengar kata seblak, apalagi makan seblak. tapi kalau sama Rei mau-mau aja. "Mau."
"Oke kalau gitu." Rei lagi-lagi tersenyum manis. Seharian ini Kuki diabetes karena terus saja diberi senyuman yang bertubi-tubi dari Rei.
Keduanya melanjutkan langkah kaki mereka ke parkiran belakang. Melewati taman hiburan yang sudah sepi. Si pagar seseorang berdiri. Rei tau dengan jelas siapa itu. Gadis itu melambaikan tangannya, sosok pria di ujung jalan juga melambaikan tangan. Semakin dekat. Kuki bisa melihat sosok itu. Dia adalah Jimmy teman Rei yang waktu itu mengantarkan Rei menggunakan vespa miliknya.
Rei melepaskan genggaman tangannya. Ia berjalan cepat menghampiri Jimmy, Jujur Kuki merasa dicampakkan. hanya ia coba mengerti. Karena waktu itu Iva mengatakan kalau Jimmy adalah teman Rei. Kini Kuki berada di dekat keduanya. Ia bisa merasakan kalau Jimmy juga menyukai Rei. Terlihat dari tatapannya yang tak lepas memerhatikan gadis itu, bahkan tangannya menggenggam seraya memijat tangan Rei. Jimmy sudah tau tangan sahabatnya itu terasa dingin.
"Jim, kenalin ini Kuki temannya Vhi. Kinan ini kenalin Jimmy sahabat aku dari SD." rei memperkenalkan keduanya.
Jimmy mengulurkan tangannya. "Jimmy." ia memperkenalkan diri.
"Kuki, temennya Vhi, temen Rei juga."
Jimmy segera memetakan Kuki, perkenalan yang menekankan kalau ia adalah teman Rei menandakan Kuki ingin menunjukkan kalau ia dekat dengan Rei, Yang jelas saat ini Kuki tengah menunjukkan ia adalah saingan. Tapi, Jimmy bukankah dari awal memang tak ada di arena? Sejak awal ia hanya ingin menobatkan diri sebagai sahabat Rei. yang akan selalu ada untuk gadis itu. Namun, kali ini ketika ia dihadapkan langsung dengan pria yang menyukai Rei mengapa ia merasa tak terima?
Jimmy memakaikan jaket pada Rei, "lo lupa bawa jaket terus sih. nanti kalau sakit gimana?"
"kan kalau ditinggal nanti dipakaiin sama lo kayak gini," goda Rei.
Kultur syok yang harus diterima Kuki. pasti dia terkejut melihat Rei menggombali Jimmy. Rei merasa tak akan ada yang jatuh hati padanya jadi menurutnya akan biasa saja kalau iseng mengatakan itu.
"Heleh, kalau sakit gimana?" Jimmy telah selesai memakaikan jaket hoodie Rei. Kemudian memakaikan penutup kepala dan menarik talinya hingga mengikat wajah Rei membuat pipi merahnya terlihat begitu menggemaskan itu membuat Jimmy terkekeh geli. "Lucu banget kaya boneka."
"Boneka Voodoo." Timpal Rei kemudian mereka berdua ber-tos ria. Lupa kalau ada Kuki yang kini diam jadi obat nyamuk.
"Ayo pulang," ajak Jimmy.
"Bukannya kamu mau pulang sama aku Rei?" tanya Kuki coba mengingatkan.