Vhi kini tengah duduk di rumah bersama Iva dan memangku Jeno yang tengah tertidur. Vhi masih merasa kesal dengan kejadian siang tadi saat Rei dengan santai menerima perintah dari atasannya uintuk menjaga buah hatinya. Jujur Vhi tak ingin kalau rei diperlakukan seperti itu. Itu tak adil karena pekerjaan Rei tak ada hubungannya sama sekali dengan permintaan Yuga. Rei bukan baby sitter.
Iva bersandar pada bahu kekasihnya itu. "Ya gimana kamu tau sendiri kalau Rei itu kayak gimana? Apalagi dia suka banget kan sama anak-anak. Liat aja Jeno, kadang malah lebih nurut sama dia daripada sama aku."
"Dia emang sebodoh itu?"
Iva menganggukkan kepala. "Ya, emang gitu dia bodohnya kebangetan."
Vhi menatap ke arah Iva lalu mencium pipi, kening dan bibir kekasihnya itu. "Ganti parfumnya Rei ya?"
"Ho,oh minya wangi aku habis. jadi minta tadi."
"kaya orang susah," ledek Vhi.
"Emang susah. Kamu pikir berapa gaji guru honorer?"
"O iya lupa kamu orang susah ya." Vhi kemudian terkekeh kebiasaan mereka berdua saling meledek isi dompet dompet.
"Iya biarin aja susah, tapi enggak hidup penuh tekanan. Wekekekek."
Vhi kesal, ia kemudian dengan cepat mengambil tangan Iva dan menggigitnya karena kesal sang kekasih meledeknya terus.
"Sakit dodol ih!" Iva kesal lalu mencubit bahu Vhi membuat Vhi mengaduh kesakitan.
Keduanya memang begitu romantis dengan level yang berbeda. Saling ledek, adu mulut, cubit, pukul atau saling mengatai satu sama lain. Definisi cinta tak melulu soal bersikap manis dan penuh puja puji. Keduanya lebih senang saling menjatuhkan satu sama lain dan menertawakan kebodohan pasangan mereka. namun, tetap akan ada sisi romantis di sana.
***
Sementara malam ini Rei masih berada di rumah hantu. Ia duduk sambil memangku Chelo yang tertidur. Sejak sore tadi anak itu bermain bersama Kuki dan Rei. Lalu karena merasa cemas Rei menghentikan Chelo kemudian anak itu meminta untuk tidur di pangkuan Rei
Kuki memerhatikan, "Direbahin aja."
Rei mencoba merebahkan Chelo, hanya saja anak itu tak mau dan terus menggenggam pakaian Rei. KUki merasa iba apalagi posisi sofa yang tak memiliki sandaran. Kuki lalu bangkit mengambil kursi lain yang berada di sana. meletakkan di belakang Rei.
Kuki lalu duduk di sana, menyandarkan tubuhnya pada Rei. "Senderin badan kamu. Biar enggak sakit punggung kamu."
"Boleh?" tanya Rei.
"Sure, silahkan." Kuki menjawab tentu saja itu tak masalah untuknya dan mungkin malah akan menyukai hal itu.
Rei kemudian menyandarkan tubuhnya. Saat bersandar tulang punggung Rei berbunyi. Kuki tertawa sama dengan Rei yang juga menertawakan itu. Kuki menatao kaca di hadapannya, kaca bisa melihat pantulan kaca lain yang ada di hadapan Rei. Kuki memerhatikan Rei yang kini tengah menatap Chelo, penuh kasih sayang. dan ia menyukai itu.
"Kamu enggak mau balas dendam?" tanya Kuki.
Rei menatap pada cermin, ia bisa melihat Kuki yang tersenyum. Rei balas dengan senyuman buat Kuki mengalihkan pandangan. "Balas dendam sama siapa?"
"Sama Satya." kata Kuki.
"Apa yang harus dibalas?"
"Dia manfaatin kamu, nyakitin kamu dengan cara selingkuh. Enggak kepikiran buat balas dendam?" tanya Kuki, kini memberanikan dri menatap kembali pada cermin dimana Rei kini menatap tanpa fokus.
"Aku enggak mau nyakitin orang,"jawab Rei kemudian.
"Seseorang harus tau rasanya sakit supaya sadar. Coba kamu bayangin, dia pakai uang kamu, kamu yang biayai hidup dia. Dan dia pakai uang pribadinya untuk senang-senang." Kuki coba memprovokasi. ia ingin rei mengatakan setuju untuk membalas dendam maka ia yang akan bergerak melakukannya.
"Enggak, aku enggak minta dikasihani dengan berharap sesuatu. Motor itu juga udah balik ke aku, Dan Satya enggak ada hal apa-apa karena surat-surat dibuat atas nama aku. Sejak awal dia udah minta dibuat atas nama dia, Aku enggak terlalu bodoh dengan membiarkan dia ngelakuin itu." Rei menjelaskan ia menatap pada Kuki yang menatapnya dengan wajah yang bertumpu pada tangannya.
Rei lalu mengedipkan satu matanya. Buat Kuki malu sendiri, menggemaskan, terlihat polos tapi cukup cerdas, Kuki suka Rei, karena ia membuat Kuki penasaran. Ada hal di diri Rei yang berbeda. Ingat dengan apa yang dikatakan oleh Vhi kalau gadis yang bersamanya kini cukup pintar dan banyak mnengikuti banyak workshop dan pertemuan lain. Jelas rei tak sebodoh itu. Masih menyisakan sisi realistis dan rasional meski sedikit.
'Aku pikir kamu pasrah."
Rei menggelengkan kepalanya. "Aku cuma enggak mau cari ribut lagi. Apalagi nemuin dia. Aku udah cukup bodoh dengan nangis karena dia sampai saat ini."
Kuki melirik, sedikit tak suka dengan apa yang dikatakan Rei. mendengar Rei menangis untuk Satya, ia jadi kesal,marah, hatinya panas. Padahal bukan siapa-siapa.
"Hmm, masih cinta rupanya?"
Rei tertawa. "kamu kayak cemburu?"
"Hmm, sedikit."
Rei terkekeh lagi. Dalam hatinya tentu saja jelas berpikir kalau kuki tak menyukainya secara sungguh-sungguh. Siapa yang bisa percaya seorang Kuki bisa jatuh cinta pada wanita yang seara fisik tak menarik.
"Re-" Ucapan Kuki terhenti saat pintu belakang terbuka, menunjukkan sosok Yuga yang berjalan masuk ke dalam. mau menjemput tentu saja.
"Maaf saya ganggu." Yuga katakan itu ketika ia berjalan masuk.
Rei duduk tegak, "Chelo-nya tidur Pak."
Yuga anggukkan kepala berjalan masuk, di belakangnya ada pengawalnya, Brian yang membawa banyak makanan untuk Rei dan kru. Biran meletakkan makanan dan minuman di atas meja, lalu segera berjalan ke luar. Yuga kemudian menatap pada Kuki seolah ia mengenal pria itu. Kuki berdiri kemudian berjalan mendekat.
"Kinandra," Kuki kemudian mengulurkan tangan.
Yuga menjabat tangan. 'Ah Pak Kinan pantas seperti pernah lihat. Kenal sama Rei" Yuga buka suara
"Iya," Kuki menjawab.
Sejujurnya, kini Rei jadi sedikit menarik. Tadinya, hanya terlihat seperti gadis biasa, gemuk dan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Anehnya, bagaimana bisa dia berkenalan dengan Kuki? Pengusaha muda di bidang ekspedisi dan memiliki beberapa saham di beberapa perusahaan retail?
"Maaf anak saya jadi ganggu kalian." Yuga berucap tak enak.
"Enggak masalah, tadi juga sempat main sama Chelo." Kuki berujar tanpa senyum, serius berbeda jika ia berbicara dengan Rei.
Rei memerhatikan Kuki merasa pria itu bena-benar berbeda saat ini. Terlihat serius, tegas auranya sama seperti Yuga. Terkesan sangat dominan.
Yuga merasa canggung kemudian mendekati Rei, coba melepaskan pelukan Chelo. Hanya saja seperti biasa anak itu menolak. Rei mengusap kepala Chelo dengan lembut.
"Besok kita main lagi ya, sekarang pulang dulu," ucap Rei dan itu malah memuat anak itu memeluk dengan semakin erat. "Besok ketemu mami lagi sayang." rei kembali mengucapkan itu dan Chelo masih memeluk Rei.
"Chelo, papi tau kamu enggak tidur. Ayo pulang atau papi enggak akan bawa kamu ke kantor lagi." Yuga tegas mengatakan itu.