01. Pertemuan
Namaku Jennie umurku 27thn.
aku hanya punya seorang ibu yang luar biasa menyayangiku.
hari hariku dipenuhi dengan kerja dan kesibukanku lainnya.
aku bekerja sebagai kasir di salah satu cafe dekat dengan perusahaan besar dan hari ini aku memulai kesibukanku seperti biasanya.
"Jenn,, jenn bangunn udah mau jam 8" teriak seorang perempuan berusia 48th namun tetap keliatan cantik.
"iya maaa" jennie yang akhirnya bangun.
jennie langsung menuju ke kamar mandi melakukan rutinitasnya. lalu bergegas turun sarapan bersama.
"Jen kamu tuh udh dewasa bangun cepetan dikit, jangan selalu nunggu di bangunin" ocehan pagi hari yg selalu di dengar oleh jennie
"iya maa, namanya aku capek ma, lagian ini blom telat kok ma" menjawab dengan nada manja
"belom telat gimana, liat tuh jam kalo engga mama bangunin kamu tuh ga akan bangun, anak gadis tidurnya macem anak lajang, pantes kamu ga dapat pacar" ocehan yang makin merembes kemana mana.
"yaelah maa,, jodoh kan sudah di atur" jawab dengan santainya. "ma aku berangkat bareng mama boleh? " jennie yang mencoba ngambil hati.
"engga, kamu bilang kan engga telat, ya udh naik bus aja" jawaban ketus sekaligus hukuman
"ayolah ma, kan kantor mama searah dengan tempat kerja jennie ma.. ayoo lah maaa " dengan nada memelasnya.
"oke makan trus langsung kita berangkat"
Jennie berangkat kerja bareng mamanya, walaupun mama jennie udah 47th namun beliau keliatan masih sangat cantik dan awet muda, bahkan ada yang mengira mereka adalah adik kakak.
mama jennie bekerja di salah satu perusahaan penerbitan terkenal.
"maa.. udah aku turun disini aja" jennie meminta mamanya menepi.
"loh kok disini? bukannya cafe kamu di ujung sana" sambil menunjuk cafe jennie kerja
"itu maa, aku mau beli roti di toko kue itu, enak banget krimnya" ucap jennie
"oh ya sudah, bawakan pulang untuk mama ya"
"okey maa. dah mama" sambil melambaikan tangan.
Jennie masuk ke toko kue dan memilih brownis kesukaannya, bahkan dia sangat suka, untung saja gajinya tidak habis hanya untu membeli brownis.
"mba, saya mau brownis topping keju ya satu" ucap jennie sambil nunjuk ke brownis.
"mba, brownis topping keju satu" terdengar suara laki laki yang memesan menu sama dengan jennie.
Jennie berjalan meninggalkan toko kue menuju cafe, jennie sambl berkhayal memikirkan kapan dia menjadi milyader dan tidak perlu bekerja lagi seperti yang dilakukan setiap harinya selama ini.
"hai jenn,, gua kira lu telat" ucap salah satu teman kerja jennie.
"emank gue perna telat ya? " jennie menjawab dengan sombongnya
"ya kali aja kan lu bikin rekor baru" temannya ngegoda
"upps sory ya..jennie gituloh" sambil tertawa.
Jennie berganti pakaian kerja dan langsung menuju tempatnya. seperti biasa cafe tempat jennie bekerja selalu ramai karena area perkantoran, sehingga membuat kaki jennie terkadang kebas.
"napa lu jen?" tanya temannya
"biasaa.. kaki gue kebas.hahaha" sambil ketawa
Hari itu datang seorang lelaki yang sangat tampan bak idol kpop ke cafe jennie kerja. bahkan semua mataa wanita yang ada di cafe tertuju kepadanya. namun lelaki tersebut tidak perduli dan langsung menuju ke meja jennie kerja untuk memesan minumannya
"permisi, Americano tanpa krim satu" ucap lelaki tsb smbil meliat ke arah jennie.
"Baik pak. saya terima pembayarannya dan silahkan ditunggu" jennie yang berusaha profesional padhal dia jg terhipnotis dengan ketampanannya.
lelaki tersebut menunggu pesanannya sambil meliat wajah jennie dengan seksama, dia merasa perna mengenalnya namun dia tidak ingat dimana.
"Americano tanpa cream" ucap jennie
"Terimakasih" jawab lelaki itu seadanya
"silahkan datang lagi" smbil tersenyum manis.
laki laki tersebut meninggalkan cafe.
"gila.. ganteng banget jenn... sumpah itu laki terganteng di muka bumi" celoteh temannya.
"yaelah lebay luu" ucap jennie.
"jenn. mata lu katarak ya. gtu ganteng masak lu ga bs liat" dengan nada kesal
Jennie hanya tertawa meliat temannya kesal. tanpa terasa hari udah malam dan jam kerja jennie berakhir. Jennie bergegas ke halte bus stlah membeli kue untuk mamanya.
saat jennie sedang di halte bus terliat dari jauh seperti ada orang yang meliat dari dalam mobil di seberang jalan namun jenni tidak tau siapa.
jennie berulang kali noleh kiri dan kanan untuk memastikan bahwa bukan dia yg sedang diliat. namun hanya dia seorang yang ada di halte saat itu.