Se-La 18

1435 Kata
Se-La 18 "Upal masih tidur?" Erin mendongak, saat suara Mamah Helda mengagetkannya, Erin yang saat ini tengah menggoreng tahu telor kesukaan Upal hanya mengangguk sembari membalik gorengannya. "Kecapean kayaknya, Mah. Biasaan Upal kan gitu kalo nggak ada Erin." Mengangguk paham. "Iya, Upal mah gitu, makanya Mamah jodohin sama kamu, Biar ada yang ngurus. Takutnya kan cuma sama Erin seorang. Sama Mamah mana ngefek. Palingan cuma di iyain doang tapi nggak di lakuin." ucap Mamah yang masih mengupas apel di meja makan. Erin menoleh saat sudah membalik tahu telornya. Menatap Mamah dengan senyum tertahan. "Apaan sih, Mah. bukannya sama Mamah Upal emang nurut ya. Buktinya mau kan pas dia di jodohin sama Erin?" "Ya gimana nggak mau, orang kamunya aja emang cantik, pinter, pengertian lagi. Nyesel dia mah kalo sampek nolak kamu." "Oh karena aku cantik ya, Mah?. Kirain mah karena ada yang nangis-nangis sampek mogok makan seminggu." Mamah Helda tersedak buah apel saat merasa teraindir, lalu di tatapanya sang menantu yangemjadi penyebab utama dirinya tersedak yang saat ini tengah sibuk menggoreng makanannya. "Ehh... Nggg tau dari mana kamu? Upal yang bocorin ya?" Erin setengah mati menahat tawanya, tak etis kan menertawai mertuanya sendiri, bisa jadi di pecat jadi menantu dia nanti. Tak mau menjawab, Erin lebih memilih mengedikan bahunya acuh. "Halah jujur aja, Upal kan yang udah bocor ke, Erin? Awas aja itu anak nanti!" "Ehh... Bukan Upal, mah. Tapi bunda yang cerita ke Erin." jawab Erin saat mendengar nada mengancam dari Mamah Helda yang biasanya itu akan di lakukannya. Dan jika benar, kan kasihan Upal suaminya. Mamah Helda melongo saat nama Nisa sahabatnya yang tak lain ibu dari Erin di sebutkan oleh menantunya. Jika sudah seperti itu, Mamah Helda hanya bisa menahan malu saat akal bulusnya dulu yang memang mogok makan hanya agar Upal mau di nikahkan dengan anak dari sahabatnya, Nisa. Alasannya tentu saja karena Mamah Helda tak mau Upal terjebak pergaulan bebas. Walau alasan utamanya memang menyatukan keluarga besar Faurelio dengan keluarga Mahendra. Mamah Helda mendekat melihat pekerjaan menantu kesayangannya dengan senyum yang tertahan. "Emm. Ceritanya mau nyogok Suaminya pake makanan kesukaan lah ya? Makanan penyambut, apa makanya pelipur Rindu, Nih?" Ucap Mamah Helda mengalihkan topik pembicaraan sembari mencomot tahu telor tanpa permisi. "Enak. Pantes aja Upal doyan. Makanan bini emang nggak ada duanya." "Apa sih, mah, Masakan Erin mah masih kalah sama masakan Mamah." "Masa?" balas Mamah Helda dengan raut di buat konyol. "Nggak percaya deh, coba tanya pasti dia bakalan jawab enakan masakan kamu dari pada masakan Mamah." "Ya karena sekarang saban hari ketemu masakan Erin jadi bilangnya enakan masakan Erin, gimana sih, Mah." "Ya iya lah. Coba kalo yang di temuin Upal tiap hari makanannya si Mbak. Mungkin Upal lebih suka masakannya Embak ketimbang masakan kamu." "Ya makanya, Erin nggak kasih ijin, Mbak buat masak kalo nggak kepepet banget, Mah." Mamah Helda mengangguk dengan mulut yang masih mengunyah masakan menantunya itu. "Jadi alasan kenapa si Mbak nggak boleh nyentuh dapur kamu karena itu?" Erin menjawab dengan gumangan, lalu memindahkan cireng sudah selesai ia goreng kedalam sebuah piring kecil sebelum ia bawa masuk kedalam kamar, di temani dengan satu toples kue kering dan segelas kopi capucino. "Yaudah Erin tinggal masuk dulu, Mah. Jam segini biasanya Upal udah nge-game." pamit Erin sebelum pamit. "Iya percaya deh yang mau ngabisin waktu berdua di kamar mah, mamah mah apa atuh, hanya bini yang bisa ketemu laki kalo malem doang." Dari ekor matanya Erin mencuri pandang pada sang mertua dengan senyum tertahan saat melihat tinggah konyol Mamah Helda yang selalu saja menggoda dirinya. Bukan rahasia umum memang kalo Mamah Helda adalah sosok yang usil, apalagi dengan Papah Darel, Mamah adalah lawan terberat bagi papah, tak akan bisa diam walau mereka hanya berdua sekalipun, sifat jahil keduanya lebih menonjol ketimbang masa romansa mereka. Sekali lagi Erin menggeleng, menyeret kakinya masuk kedalam kamar guna melihat sudah sampai di mana Upal sekarang, masih bergelantungan di alam mimpi kah? atau malah sudah sibuk dengan game online di ponselnya. Dan setelah pintu kamar terbuka barulah Erin bisa melihat jika pangeran tampannya itu sudah bangun walau hanya kedua kelopak matanya saja terbuka dengan tubuh yang masih tergeletak malas di atas tempat tidur dan tangan yang sudah sibuk dengan stik game. "Udah bangun?" Upal hanya menoleh sesaat karena setelahnya kedua netra indah itu sudah kembali menatap layar LED berukuran 32 inc yang tengah menunjukan permainan online yang tenar dengan chiken dinernya. "Kok nggak kamar mandi dulu? malah langsung nge-game. lu ini!" Erin mengomel setelah meletakan nampan yang ia bawa ke atas nakas. Lalu saat mulutnya akan kembali terbuka, ia melihat Upal menepuk nepuk kasur di dedat kepalanya. Erin yang paham, hanya mendengus malas nanum tetap menuruti apa yang Upal minta, Beranjak dari tempatnya dan duduk tepat di sebelah Upal, tak menunggu lama kepala Upal sudah berpindah pada paha Erin tanpa mengalihkan tatapannya. Kelakuan yang selalu di lakukan oleh Upal saat pria itu ingin di temanin saat bermain Game. "Gimana kemaren? Lancar nggak pamerannya?" "hm..." "gimana kemaren pamerannya, ada kendala apa lancar semua?" tanya Erin sedikit ingin membuka obrolan di antara keduanya. terlebih beberapa hari lalu mereka tak banyak bercengkrama, hanya lewat ponsel. belum lagi sosok cewek yang pulang bersama Upal dengan gaya sok akrab kemarin itu membuat mulut Erin gatal untuk segera bertanya. banyak sekali pertanyaan yang sudah tertimbun di kepalanya. hanya saja jawaban Upal setelahnya ganya membuat Erin kembali bungkam. jawaban yang hanya berupa "hm..." yang di susul gumangan malas membuat Erin tak berani bertanya lebih Erin memilih diam karena jika Upal sudah menjawab dengan kata seperti itu berarti pUpalya itu enggan dengan bahasan yang di buka oleh Erin, atau malah pria itu tengah fokus dengan permainannya. hidup bersama dalam hitungan waktu yang tak sebentar membuat Erin paham akan tingkah laku Upal. bocah itu boleh saja tak banyak berkata, acuh dan terkesan dingin. namun di balik sifat menyebalkannya itu, Upal adalah sosok penyayang dan penuh perhatian pada orang terkasihnya. namun tak jarang juga Pria itu akan mudah bosan jika arah pembicaraan tak cocok di hati. atau kadang saat merasa permainan gamenya terganggu ia akan menggerutu tak suka. contohnya seperti saat ini. yang bisa Erin lakukan hanya diam, membelai rambut lembut Upal dengan sayang. sedabgkan sebelah tangannya membuka beberapa aplikasi onlineshop, melihat beberapa barang yang ia inginkan. enaknya hidup bersama orang seperti Upal, walau terkesan cuek dan tak peduli, adalah saat Erin yang terbiasa menyimpan foto barang yang ia inginkan malah membuatnya mengetahui kebiasaan Upal yang kadang mengecek ponselnya, karena beberapa hari setelahnya ia mendapatkan barang yang sama persis seperti foto di galerinya itu dari Upal. hal yang tak pernah ia duga sebelumnya. Upal yang terkesan tak peduli nyatanya menyimpan tingkah konyol yang jelas itu sangat manis, dan untungnya juga Erin sama sekali tak pernah berchating dengan cowok, yang mana Erin memang tak suka chat dengan cowok lain selain Upal. karena jika saja chatingnya di baca oleh pUpalya, Erin tak tau seperti apa Upal saat cemburu. saat marah saja Upal bisa menyeramkan apalagi saat cemburu. tapi tunggu, sepertinya membuat Upal cemburu adalah hal yang menyenangkan, apalagi saat melihat ekspresi Upal saat cemburu mungkin akan sangat lucu. tapi, lagi Erin menggeleng. tak mungkin ia melakukan itu, bisa saja kan Upal yang cemburu bisa saja kalap hingga mengucapkan talak kepadanya. amit-amit deh, jangan sampai itu terjadi. dan setelah mengetahui kebiasaan Upal, malah memudahkan Erin, karena saat Erin menginginkan sesuatu ia tak perlu lagi repot-repot untuk mencari. entah itu dari makanan ataupun barang, Erin hanya tinggal mencari beberapa barang di toko online atau i********:, menyimpan screenshot dalan galeri, dan tara, saat malam hari Upal mulai membuka ponsel untuk melihat beberapa chatnya, maka Pria itu akan menilik galeri Erin. dan Erin hanya tinggal menunggu, tak lama dan setelahnya Erin akan mendapatkan apa yang ia ingkan. mudah memang, tapi Erin bukan lah wanita yang banyak inginnya. wanita itu hanya menginginkan barang yang memang sangat ia butuhkan. seperti saat ini, Erin yang entah kenapa begitu menginginkan pakaian anak-abak itu wanita langsung membuka toko online dan menilik beberapa baju yang terlihat lucu di matanya. hingga tanpa sadar senyum cerahnya terbit begitu ia melihat beberapa koleksi pakaian bayi yang terlihat begitu lucu. dres merah muda untuk anak perempuan dan juga setelan jas untuk anak laki-laki. kelakuan yang tanpa di sadari di amati oleh Upal, hanya sekilas tentu saja. karena Upal yang sudah sangat paham dengan kelakuan wanitanya hanya acuh dan kembali fokus pada permainannya, yang dia lakukan hanya tinggal cek ponsel dan sedikit menguras tabungannya untuk menuruti kemauan wanitanya itu. lalu tepukan pelan di tangan kiri membuat Erin sedikit tersentak kemudian mendengus saat sadar kegiatannya mengelus kepala terhenti hingga membuat pUpalya itu protes tanpa suara, tak ingin kegiatannya berselancar di toko online terganggu Erin memilih mengelus kembali rambut Upal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN