Se-La 19

1643 Kata
Se-La 19 Hal yang paling di benci Erin selain menunggu, adalah mengantri, terlebih harus berdesakan hanya untuk mendapat makanan untuk mengisi perut kosongnya, dan bukan hanya perutnya saja, melainkan perut kedua sahabatnya yang kini tengah asik tertawa dengan santainya di bangku paling ujung. Bukan dia ingin, melaiknan karena dirinyalah yang bertugas mengantri makanan untuk hari ini, dan Erin tak bisa mengelak, karena semua alasan sudah ia pakai untuk minggu lalu. Mendengus kesal sembari melirik tajam kearah kedua temannya, Erin hampir saja mengeluarkan sumpah serapah saat sebuah tangan hampir saja mendorong bagian perutnya, jika saja ia tak ingat akan hal yang ada di perutnya. Tangannya bergerak, mengusap lembut perut yang terlihat datar itu, dan sedikit memberi perlindungan di sana, tentu saja untuk menghindari hal yang tak di inginkan. Sesak dan terhimpit memang sering terjadi di kantin, terlebih saat jam istirahat seperti saat ini, entah karena murid di sekolahnya yang selalu saja kelaparan di jam itu, atau apa memang kantin adalah tempat asik untuk bercengrama. Entahlah, Erin hanya menghela nafas pelan merasakan semua yang kini ia alami, jika saja ia masih memiliki alasan ampuh, mungkin sekarang dirinya tak perlu repot berdesakan seperti saat ini. Kembali Erin menoleh, menatap jengah kearah kedua sahabtanya, terlebih kearah Mili yang sibuk dengan ponselnya dengan senyum yang tak luntur di kedua sudut bibirnya, “dasar sahabat nggak tau diri, coba aja lo tau kalo gue lagi ha-“ gerutuannya mendadak terhenti saat ia merasa sebuah cekalan di tangan kirinya, bahkan sebelum ia sempat menoleh untuk melihat siapa pelakunya, tubuhnya sudah tertarik keluar dari desakan murid kelaparan. Dengan tubuh yang terbilang mungil dan kondisi yang tak siap, tentu saja Erin akan tertarik dengan mudah. “Lo apa-ap-“ makian kalimat yang akan ia lontarkan pada sosok yang menariknya tadi harus Erin telan kembali, saat melihat tatapan tajam menghunus sepasang netranya. Erin diam, tak lagi protes ataupun memberontak. “Lo ngapain?” Erin melongo, menatap tak percaya pada sosok yang di hadapannya kini, tatapan boleh saja tajam, tapi kenapa intonasi terkesan santai dan meledek. “lo tanyak gue ngapain?” Tanya Erin sembari menoleh kanan kiri dan belakang, namun tatapan itu memang terarah padanya. Mendesah pelan, Erin memberanikan diri menatap sepasang netra yang masih menatapnya kini. “Emang kurang jelas kata-kata gue?” “Nih anak, lo tanyak gue lagi ngapain pas gue lagi antri di kantin?” Erin menatap tak percaya, ini orang kenapa kali udah tau orang di kantin masih aja tanyak. “Helow orang kalo lagi di kantin ya jelas gue lagi antri beli makanan lah. Emang ngapain lagi?! Ngemis?!” “Balik gih” ucap Upal menunjuk bangku yang tengah diduduki kedua sahabatnya dengan dagu, seolah tak peduli dengan ocehan panjang Erin tadi. Berbeda dengan Erin yang malah melongo kian tak percya. “Enak aja nyuruh balik-balik. Terus apa kabar makanan gue, gue belom dapet makanan juga?” Mendengus kesal, Erin membuang wajahnya, menatap sederet makanan yang ia inginkan, dan tentu saja kumpulan manusia lapar yang kini tengah berdesakan. Senarnya jika di suruh memilih, jelas Erin memilih untuk kembali ke bangkunya dan duduk dengan santainya, tapi jika itu ia lakukan sekarang jelas akan membuat kedua sahabatnya berkicau tiada henti. “gue yang beli!” Menoleh cepat, seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar, Erin menatap lekat kearah Upal. Ada angin apa gerangan hingga membuat seorang Upal mau bersusah payah membelikan makanan untuk dirinya. Terlebih ini di tempat umun dan di kantin sekolahnya, bisa saja kan mereka yang mengenal Upal bisa curiga dengan setatus keduanya. Bukan Ria yang biasanya. “Lo ngomong apa barusan? Gue nggak salah denger nih?” Tanya Erin memastikan, takut jika ia salah tangkap, dan hanya halusi semata. “Lama, buru balik!” Merasa ia tak salah dengar Erin mengangguk dengan senyum tertahan. Lumayan lah, daripada nanti Upal berubah pikiran kan. “Yaudah iya, beliin 2 mangkok bakso sama minumnya jus jeruk dua buat sahabat gue noh! Buat gue lo tau kan apa yang gue mau! Soto nggak pake pe-“ ocehan Erin terpotong saat tubuhnya malah terdorong pergi begitu saja. Mengedikan bahu, Erin hanya menurut, terlebih kakinya sudah hampir kebas karena terlalu lama berdiri dan berdesakan. “buru pegi. Berisik amat!” Tanpa di suruh dua kali, Erin dengan senang hati berbalik dan melangkah kearah sahabatnya, hingga membuat tawa renyah dan gosip tak jelas yang keluar dari mulut kedua sahabatnya mendadak lenyap, di gantikan dengan tatapan heran saat melihat Erin duduk dengan santainya di tempat duduknya, tanpa memperdulikan tatapan kedua sahabatnya Erin mengeluarkan ponselnya, memainkan benda pipih itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Lah, ini bocah kenapa geh, dateng asal maen duduk aja?” Tanya Mili heran melihat gelagat Erin yang tak bisanya. Pun dengan Risa yang ikut mengangguk mengiyakan pertanyaan Mili, “Iya, enak amat dateng asal maenan hape, terus apa kabar makanan kita-kita?” Malas menjawab Erin hanya mengedikan dagunya menunjuk Upal yang kini tengah menunggu makanannya sembari memainkan ponsel di tangan, Mili dan Risa mengikuti arah yang di tunjuk Erin. Namun hanya mengerutkan kening tak mengerti maksud arah yang di tunjuk Erin, jelas karena di sana begitu banyak orang membawa baki berisi makanan. “Lo nunjuk apaan kali geh, di sono banyak bocah kali.” Ucap Mili yang tak mengerti maksud Erin. “Tau geh, nggak jelas banget” lanjut Risa seperti biasanya. “Bilang aja kalo lo males ngantri kan!, terus gimana perut gue yang udah nyanyi dari tadi. Nggak kasian amat.” Merasa jengah karena omelan kedua sahabatnya, Erin berdecak kesal, menatap kedua sahabatnya dengan malas. “Ck, lo orang ini, noh makanan lo lagi otw kesini, bawel amat kali geh” ucap Erin menujuk tepat kearah Upal yang kini sudah melangkah kearah mereka membawa nampan berisi 4 buah mangkuk seperti pesanan Erin tadi. Bukan hanya itu, seperti dugaan Erin tadi, kehadiran Upal di kantin itu jelas menjadi sajian langka yang hanya terjadi satu banding seribu kemungkinan. Bahkan dengan cara Upal menenteng nampan saja Riuh para siswa di kantin itu menjadi tak tertolong lagi, tak jarang terpekik karena pesona Upal yang terkesan cuek dingin namun sedap di pandang. Riska masih belum sadar jika yang di maksud Erin adalah Upal, dia hanya terpana melihat kehadiran sosok yang tengah berjalan di belakang Upal dan menenteng sebuah nampan berisi minuman dan satu mangkuk yang entah berisi apa. Namun lain dengan Mili yang tingkat kepekaanya tergolong tinggi. Hanya melihat sosok Upal yang berjalan kearah mejanya dengan pesonanya saja Mili sudah mengerti. “Stt... Lo serius kak Upal yang bawa makanan kita?” Bisik Mili memastikan jika dugaanya tak salah. Dan anggukan dari Erin jelas membenarkan dugaan Mili. “Sejak kapan kak Upal makan di kantin gedung sekolah kita?” Bisik Mili lagi, namun rasa penasarannya harus terhenti saat sosok Upal sudah jauh lebih dekat. Erin meletakan ponselnya saat Upal baru saja meletakan nampan dan memberi tatapan pada Erin yang mengisyaratkan untuk berhenti bermain dan makan. Gadis dengan rambut di cepol itu menoleh kearah Mili yang selanjutnya menunjuk kearah Upal “dari pada bisik-bisik nggak jelas, kenapa nggak langsung tanya aja keorangnya, neng?” Ucap Erin santai sembari menerima semangkuk soto dari Upal tak lupa dengan jus mangga kesukaan Erin. “Gue laper mau makan dulu, jadi langsung aja sama kakak Upal lo ini” Mili melotot tak percaya mendengar ucapan Erin, bahkan sangking kesalnya Mili menendang kaki Erin dari bawah. “Apasih!” Sentak Erin sedikit meringis merasa sakit di kakinya. “Apanya yang apasih?” kali ini bukan Mili ataupun Upal, melainkan sosok yang mengekori Upal tadi. Adi, salah satu sahabat Upal yang menjalin asmara dengan Risa. “Ehh, nggak, kaki gue baru keinjek semut gajah makanya gue reflek.” Ucap Erin melotot kearah Mili yang memilih diam menundukan kepalanya. “Oh gua kira apaan.” Erin memasang cengir khasnya sebelum melanjutkan acara makannya. Tak peduli Upal menatapnya tanpa henti, Erin hanya ingin menghabiskan sotonya. Melihat bagaimana Erin dengan lahapnya menyantap makanan adalah hiburan tersendiri bagi Upal, terlebih beberapa minggu lalu Erin sempat kehilangan selera makan hanya karena keinginannya tak terpenuhi. Dan itu alasan kenapa Upal datang ke kantin hari ini. Untuk memastikan jika wanita yang berharga baginya dapat makan dengan lahap dan menuruti apa keinginan Erin. Bisa di bilang menjaga dan mulai over pada Erin. “Lo kenapa ngeliatin gue dari tadi?” Tanya Erin yang merasa aneh pada Upal yang tak hentinya menatap dirinya. “Lo nggak makan?” Tanya Erin setelah melihat gelengan kepala dari Upal. “Enggak, masih kenyang” jawabnya singkat. Erin hanya mengangguk “enak ya, kenyang Cuma liat gue makan, besok lagi nggak usah makan deh, cukup liat gue aja” gumangnya pelan namun masih mampu di curi dengar oleh Upal, Erin yang asik dengan gumangannya kembali menyerupu kuah soto di hadapannya. Tak peduli dengan Upal. Lalu setelah satu mangkuk soto miliknya kandas, Erin mulai menggasak jus mangganya. Dari ekor matanya Erin melihat mangkuk bakso milik Upal masih utuh, mangkuk yang hanya berisi beberapa pentol bakso tanpa teman pelengkan lain selain daun seledri dan bawang goreng, entah kenapa hanya melihat itu perut Erin kembali kroncongan. “Lo masih kenyang kan?” Tanya Erin memastikan, sedangkan Upal yang seolah tau akan kemauan Erin hanya mendorong mangkuk di hadapannya dan memberikan pada Erin. “Abisin, kalo masih laper” ucap Upal setelahnya, tak peduli jika perlakuannya itu malah membuat Mili dan Riska menatap tak percaya dengan apa yang di ucapkan Upal. Terlebih Mili yang kian terperangah dan menjadi penduga tingkat akut akan perubahan Upal kini. Erin mendapat apa yang ia inginkan tentu saja tak akan menghabiskan banyak waktu, wanita itu langsung melibas habis bakso yang ada di hadapannya tanpa peduli tatapan heran kedua sahabatnya. “thanks, laper soalnya.” Upal kembali mengangguk. Menumpukan tangan kirinya di atas meja guna menopang dagu manisnya, mengamati Erin dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Tapi tidak dengan Mili yang sudah paham akan tatapan memuja dari Upal. Diam-diam Mili mulai menyimpan banyak tanya tentang hubungan kedua anak manusia ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN