Se-La 20
“rin, bentaran deh.” Erin yang tengah asik dengan ponselnya sejenak berhenti, menoleh pada Mili yang menahan langkahnya dengan sebelah alis terangkat. “sebenernya lo ada hubungan apa sih sama Kak Naufal?” ucap Mili sedikit berbisik sembali melanjutkan langkah pelan ke dalam kelas, tak ingin jika ucapannya mampu dicuri dengar oleh Riska yang kini berjalan tepat di depan mereka.
Mendengar pertanyaan dari Mili membuat Erin terdiam sesaat, menatap lekat kearah Mili dengan kening berkerut, Erin tentu sudah bisa menebak jika Mili sahabatnya ini akan memberikan pertanyaan seperti ini. Terlebih perlakuan Upal tadi bisa di katakan sangat janggal.
Masih dalam diam, Erin mengikuti langkah kecil Mili, memutar otak guna mencari jawaban yang pas untuk itu. Lalu hembusan nafas pelan keluar begitu saja, menandakan jika Erin menyerah. “menurut lo gimana?”
Memutar bola mata, Mili melotot pada Erin. “serius, sa. Kepo gue!”
Jujur Erin sama sekali tak ingin menyebunyikan setatusnya pada sahabatnya, karena Erin tahu jika terus menyembunyikan sesuatu dari kedua sahabatnya akan membuat hubungan mereka merenggang. Bukan Erin tak percaya, karena ia tahu bagaimana sifat sahabatnya ini. Hanya saja rasanya Erin belum siap untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
“emmm... gue belom bisa kasih penjelasan untuk sekarang ini, sory.” Jawab Erin pelan, menatap Mili yang sudah memasang raut kecewa, seperti yang ia duga. “tapi. Yang pasti, apa yang lo liat, itulah yang terjadi. Jadi terserah apa persepsi lo tentang hubungan gue sama Kak Naufal lo itu.” Lanjut Erin lagi.
Mata Mili membola sempurna, dengan mulut terbuka sedikit lebar. “jadi ... lo sama kak Naufal. PACARAN?” ucap Mili sepontan dengan intonasi cukup kuat. Melupakan jika mereka tengah berbisik Ria sedari tadi.
“Mili! Pelan dikit bisa kali!”
“ups... sory, kelepasan.” Balas Mili memasang cengir tak berdosanya.
“biasaan!”
“tapi seriusan, lo pacaran sama Kak Naufal?” bisik Mili yang sudah merangkul lengan Erin.
Mengangguk pelan, Erin menggigit bibir tipisnya, menahan diri untuk menutupi kegugupannya, terlebih teriakan Mili tadi nyaris saja mampu dicuri dengar oleh banyak orang. “gue nggak bisa jawab iya apa nggak nya. Cuma biar lo bisa lebih anteng lagi, anggep aja itu jawaban yang hampir mendekati.”
Lagi Mili terkejut bukan main, sahabatnya ini, orang terdekatnya nyatanya memiliki hubungan dengan cowok setampan Upal, Cowok yang pernah disukai olehnya walau hanya dalam banyang? “gila! Sumpah ini Gila!” ucap Mili menggelemg beberapa kali. “gue nggak nyangkak, sahabat gue bisa ngegaet Naufal si cowok dingin it-“ ucapan Mili terhenti, begitu pula dengan langlah kakinya, bahkan tangan yang bertengger di lengan Erin ikut andil untuk menghentikan langkah sahabatnya ini. “tunggu... jangan-jangan lo emang udah ada hubungan sama Kak Naufal selama ini. Dan lo adalah alasan Kak Naufal nolak begitu banyaknya cewek yang cantiknya nggak ketulungan itu!” tuduh Mili dengan jari telunjuk mengarah pada wajah Erin.
“girls, lo orang pada ngapain, elah. Dari tadi jalan masih aja di situ!” Erin dan Mili menoleh secara bersamaan pada Riska yang sudah berdiri di depan kelas dengan ponsel di tangan dan raut aneh di wajahnya. Lalu Erin dan Mili menoleh bersamaan lagi, saling menatap beberapa saat sebelum Erin mengedikan bahu sebagai jawaban pertanyaan Mili tadi dan berjalan cepat menyusul Riska sebelum ke-kepoan bocah itu mencapai titik rasa kepo Mili.
◆◆◆
Adi kembali menilik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, yang kini sudah menunjukan pukul 14.37, dan sebentar lagi pertandingan futsal antara timnya melawan sekolah tetangga akan segera di mulai.
Cowok berambut cepak dengan telinga bertindik sepasang magnet itu melarikan wajahnya, menilik setiap sudut di tempat itu untuk mencari sosok yang tengah di tunggunya. Merasa tak menemukan sosok yang dicarinya, Adi menatap pintu masuk yang terbuat dari jaring, lekat, sembari mengeluarkan ponsel dari dalam saku celanannya.
“Udah, nggak usah terlalu di tunggu, anak itu bakal telat kali ini,” ucapan itu membuat Adi memalingkan wajah dari ponselnya. Menatap Dave yang kini tengah mengenakan sepatu futsalnya. “Dia pesen ama gue sebelum kesini tadi. Katanya ada perlu bentaran.”
“Perlu?” Ulang Adi, kembali melarikan sepasang netra kearah layar berukuran 5.8 inc yang tengah menampilkan sebuah kontak nomor. “Sejak kapan itu bocah jadi sibuk kayak sekarang, apalagi ini tentang Futsal, hal yang nggak pernah bocah itu lewatin,” jawabnya sembari menatap Dave kembali.
Kedikan bahu dari Dave cukup untuk membungkam mulut Adi, yang kini sudah kembali menatap layar ponsel, binggung untuk menelpon Upal atau mengikuti saran dari Dave, diam dan membiarkan bocah itu telat.
Tepukan di pundak menghentikan aksi bingungnya, Dave sudah berdiri di sebelah tubuhnya, dengan tatapan menatap lapangan yang masih penuh oleh beberapa anak yang tengah bermain. “Upal percaya, kalo kita bakal menang di babak pertama. Dan semua diserahin ke elo.” Dave menoleh, menatap Adi dengan senyum khasnya, tipis dan terkenalanis. “Dan lo harus yakin, secara lo wakil kaptennya, dan di antara kita Cuma lo yang paling cerewet. Jadi cocok lah!”
“Tapi nggak bisa gitu lah Dev, lo kan tau pertandingan kali ini jelas buat nentuin siapa yang berhak make lapangan ini kedepannya. Dan kalo nggak ada Upal, Lo tau sendiri gimana cara mainnya Dimas!”
Kekehan dari mulut Dave kembali membungkam mulut Adi, dengan akhiran sebuah decakan kesal keluar begitu saja karena melihat sahabatnya itu terlalu santai dalam menanggapi sebuah masalah. Belum lagi, pertandingan ini jelas perlu untuk timnya.
“Lo laki kan? Lo juga jago, jadi kenapa harus takut? Ada atau nggaknya, Upal di sini kita bisa beresin tim nya si Dimas, apalagi ini Cuma suruh nahan di babak pertama, jadi gampang lah itu!”
“sialan!” balas Adi menoyor kepala Dave jengkel.
◆◇◆
“Bang, pesen batagor porsi lengkap satu, nggak usah di potong, sama bumbu kacangnya di banyakin, nggak pake kecap saos,” Upal baru saja turun dari motornya tepat di grobak penjual batagor yang terkenal dengan logo love di setiap sudut grobaknya.
“Siap, mas, tunggu bentaran yak.” Mangangguk pelan, diikuti embusan napas lelah, pasalnya untuk sampai ke tempat di mana si mamang Lope penjual batagor ini sangat memakan waktu dan tenaga. Belum lagi tempat yang sama sekali belum Upal tahu membuatnya dirinya berputar-putar, mengukuti arahan dari Erin yang nyatanya sama sekali tidak tepat.
Semua hanya karena Erin yang tiba-tiba menginginkan batagor mamang Lope yang pernah mereka makan beberapa waktu lalu. Tentu saja awalnya Upal menolak dengan tegas karena hari ini dirinya ada pertandingan Futsal. Hanya saja tangisan Erin dengan rengekan bagaikan bocah membuat Upal tak bisa berkutik. Dan di sinilah dia sekarang.
Upal berjalan kearah kursi yang terjejer di bawah pohon agak besar. Lalu setelah p****t kenyalnya sudah mendarat di atas kursi, Upal mengitari sepasang netranya, menatap sekeliling, dan setelahnya ia memilih mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Ibu jarinya langsung dengan sigap, membuka sebuah aplikasi chat, yang menampilkan percakapan terakhirnya dengan Erin. Niat hati ingin mengirimkan pesan jika ia sudah sampai, namun urung, karena sebuah nomor sudah menelponnya melalui sebuah aplikasi chat.
“Udah ketemu belom beh?” Suara sedikit keras dengan aksen cempreng dan nyaring langsung menyambut telinga Upal.
“Hm, lagi dipesen” Terdengar gumangan dari sebrang sana. Dan Upal tahu jika ini sudah terlalu lama. “Sabar. Pulangnya bakal cepet”
“Lama ih, guenya udah laper!”
Menarik napas pelan Upal menyahut setelah menghembuskan napas dengan pelan. “gimana lagi, mamang yang jual baru ketemu.”
“Bodo! Gue laper, pulang beliin gue nasi kucing bang Jaka!” Setelahnya, panggilan telpon terputus sepihak, Upal menatap tak percaya pada ponsel yang ada di tangannya kini. Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa pasrah menuruti semua kemauan wanita yang saat ini tengah mengandung buah hatinya.
Jangan sampai satu perkataan saja membuat Mod gadis itu anjlok, jika iya maka habislah dia. Marahnya Erin bukan lah perkara enteng untuk di taklukan.
Walau di situasi sekarang mungkin bisa di bilang mudah, cukup beri kecup ditambah elus sedikit bisa meluluhkan Ibu hamil satu itu, tapi tetap saja butuh usaha agar si Erin tak berubah menjadi kucing galak yang siap mencakar sekujur tubuhnya.
“Buatin satu porsi lagi mas, yang pedes!” ternyata menghadapi kemauan wanita yang tengah bertubuh dua membuat perutnya berteriak. Melarikan tatapannya ke benda yang melingkar di tangannya, Upal berdecih, kemudian memilih mengetikan pesan untuk Dave yang mungkin masih menunggu kehadirannya.
“gimana situasi?”
“Mainnya di undur setengah jam, si bocah nabah setengah jam buat tambahan waktu.”
Upal mampu bernapas lega saat ini. Sedikit tenang saat mendapat balasan dari Dave, yang mengatakan pertandingannya di undur, dan dia masih punya cukup waktu untuk menyelesaikan kemauan istri manjanya di rumah.
“Udah mas!”
Upal beranjak, menerima kantong pelastik yang diulurkan si mamang, “jadi berapa semua?”
“20 rebu aja mas,” jawabnya sembari tersenyum, dan menunggu Upal mengeluarkan beberapa lemabar uang lima ribuan dan selembar sepuluh ribuan.
“Makasih mang.” Ucapnya sembari beranjak, tak ingin banyak membuang waktu lagi.
◆◇◆
Upal memutar kunci pintu unit apartemennya, setelah beberapa menit yang lalu ia sampai. Bukan alasan masuk tanpa berucap salam. Pasalnya, sudah beberapa kali Upal berucap salam namun sama sekali tak ada jawaban, mungkin Erin tertidur, itulah yang di pikirkan oleh Upal dan memilih masuk menggunakan kunci cadangannya. Terlebih baju yang basah karena air hujan yang sialnya turun dengan tak tahu dirinya hingga membuat Upal basah kuyup, dan tak sabar untuk segera berganti pakaian.
“Sa, pesenan lo nih!” tak ada jawaban, dan hanya suara bising dari sound tv yang mengisi ruang tamu.
Beranjak dari sana Upal melangkah masuk, dapur adalah tujuan pertamanya guna meletakan semua makanan yang di belinya tadi, kamudian kakinya membawa tubuh masuk ke dalam kamar, dan benar saja di sana terlihat sosok Erin tengah terlelap di atas ranjang dengan tubuh yang terbungkus dengan selimut.
Menggunakan kedua tangannya Upal membuka satu persatu kancing kemejanya sembari mendekat kearah kamar mandi, mengambil handuk tang tersampir di sana, kemudian melilutkan di pinggangnya, ia meletakan kemeja dan celana panjanghnya kedalam keranjanh palaian kotor, kemudian masuk guna membasuh tubuh yang baru saja di guyur air hujan.
Tak perlu waktu lama, setelah selesai dengan kegiatan kamar mandinya, Upal beranjak keluar dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambut dengan handuk.
Hembusan napas berat terdengar keluar dari mulutnya saat sepasang nertanya menatap sesuatu yang tak asing lagi.
Bergerak dari sana, Upal memungut kain yang tercecer di atas lantai, entah itu kemeja, Korset, bahkan pakaian dalam Erin yang selalu saja teronggok di atas lantai.
Setelah meletakan semua kain itu kedalam keranjang kotor, Upal bergerak mendekat kearah Erin. Duduk di sisi ranjang, perlahan tangannya bergerak mengelus puncak kepala Erin. Senyum tipis terukir dengan sendirinya saat matanya tak pernah lepas menatap keindahan tuhan yang tak pernah sekalipun membuatnya bosan. Erin dengan dengkuran halusnya adalah hal yanh selalu membuat Upal damai hanya dengan menatapnya.
Perlahan ia memajukan wajahnya, mengikis jarak keduanya, bibirnya langsung menyentuh kening Erin, memberi kecupan lembut disana. Lalu tangan yang menopang tubuhnya tadi ia gunakan untuk mengelus bibir Erin pelan. Benda kenyal yang selalu menjadi candunya selama ini. Tak ingin berlama, Upal mencuri kecup bibir Erin sebelum berbisik dan bernajak menemui kedua sahabatnya.
“mimpi indah, Rin. Love you.”