Se-la 4

1929 Kata
Se-la 4 Tak perlu menunggu matahari terbit untuk menyambut pagi, tepat di saat jam masih menunjukan pukul empat lewat tiga pagi Erin terbangun dari tidurnya, kebiasaan yang selalu saja ia lakoni satu tahun belakangan, sekarang mungkin dia sudah menjadi sosok rajin yang selalu bangun sebelum matahari terbit. Namun dulu, dia masih sama seperti gadis remaja pada umumnya. Hanya akan bangun saat sang bunda sudah berteriak kencang diikuti gedoran pintu yang membuatnya harus terpaksa bangun, walau kantuk jelas masih menyerang pelupuk matanya. Dia harus berusaha demi tidak mendapat Omelan panjang. Sayangnya dulu dan sekarang jelas berbeda. Di saat masa jaya dan bebasnya dulu, jelas dia bisa melakukan semua hal semaunya. Begadang di Sabtu malam hanya untuk maraton menonton anime keluaran terbaru, atau bahkan membaca komik hingga lupa waktu. Namun sekarang semua sudah terlewat, usia memang masih tergolong remaja, namun pola pikir, Erin harus belajar merubahnya. ia memiliki tanggung jawab yang harus di tanggung, dan sosok yang harus ia urus. Dia bukan lagi gadis remaja yang masih lajang, tapi sudah memiliki seseorang yang harus dia abdi. Erin merentangkan tangannya, menggunakan punggung tangan kirinya untuk menutup mulut yang tengah menguap. Posisi masih sama seperti biasa ketika dia bangun, terlentang dengan sebuah lengan hangat membelit bagian perutnya, dengkuran halus dan hembusan nafas membelai puncak kepalanya, dan dekapan hangat yang selalu membuat tidurnya nyaman. Posisi tidur yang sudah hampir dua tahun ini ia dapatkan dan sulit untuk dia lepaskan. Walau di awal memang harus ada perselisihan ketat, tapi seiring berjalannya waktu Erin sama sekali tak bisa tanpa belitan tangan hangat itu. Bahkan bisa dikatakan tak akan bisa tidur nyenyak jika tak ada belitan tangan kekar itu. Bukankah hidup itu lucu? Candu saat dirinya mulai terbiasa akan sesuatu yang sukses membuat dirinya nyaman. Maka berhati-hatilah dengan sesuatu yang membuatmu nyaman, karena gak itu jelas tidak mudah untuk dilakukan. Akan banyak hal yang terjadi jika sudah terlalu larut dengan kebiasaan dan candu itu sendiri. Contohnya saja Erin, dia akan kesulitan untuk tidur jika lengan hangat itu tak melilit perutnya dan memberi kehangatan di sana. Sekali lagi Erin menguap, sebelum menyingkirkan pelan lilitan tangan kekar itu secara perlahan dan beranjak turun, pagi ia harus menyiapkan segala urusan t***k bengek dari urusan sarapan, dan segala macam keperluan lainnya. Dengan tubuh sempoyongan dan kelopak yang masih berat untuk dibuka Erin bergerak perlahan, melangkahkan kaki malasnya kearah kamar mandi. Lagi ia menguap mengeluarkan segala aroma yang tersisa di dalam mulutnya. Aroma khas yang selalu dia keluarkan di setiap paginya. Lalu, tidur yang hanya 3 jam lamanya karena sibuk mengerjakan segala jenis laporan penelitian untuk tugas minggu depan membuat kantuk di mata Erin sulit untuk dikendalikan. Tak peduli seberapa kasar ia membasuh wajahnya di kamar mandi, hasilnya tetap saja sama. Bahkan ia hampir saja terpelanting di atas lantai kamar mandi karena kesadarannya yang kurang. Tubuhnya masih begitu lemas, dan dia masih sempoyongan karena kantuk itu. Matanya benar-benar pedih karena cahaya terang di kamar mandi. Semua tentu saja karena dirinya yang memaksa Upal untuk mengganti lampu kamar mandi agar terlihat lebih terang dari biasanya. Alasannya jelas karena dia takut gelap, apalagi saat di kamar mandi. Lalu tak lebih dari sepuluh menit di dalam kamar mandi, Erin sudah beranjak, dapur adalah tujuan pertamanya, dan penyimpanan beras adalah sasarannya. Hidup sendiri tanpa orang tua di saat masa remaja adalah hal yang cukup berat dan menuntutnya untuk menjadi pribadi mandiri. Namun semua itu tak menyurutkan semangatnya, dengan ini ia tau seberapa sulitnya menjadi seorang ibu yang harus menyiapkan segala t***k bengek keperluan keluarganya, ah... Jika memikirkan itu ia jadi rindu akan masa belianya dulu, bangun langsung mandi tanpa perlu mengerjakan ini itu, sarapan langsung tersedia tanpa perlu bersusah payah untuk memasak, dan tak perlu mencuci pakaian kotor, karena semua sudah di sediakan oleh bunda. Menggeleng malas guna mengusir kantuk di matanya, Erin beranjak dari race cooker, bergerak dengan mata sayu kearah pantri untuk membuat segelas kopi pahit yang ia harap mampu menghilangkan rasa kantuk di kepalanya. Tak menghabiskan waktu 5 menit, Erin beranjak, menarik kursi makan dan meletakan gelas di atas meja, setelahnya disusul bantingan tubuh lesu di atas kursi. Tubuhnya langsung luruh di atas meja makan, seolah kantuk tak bisa ia kuasai lagi. Bersyukur asap yang mengepul disertai aroma kopi pagi perlahan mulai mampu menghilangkan kantuk di matanya, kopi bukanlah kesukaan Erin, hanya saja karena kantuk di matanya membuat ia harus memaksa menyesap kopi dalam keadaan panas, tak peduli lidahnya terbakar ataupun tidak. Ia ingin cepat mendapatkan kembali kesadarannya sebelum memulai rutinitas pagi harinya. Karena jika dia telat sedikit saja, maka dia akan benar-benar kerepotan nantinya. Dia mulai sibuk, walau dengan tubuh malas, dia mulai terbiasa, kesadarannya mulai kembali dan dia mampu mengerjakan semua pekerjaannya. Tepat saat Jarum panjang jam dinding baru saja menyentuh angka 1 dan membawa jarum pendek ke angka 5, Erin menarik nafas panjang saat mendapati semua pekerjaanya telah selesai, dan kini di hadapannya sudah tersaji dengan rapih dua piring nasi goreng, satu gelas kopi dan juga s**u putih. Tugas terakhirnya hanyalah kembali ke kamar, membangunkan si tukang dengkur dan menyuruhnya untuk menjadi imam di pagi ini. Erin menggeleng pelan saat baru saja ia membuka pintu dan mendapati Upal dengan tubuh tergulung selimut tebal dan posisi telungkup, disertai suara dengkuran agak kasar. Bahkan kini senyum geli terbit di wajah Erin saat sepasang netranya menangkap air liur yang keluar tanpa dosa dari bibir Upal. Sungguh Kebiasaan yang sulit di hilangkan dari sosok Upal. Bergerak mendekat, Erin duduk di tepian ranjang, tangannya bergerang mencuncang pelan tubuh Upal. "Hey bangun yuk, udah jam 5." ucapnya pelan, dengan tangan yang sudah berpindah, berganti tepukan pelan di pipi Upal. Lalu decakan pelan kemudian muncul dari mulut Erin saat Upal hanya bergumang dan malah semakin menggulung tubuhnya dalam selimut. Erin tahu jika semalam Upal lembur mengerjakan pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini, dan baru pukul tiga pagi pria itu baru bisa memejamkan matanya. Pekerjaan di waktu menempuh pendidikan yang malah kian menuntut waktunya membuat Erin agak cemas akan hal itu. Soal bisa saja kelelahan dengan itu semua, dan terlebih bisa saja Upal malah menduakan pendidikannya dan fokus dengan pekerjaannya, jika hal itu terjadi. Bukan hanya Upal saja, tapi dirinya juga akan terkena imbasnya. Belum lagi Erin takut jika sampai Upal jatuh sakit karena telalu sering begadang, dia tahu tepat setelah kejadian satu tahun silam pria itu memang memiliki tanggung jawab penuh atas dirinya, tanggung jawab untuk menopang segala kebutuhan hidupannya, dan Upal sudah membuktikan itu. Tanpa bantuan orang tua dia mampu, walau jelas setiap orang tua tak mungkin lepas tangan begitu saja, karena memang setatusnya sekarang adalah ulah kedua orang tuanya. Dan karena itu setiap bulannya ayah dari Erin maupun Upal mengirimkan sejumlah uang untuk kebutuhan lain. Hanya Upal bersikeras tak pernah mau memakai uang itu jika memang tak dibutuhkan, ia ingin menanggung beban dan semuanya sendiri, hanya saja karena pekerjaanya membuat Upal tak pernah beristirahat, Upal itu terlalu memfosir tenaganya. Dan Erin tak ingin Upal terlalu memaksakan tubuhnya untuk selalu bekerja. "Pal, udah jam lima loh ini, kamu mau bangun apa nggak?" Lagi Erin masih berusaha dengan sabar membangunkan Upal yang terlihat enggan untuk membuka matanya. "Limha menhit agi, ngantuk!" Gumangan pelan dari mulut Upal yang tertutup selimut membuat Erin mendesah pasrah, mungkin membiarkan Upal tidur lebih lama lagi bukan masalah, biarlah pria itu beristirahat untuk hari ini. Erin menggeleng pelan dengan senyum yang masih tertahan di ujung bibirnya. "Yaudah gue keluar dulu, tapi lima menit lagi beneran bangun loh!" ucapnya sembari merapihkan selimut sebelum beranjak meninggalkan kamar. =»Selaras langkah... Setelah menunaikan kewajibannya, sholat subuh. Erin kini hanya duduk sembari menunggu Upal bangun, sepasang netra sibuk menatap layar led yang tengah menampilkan serial anime kesukaanya anime yang bertemakan portal dunia lain. anime lawas memang, hanya saja Erin suka akan alur cerinta. Di temani setoples cupcake dan segelas s**u hangat Erin menikmati setiap alur yang ada. Lalu, gerakan sofa di sebelahnya di susul kepala yang ambruk di pahanya membuat Erin sedikit terpekik, memindahkan toples yang ada di sana dengan cepat, tentu saja takut toples itu malah melukai kepala Upal. "Ngagetin aja sih!" Pekiknya di susul jari telunjuk menusuk pipi Upal. Sedangkan si empu hanya menggerakan tangannya melingkarkan pada pinggang Erin, diam tak membalas, dan hanya memberikan dengkuran pelan di sana. "Lo nggak sekolah emang? Jam segini masih males-malesan." "Bentar" Melalui ekor matanya Erin mengintip jam dinding yang ada di belakang tubuhnya, masih ada waktu 30 menit memang sebelum jam enam. "Setengah jam lagi, nggak pake nawar." Ucapnya lagi yang sama sekali tak di balas oleh Upal. Pria itu malah sibuk dengan dunia mimpinya, terlebih aroma segar yang menandakan jika wanitanya baru saja selesai mandi membuat Upal semakin nyaman dan tak peduli akan ocehan Erin. Erin acuh, ia lebih memilih meneruskan acara menontonnya, dengan tangan yang bergerak mengelus lembut rambut milik Upal, Erin terkesima saat di mana adegan dalam anime itu berubah menjadi melanklonis. Sedikit greget saat melihat pemeran utama malah termakan omongan orang lain ketimbang sosok yang mencintai, namun sepertinya dengan gregetnya Erin menandakan jika anime itu sukses mendapat perhatian dari penontonnya. Episode selesai, dan Erin masih memiliki sisah waktu 15 menit, entah akan ia lakukan untuk apa, akhirnya ia mematikan tv led di hadapannya, beralih pada ponsel dan menyusuri tiap postingan i********:, menscroll terus kebawah hingga rasa bosan mulai menyusup. Melempar begitu saja ponsel ke atas meja, perhatian Erin beralih pada sosok Upal yang kini sudah terlelap di pangkuannya, terlihat dari pola nafas teratur dan pelukan yang mulai mengendur. mendapat kesempatan seperti itu membuat Erin memiliki kesempatan, kesempatan untuk memperhatikan wajah putih tanpa jerawat, bibir merah merekah walau pernah menjadi pecandu nikotin di tambah kumis tipis yang menjadi penambah daya tariknya, belum lagi rambut hitam lurus yang begitu lembut saat di belai, tak heran kenapa Upal begitu di gilai oleh kalangan kaum hawa di sekolahnya. Namun satu hal yang pasti, Upal adalah miliknya, sepenuhnya miliknya, apapun yang ada pada Upal adalah haknya, Erin jelas tak pernah suka melihat banyak pasang mata menatap Upal dengan tatapan lapar, tapi ia pun tak bisa berbuat banyak ataupun melarang, karena setatusnya jelas masih harus dirahasiakan untuk kebaikan mereka. Dan hal yang membuat Erin tenang selama ini, Upal adalah Upal, seberapapun ia di gilai oleh cewek sekolah, entah itu cantik atau montoq sekalipun, Upal akan selalu memasang temperatur paling rendah untuk membentengi diri, bersifat dingin pada siapapun yang mendekatinya. Prilaku yang dia lakukan untuk selalu menjaga hatinya, tak peduli jika bilang tak punya hati sekalipun. Mungkin itu yang Erin pikirkan saat melihat bagaimana Upal membentengi dirinya dengan raut datar dan sifat dingin itu. "Bangun yuk, udah siang, gue nggak mau telat." Elusan halus di pipi membuat Upal mulai membuka matanya. tak langsung beranjak, Upal hanya merubah posisinya menjadi telentang, menatap lekat manik hitam pekat milik Erin yang juga tengah menatapnya, tak ada senyum manis atau sapaan pagi, yang di lakukan Upal hanyalah menatap, hingga tanggannya terulur menyentuh ujung hidung Erin, memaindan benda mancung itu dengan pelan. "Mandi gih, gue siapin kopi lo dulu, yang tadi udah dingin kayaknya." entah memang belum sepenuhnya sadar atau memang betah bermanja di pangkuan Erin, Upal sama sekali tak menggubris perkataan Erin, ia masih saja asik memainkan hidung bangir milik wanitanya itu. "Bangun, pal. nggak kasian sama gue tah? paha gue kebas loh!" Ucap Erin mencoba menarik tangan Upal, membantu pria itu bangun dengan segenap usaha hingga Upal terduduk dengan sempurna. "Mandi, gue tunggu di meja makan!" setelahnya Erin beranjak mengambilkan handuk untuk Upal, dan setelahnya memilih menunggu di meja makan sembari meracik kopi kesukaan Upal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN