Se-la 3

2046 Kata
Se-la 3 "Makasih bang udah dianterin dengan selamat sampai tujuan." canda Erin yang baru saja turun dari ojol berseragam hijau yang populasinya hampir meludak di daerahnya. Tangannya tergerak menyerahkan helm dan selembar uang 20 ribuan dari dalam saku. "Sama-sama neng," balas pak Samsul nama driver yang mengantar Erin pulang, sembari menerima uang dan helm yang di kenakan Erin, "ini neng, kembaliannya." lanjut pak Samsul yang kemudian mengulurkan uang lima ribu rupiah yang di terima Erin dengan senyumnya. "Oh iya, jangan lupa bintang 5 ya neng?" ucap pak Samsul sambil berlalu yang di angguki oleh Erin. Erin berbalik. Memasuki pelataran rumah sederhana dengan menenteng sebuah paperbag bertuliskan padma mom's, buah tangan tempat ia menghabiskan waktu dengan kedua sahabatnya. Dan karena cake di sana tergolong enak dan murah, Erin membeli beberapa untuk teman ngemil malam, atau pengganjal perut lapar di tengah malam. Tak tanggung-tanggung Erin membeli 4 kotak besar kue kering dan dua kotak donat. Erin berlahan menuju pintu, dia sedikit menghela napas pelan lalu duduk di kursi teras yang ada di sebelah pintu utama, bersandar sebentar untuk melepaskan penat yang begitu terasa di sana. Hari begitu panas, dan rasanya dia ingin segera mandi, sayangnya tubuhnya masih begitu berkeringat. Mungkin sebentar lagi, karena dia harus mengambil napas barang sejenak untuk menghilangkan rasa penat di dalam dirinya. Perlahan dia menunduk, berusaha melepas ikatan tali sepatu di kakinya. "Dari mana?" Satu pertanyaan itu sedikit mengejutkan dirinya yang baru saja melepas sepatu, membuat Erin menoleh kesamping dan menemukan sosok pria yang tengah berdiri tepat di sebelahnya dengan tangan menenteng sebuah cangkir putih bertuliskan "kopi gue." dan seperti namanya, tentu jelas cangkir itu berisikan kopi kesukaan pria itu. "Dari simpang raya, tadi si Mili ngajak kita nongkrong di sana." Jawab Erin sembari meletakan sepatu di rak yang ada. Melangkah masuk Erin melawati tubuh pria itu begitu saja "gue bawa oleh-oleh kalo lo mau?" lanjutnya sembari mengangkat paper bag di tangannya yang membuat sebelah alis pria itu terangkat. "Oleh-oleh. Bilang aja stok ngemil!" Jawab pria itu. "Sama aja elah, Lo mau nggak?" Tanya Erin yang kini sudah melepas sepatunya. "Serah!" Jawab pria itu sambil berlalu masuk kedalam rumah, diikuti Erin di belakangnya. Pria itu memilih duduk di sofa yang menghadap kearah tv led berukuran 30inc. Meletakan cangkir di atas meja kemudian sibuk mengeluarkan ps4 dari dalam lemari dan menyalakannya. Erin yang melihat itu mengangkat kedua bahunya, "ya udah gue siapin." jawabnya acuh sembari berlalu kedapur guna meletakan bahan cemilannya kedalam tuperwere untuk di simpan. Sedangkan satu kotak donat ia masukan kedalam lemari pendingin dan membawa sekotak besar donat dan sebotol air dingin ke ruang tamu. Erin membanting tubuh tepat di sebelah pria yang tengah fokus memainkan game god of war di ps4nya. "Lo tadi nunggu gue?" Tanya Erin mecomot donat coklat dan melahapnya. Pria itu menoleh dengan kening berkerut. "Menurut lo?" Jawabnya ketus, kembali fokus pada game yang sudah kembali bermain. "20 menit gue nunggu kalo mau tau!" "Yaudah sih, lagian gue juga udah chat elo kan." "Chat lo telat." "Dari pada nggak sama sekali?" balas Erin tak mau kalah, jika berdebat dengan pria ini Erin jelas tak mau kalah, walau nyatanya akan selalu kalah di akhir kata. "Dan lo bakal gue kunciin di luar." "Gue balik kerumah bunda!" ucap Erin kembali mencomot donat dengan toping cream melon. Lalu mengunyah tanpa peduli sisah cream yang menempel di sudut bibirnya. Pria tadi mempause permainannya, menoleh guna menatap Erin dengan serius. Lalu tanpa Erin duga, wajah pria itu mendekat dengan cepat dan berhenti beberapa senti di depan wajah Erin, membuat wanita yang masih mengenakan pakaian kuliah tadi mematung. Tentu saja dengan tubuh yang tak siap, Erin tak bisa banyak berbuat melawan serangan semacam itu. Jantungnya masih normal, dan dia masih benar-benar memiliki denyut dan debar yang luar biasa saat berhadapan dengan lawan jenisnya. Tak seperti yang dibayangkan Erin, pria di hadapannya itu malah menggerakan tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk menghapus jejak cream di sudut bibir Erin dan menjilatnya setelahnya. "Berani emang, balik rumah bunda?" Jawab pria itu dan kembali kedalam posisi sempurna guna melanjutkan permainannya. Serangan dadakan dan debaran tak karuan dalam diri Erin membuatnya tak bisa berpikir jernih, perlu beberapa detik untuk ia menormalkan detakan jantung yang saat itu berderam tak karuan. "Sialan lo!" Pekik Erin melempar potongan donat kearah pria itu, "bikin kesel aja!" Bukan marah atau membalas, pria itu acuh, bahkan tak peduli jika donat yang mengenai pipi sebelah kanannya itu, meninggalkan jejak cream di sana. Sedangkan Erin memandang tak percaya pada pria di sampingnya itu. Bahkan Setelah menenggak hampir setengah botol air minum, Erin masih saja tak percaya akan apa yang di lakukan pria itu. Menyebalkan seperti biasa. "Lo udah makan?" Tanya Erin mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi. Hanya saja yang ditanyai malah sibuk fokus pada permainan tanpa peduli akan dirinya. Mengedik acuh, Erin kembali melanjutkan acara ngemilnya. Menikmati sensasi lembut dan manis yang seolah melumer di dalam mulutnya, dan Erin suka itu, suka semua makanan yang memiliki rasa manis dan juga bertekstur lembut. Matanya sudah fokus pada layar ponsel di tangannya, menilik setiap akun i********: yang memajang foto cake hingga makanan berkalori. Menyusuri dunia maya dengan mulut mengunyah adalah yang terbaik. Satu, dua, bahkan sampai 5 buah donat belum juga mampu memuaskan mulut dan juga perutnya. Hingga kunyahan donat kelima habis, Erin kembali mencari donat untuk menjadi santapan selanjutnya. dengan mata yang fokus pada ponsel Erin meraba kotak di atas meja. Merasa tak menemukan yang di cari Erin mendongak guna memastikan di mana letak kotak donat miliknya. Tak ada, itu yang Erin lihat di hadapannya, entah sejak kapan kotak donat memiliki kaki hingga mampu berlari kentah kemana. lalu menggunakan sepasang netranya Erin mengitari pandangannya, dan apa yang di dapatnya malah membuat ia memekik kencang. "Upal...!" Sekotak donat dengan sisah 3 potong miliknya sudah berpindah di hadapan pria yang sedari tadi sibuk memainkan game di hadapannya, dan kini tengah asik mengunyah tanpa permisi. Upal acuh akan teriakan Erin. Malah dengan santainya pria berpotongan rambut cepak itu mencomot satu lagi donat yang hanya tinggal dua buah dan memakannya dengan santai. Dan sialnya donat yang di tangan Upal adalah rasa kesukaan Erin. Tak ingin hilang kesempatan Erin menerjang tubuh pria kekar berlapiskan kaos putih polos, meraih tangan Upal dan menggerakan donat yang ada di tangan Upal untuk ia masukan kedalam mulutnya. "Punya gue!" Teriak Erin sembari mengunyah dan merebut donat di tangan Upal. "Gue laper elah!" Sentak Upal tak terima. Erin menatap Upal tanpa peduli jika tubuhnya masih berada di atas tubuh Upal. "Makan!" Jawab Erin tanpa dosa kembali memasukan semua sisah donat yang di tangannya. Upal menatap tak percaya kearah Erin. "Makan apaan!?" Jawabnya acuh. "Nasi lah" "Abis!" Jawaban Upal membuat Erin diam untuk sesaat, kemudian ia mengingat jika pagi tadi memang ia lupa untuk menanak nasi dan memasak lauk. Tentu saja karena acara begadangnya membuat laporan penelitiannya membuat ia bangun kesiangan, bahkan pagi tadi pun tak ada acara sarapan seperti biasanya. Erin meringsek bangun berlari tanpa permisi meninggalkan Upal yang berdecak kesal karena acara bermainnya terganggu. "Sial!" Pekiknya kesal saat menyadari karatker dalam permainnya tewas saat acara tubruk menubruk tadi. =»Selaras Langkah... Beberapa kali Erin mengetuk kepalanya guna merutuki kebodohannya yang lupa akan kewajibannya, bahkan dengan bodohnya ia malah pergi meninggalkan Upal tanpa meninggalkan makanan barang sedikit pun. Berlaku untuk cemilan yang mana adalah hal pokok bagi Upal. semua stok cemilan miliknya telah ludes karena acara begadangnya semalam. Tak tau seberapa masamnya mulut Upal karena tak ada makanan di rumah. Erin bodoh, pergi tanpa memikirkan keadaan rumah yang telah kehabisan cemilan dan meninggalkan sosok pria mantan pecandu nikotin tingkat tinggi. Mungkin bagi Erin hidup tanpa cemilan sudah biasa, walau tak akan bertahan lebih dari sehari. namun bagi seorang Upal yang pernah menjadi perokok aktif adalah hal yang sulit untuk di lakukan. Bisa saja karena tak adanya cemilan Upal akan berlari kembali ke pelukan batang nikotin perusak generasi bangsa itu. Erin menggeleng, ia tak menginginkan itu terjadi, maka setelah mencuci beras dan memasukan pada racecooker, Erin berlari kearah ruang tamu menilik tempat sampah yang ada di sana. Kosong. Kemudian ia berlari kearah meja dimana asbak dengan ukiran gajah duduk bertengger manis di sana, aman. Menghembus nafas lega, Erin kembali berlari kedapur, tangannya dengan cekatan mengeluarkan tuperwere berisikan cupcake dan menatanya kedalam toples, yang kemudian ia bawa untuk di letakan di atas meja di mana Upal sibuk dengan gamenya. Perlakuan Erin yang terkesan tergesah gesah itu menimbulkan rasa heran dari Upal. Lalu setelah melihat setoples penuh cupcake, Upal tak tahan untuk tersenyum. Erin adalah Erin, sosok teledor dan memiliki kebiasaan ceroboh adalah satu kesatuan yang sulit di pisahkan. Upal mempause kembali gamenya, tangannya memutar toples dan meraih cupcake dari sana. Upal memang butuh cemilan, karena mulutnya tak akan tahan tanpa mengunyah, semua karena tekadnya untuk berhenti merokok 4 bulan lalu. Dan apa yang di lakukan Erin ini adalah hiburan tersendiri bagi Upal. Ia menoleh, sepasang netranya mengikuti langkah Erin yang sudah kembali sibuk di dapur dengan bibir yang masih melengkung sempurna. Erin kembali meneruskan kegiatannya, setelah memastikan Upal aman dari batang nikotin sialan. Ia kembali berkutat di dapur membuat menu makan malam. Awalnya Erin ingin memasak ayam asam manis. Namun setelah menilik lemari pendinginnya, ia mendesah panjang. Dia lupa jika belum berbelanja guna memperbarui isi lemari pendinginnya. Dan di sana hanya ada brokoli, wortel dan telur puyuh. Karena malam ini sepertinya tak akan sempat untuk berbelanja, Erin memutuskan untuk membuat oseng telur puyuh alakadarnya, semoga saja monster pemakan segala itu akan suka, walau tau jika Upal paling anti dengan brokoli. =»Selaras Langkah... Setengah jam berkutat dengan urusan dapur Erin menyelesaikan masakannya, oseng telur asam manis, dengan aroma yang menggugah, hanya saja warna hijau dari brokoli di sana membuat Erin berpikir apakah Upal akan menyikainya atau tidak. Jika tidak maka akan sia-sia dia menyiapkan hidangan itu kan. Mendesah pasrah, Erin menata masakannya di atas meja. Di rasa cukup, wanita yang masih menggunakan celmek merah muda hello kity itu mulai menghampiri Upal yang masih sibuk dengan gamenya. "Mainnya nanti lagi. Makan gih, masakannya udah mateng." ucap Erin sembari duduk di sebelah Upal. Mendengar itu Upal yang memang sudah menahan lapar sedari tadi kembali mempause permainannya, tanpa menjawab, pria itu beranjak meninggalkan Erin sendiri. Erin yang memang sudah biasa mendapat perlakuan jutek bin ngeselin dari Upal, hanya mengedikan bahu, tangannya meraih remote tv dan memindahkan ke saluran tv yang mana di jam sore seperti ini akan di penuhi dengan segala jenis acara dan drama yang membosankan. Erin yang memindahkan pada saluran langganan, saluran yang menayangkan film anime kesukaan Riska dan juga dirinya di kala senggang, kebetulan sore itu tengah di putar serial anime yang selama ini ia tunggu. Sword Art Online season 3. Anime yang menurut Erin keren, bukan hanya alur ceritanya, namun juga karakter tokoh utama yang terkesan pintar dan romantis. Larut dalam alur cerita yang berdurasi 24 menit itu, Erin sudah menghabiskan hampir setengah toples cupcake di tangannya. Bahkan kehadiran Upal yang baru saja selesai makan pun tak ia sadari. Hingga sebuah tarikan pada toples di pangkuannya membuat Erin tersadar dan menoleh kesamping. Upal berdiri di sana dengan keringat membasahi dahinya. "Pedes ya?" Tanya Erin saat mengingat ia memasukan agak banyak cabe di bumbu masakannya tadi. Upal yang masih mengunyah cupcake hanya mengangguk samar. "Sedikti." jawabnya singkat sembari membuka kertas cupcake keduanya. Raut wajah Erin sedikit mengendur saat melihat Upal mendesah karena kepedasan, bahkan hidung yang kini sudah mulai kemerahan membuat rasa bersalahnya kian terkumpul. "Tapi enak kok." Erin mendongak, menatap Upal yang terlihat menikmati tanpa raut tersiksa. Walau mendesah pedas namun pria itu terlihat santai ."pas buat mulut asem gue!" "Beneran nggak papa? Gue lupa tadi malah masukin banyak cabe di dalemnya. Mikirnya bakal enak aja oseng telur puyuh kalo pedes." sesal Erin kembali menundukan kepalanya, lupa dengan anime yang tengah di tontonya. Kemudian ia merasa elusan lembut di puncak kelapanya. "Nggak papa, malah enak." ucap Upal menjauhkan tangannya dan meraih remote untuk memindahkan pada saluran gamenya. "Lo mandi aja gih, asem." lanjutnya lagi yang mana membuat Erin mengangguk dan berlalu kembali ke kamar dengan perasaan yang sedikit membaik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN