Se-La 23
Erin mematikan layar led di hadapannya. Matanya mengelilingi sudut ruangan kemudian hembusan gusar keluar begitu saja melalui mulutnya. Erin bosan, bosan dengan suasana rumah, bosan dengan Anime yang hanya itu-itu saja, bosan dengan makanan dan cemilan yang ada. Dia butuh siasana baru, sejuk asri dan rindang. Taman atau hutan?
Taman masih masuk akal. tapi hutan? Sepertinya itu tidak mungkin. Mamah Helda jelas tidak akan mengijinkan menantu kesayangannya itu pergi jauh apalagi sampai kehutan hanya untuk membunuh kebosanan Erin, tatangan keras walau Erin audah membuat alasan bawha dirinya ngidam ingin ke hutan. Walau nyatanya itu belum pernah terjadi, tapi Erin paham betul logat mertuanya seperti apa.
Sekali lagi wanita berdaster itu hello kitty itu menghembus nafas panjang, memilih beranjak dari tempatnya menuju ruang kerja Upal. Di mana prianya itu sudah bersemedi dari setelah sarapan hingga kini saat jam sudah hampir menunjukan angka tiga.
Dibukanya pelan pitu berwarna coklat, kepalanya mengintip sedikit sosok yang ada di sana. Dan seperti yang ia duga, Upal dengan segala kesibukannya akan lupa dengan dunianya. Lihat saja penampilannya, celana boxer dengan kaos oblong. Rambut berantakan dan piring bekas makan siang yang hanya berkurang setengahnya masih tergeletak di sebelah kanannya menandakan jika pria itu belum sekalipun keluar dari ruangannya.
Perlahan Erin bergerak masuk, tangannya menyentuh pinggiran etalase lemari yang seganja di letakan di dekat jendela kaca lebar tempat menyimpan ponsel yang sudah selesai perbaikan. Atau kamarnya ponsel yang audah sehat.
"Yan..." panggil Erin dengan tatapan yang masih menilik apa-apa saja ponsel yang ada di dalam etalase kaca itu. Sempat terpukau karena nyatanya di dalam sana banyak sekali ponsel keluaran terbaru yang belum sekalipun Erin sentuh karena nyatanya Erin tau ponsel-ponsel itu milik pelanggan Upal dan Erin tak berani asal otak atik benda orang. Hingga jawaban 'hm' dari Upal membuat Erin mendongak. Berdecak kecil, menyandarkan tubuhnya di kusen jendela kaca dengan tangan terlipat di kedua d**a.
"Pacaran yuk, yan?" ajaknya "bosen gue di rumah mulu."
"Kenapa nggak jalan sama Mili."
Selalu saja Mili. Erin mengerucutkan bibirnya, kesal dengan jawaban Upal. Kenapa tiap kali dirinya ingin sekali jalan dengan Upal selalu saja di tolak dan selalu Mili yamg di ajukan.
"Gue mau sama lo, yan. Kita nggak pernah pacaran loh. Kencan mulu pacaran kagak. Bosen ah." bergerak mendekat Erin merangkulkan tangannya di leher Upal. Menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Upal yang masih beraromakan keringat semalam.
Dikecupnya leher itu dan sedikit di berikan tambahan gesekan d**a yang hanya terlindungi daster tipisnya tanpa pengaman di dalamnya, Di perlakukan seperti itu terang saja membuat Upal menghentikan pekerjaanya. Di balik rasa lelah yang sudah menghinggap ternyata kelakuan Erin malah membuat semangat yang lain bangkit dengan cepatnya. "Masa lo cuma mau gue malem doang. Gue juga pingin kali di ajak pacaran sama lo, jalan kek, nonton atau nongkrong di warung mang ujang juga boleh."
Menoleh menatap wajah Erin yang hampir sama sekali tak berjarak. Upal berbksik kecil. "Pacaran kamar aja, mau?"
Erin menggeleng pelan. "Nggak mau, bosen ketemu lo lagi lo lagi, ujungnya kamar mandi. Males ah, gue pengen jalan loh. Ke taman kalo bisa."
Meletakan segala t***k bengek yang ada di tangannya, Upal meraih pergelangan Erin, tubuhnya berputar menghadap Erin, menarik tubuh itu hingga jatuh ke pangkuannya. "Serius?" katanya dengan dahi berkerut.
"Yan!?" pekik Erin dengan nada mengancam saat tangan Upal sudah mengunci tubuhnya, memeluk dengan erat dengan dagu yang sudah mengecupi tengkuk Erin.
"Taman jauh. Capek."
"Bodo. Gue mau ketaman titik!" pekik Erin memberontak dari rengkuhan Upal. Namun tangan besar itu nyatanya lebih kuat di bandingkan tenaga Erin. Jika seperti ini, satu hal yang mampu membebaskan rengkuhan Upal.
"Akh...!" Upal terpekik saat gigi Erin menancap di pergelangan tangannya hingga lilitan tangannya terlepas, dan kesempatan itu langsung di ambil oleh Erin untuk membebaskan dirinya.
"Gue tunggu pokoknya. Nggak pake lama atau nanti malem tidur di luar!" ucap Erin di depan pintu dengan tatapan penuh ancaman.
Jika sudah begini Upal tak bisa berkata, membangkang atau meminta hal lain, titah nyonya ratu dengan segala ancamannya adalah hal menyeramkan yang pernah ada.
Selaras Langkah...
"Mang, Cilok sepuluh rebu bungkus ya." ucap Erin sembari memilih duduk di kursi pelastik yang sudah di siapkan mamang penjual Cilok di taman dekat komplek nya. Upal yang sedari tadi mengekori hanya menggeleng pelan melihat tingkah Erin. Apalagi ini adalah mamang penjual makanan yang ke tujuh yang sudah Erin datangi. Tadi saat mereka baru saja sampai Erin langsung merengek ingin di belikan Cilung. Setelahnya wanita berbadan dua itu merengek lagi meminta es kapal selam, cireng, siomay, batagor, rujak bebeg, dan sekarang cilok. Entah berapa makanan lagi yang akan Erin minta untuk di bungkus.
"Lo pesen makanan banyak siapa yang mau makan?" akhirnya Upal buka suara. Di tatapnya Erin dengan raut yang di buat seletih mungkin. Tangannya sudah sedikit pegal menenteng bungkusan pelastik yang sama sekali tak berguna menurutnya. Pelastik kecil yang akan berujung pada tong sampah dan berakhir menjadi limbah yang berhasil mencemari lingkungannya selama ini.
"Kan ada lo, kalo gue nggak abis" jawab Erin acuh. Sepasang matanya mengitari sekitarnya mencari makanan apa yang akan ia beli setelah ini. Lalu saat melihat kedai sosis bakar, kedua bola matanya berninar. Upal yang melihat perubahan raut wajah Erin hanya mendengus lelah. Perjuangannya sore ini mungkin masih sangat panjang hanya untuk memuaskan hasrat bumil di hadapannya ini.
"Eh. Kak Upal." Upal dan Erin nyaris menoleh bersamaan kearah sumber suara. dahi Upal berkerut saat itu juga, terlebih saat ia sama sekali tak tau siapa sosok itu. Sedangkan Erin, sudah memasang alarm waspada, matanya menyorot tajam kearah cewek berambut panjang yang Erin tau adalah adik kelas yang sedang hangat-hangatnya menjadi perbincangan para cowok di kelasnya, dan nyatanya apa yang mereka bilang tentang cewek ini yang kabarnya cantik manis peUpalg dan ramah hampir terbukti nyata dan sialnya itu malah membuat kadar kewarasan Erin terganggu.
Upal boleh saja kaku dan dingin dengan cewek di luaran sana. Tapi jika di hadapkam dengan cewek secantik cewek yang kini berdiri tak jauh dari Upal bisa saja imannya terusik dan membuatnya putar haluan.
"ngapain kak?" tanyanya Upalg.
Erin mendesisi tajam, "ngemis!" sepasang matanya bahkan tak lepas melirik kearah cewek ini. peduli setan dengan Upal yang saat ini seolah acuh dan tak peduli dengan kedatangan cewek di depannya itu.
"Oh ya kakak belom tau aku ya?"
Di tanya seperti itu nyatanya sama sekali tak membuat minatan Upal terganggu. Diliriknya Erin yang saat ini tengah menatap tajam kearah cewek di hadapnya. tatapan penuh kewaspadaan dengan raut tak suka jelas kali terlihat. Upal yang sering melihat raut itu saat Erin ngomel dan mendesis begitu tau akun sosial medianya di penuhi DM dari banyak cewek cantik di luaran sana nyatanya malah menyukai Erin di mode ini.
"Ehh. Masak nggak tau sih kak? Kenalin aku Naya anak kelas sebelas di gedung sebelah. Kakak, kak Upal kan? Anak smk yang terkenal itu kan?" tak peduli di acuhkan seperti apapun, Naya yang katanya kembang kelas di gedung sebelah terus saja berusaha menarik perhatian Upal yang sama sekali tak tertarik sama sekali. karena raut Erin lebih indah dari cantiknya wanita di luaran sana.
"ih... kak Upal gitu deh. aku lagi ngomong loh sama kak Upal" rajuk Naya yang sekali lagi tak di pedulika oleh Upal. bahkan keberadaannya sama sekali tak di anggap ada oleh Upal.
"neng, ciloknya." Erin dan juga Naya menoleh hampir bersamaan kearah mamang penjual yang mengulurkan bungkusan pelastik kearah Erin yang malah di sambar oleh Upal dan tak lupa membayarnya. setelahnya Upal yang sudah Risih dengan Naya, langsung menyambar tangan Erin. menariknya pelan di susul tangan yang di lingkarkan ke pundak Erin. membawa wanita cantiknya meinggalkan Naya yang terbengong melihat kelakuan Upal yang sama sekali tak menganggapnua ada karena sebelum ini belum sekalipun pesonanya gagal menarik perhatian lawan jenisnya. Naya menakup bibirnya, menatap tajam kearah sejoli yang sudah menjauh darinya.
"siapa tadi?" tanya Erin menatap Upal.
"Naya."
"iya gue juga tau. maksud gue, lo kenal dia?"
"nggak."
"yakin?"
"iya."
"nggak kenal kok bisa nyapa lo?"
"mana gue tau"
"ck!" Erin berdecak keras, tak mau lagi memperpanjang masalah ini. Upal yang dingin dan malas membahas siapapun cewek yang tak di kelanya akan selalu cuek dan acuh. di singkirkannya tangan Upal dari pundaknya. kakinya melangkah cepat meninggalkan Upal menuju kedai sosis bakar yang sedari tadi mengganggu imannya. apalagi melihat semua jawaban Upal yang seolah tanpa dosa itu membuat moodnya melonjak.
"sosis bakar 10 biji." ucap Erin pada Upal saat tubuhnya yang sudah terasa lelah pada kirsi santai di samping mamang penjual.
Upal mengangguk lalu memesankan makanan yang di sebutkan Erin tadi tak lama kembali dan duduk di sebelahnya.
di tempatnya Erin tak bisa tinggal diam. di pandanginya daerah sekitar, menatap tiap pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam jajanan dan makanan berat sekalipun yang memang setiap sore selalu ramai berjualan di dekat taman. Erin mengedarkan sekali lagi pandangannya. menatap kearah taman di mana banyak pasang kekasih yang tengah menghabiskam waktu sore bersama pasangannya, sama seperti dirinya saat ini. hanya saja bedanya Erin tak seperti pasangan lain yang memilih duduk bersama berceloteh tentang banyak hal dan tertawa bersama.
Erin iri, namun sekali lagi ia tak bisa berbuat banyak, mengharapkan Upal menjadi sosok romantis adalah hal yang tak mungkin. ibarat menunggu es mencair di dalam lemari pendingin. mau di ajak jalan ke taman seperti ini aja udah syukur alhamdulillah.
kembali Erin menatap sosok di sebelahnya, dan benar Upal adalah Upal yang selalu membunuh kebosanannya dengan bermain game, mode menyebalkan yang selalu sukses membuat Erin kesal setengah mati.
mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya, Erin membuka aplikasi Game yang tengah di gandurungi oleh Upal. menunggu beberapa detik hanya untuk log in. setelah berhasil masuk. Erin membuka daftar temannya dan mencari nama Upal, mengajaknya join grup party miliknya.
memiliki pasangan pecinta game dan elektronik membuat Erin perlahan menjadi mengerti beberapa hal tentang komponen elektronik dan Game, walau hanya game tertentu saja yang memang ia sukai.
Upal mendongak menatap Erin saat sebuah permintaan party masuk kedalam game RPG yang tengah ia mainkan kini.
"Lo main?"
Mengedikan bahu acuh "Dari pada jenuh, kenapa nggak" ucapnya cuek "bantuin gue cari item sekalian bantuin naikin level"
Tersenyum tipis Upal mengangguk sebagai balasannya. Lalu setelah itu keduanya kembali menekuni ponsel masing-masing.