Se-La 22

1709 Kata
Se-La 22 Upal baru saja memarkirkan motor kesayangannya di pelataran parkir tempat ia mengenyam pendidikan, setelah panjang berurusan dengan padatnya lalu lintas di senin pagi, akhirnya Upal bisa melepas helm yang membuatnya engap sedari tadi. Setelah meletakan helm di kaca sepion bulat antiknya, Upal mulai menggeralan kakinya membawa dirinya masuk ke area sekolah. Bukan kelas yang ia tuju pagi ini, bukan juga lapangan tempat biasa ia menghabiskan waktu untuk bermain futsal, hanya saja kakinya membawa dirinya masuk ke bengkel sekolah. Alasannya jelas karena pelajaran di jam pertama hingga jam ke-4 nanti adalah pelajaran matematika, pelajaran yang sama seklai tak di sukainya. Lebih baik menghabiskan waktunya di bengkel dan menikmati kesenangan, dari pada harus berkutat dengan puluhan rumus dan angka yang membuat kepalanya pusing. Membongkar dan mengotak atik mesin adalah yang terbaik dari pada harus berkejibun dengan rumus dan guru killer di kelasnya. Setelah memakai seragam perakteknya, Upal mulai berkutat dengan beberapa komponen dan solder, tentunya tak ketinggalan buku panduan, hari ini ia ingin meneruskan pekerjaan miliknya yang kemarin belum selesai. Sebenarnya pekerjaan ini melibatkan kedua sahabatnya, hanya saja Adi dan Dave sama sekali tak memiliki banyak nyali seperti dirinya yang dengan mudahnya keluar masuk pelajaran semaunya sendiri, walau ujungnya tetap mendapat ocehan panjang tapi mereka, para guru Upal sama sekali tak mempermasalahkan kelakuan Upal yang satu itu. Asal bolosnya Upal adalah di bengkel elektronik. Setelah semua alat sudah ia persiapkan. Perlaham Upal mulai memasang komponen satu persatu dengan kepala yang terkadang menoleh ke arah kiri untuk membaca buku panduan. Hening adalah hal yang mendominasi di ruangan itu, asap kecil bekas bakaran solder adalah hal berikutnya yang menjadi pandangan lain di dalam sana. Suasana damai seperti inilah yang membuat seorang selalu betah berada di bengkel sekolahnya, suasanya kondusif dan bebas dari suara teriakan Erin yang selalu di dambakan tiap kali ia mengerjakam sesuatu. Seperti saat ini, Upal tengah merakit sebuah rangkaian subwofer yang berkaitan dengan power amplifier yang sudah ia rakit beberapa waktu lalu. Bukan tanpa sebab kenapa Upal merakit sound sistem, karena beberapa waktu ada seseorang tetangga yang datang padanya dan meminta bantuan untuk merakit sound untuk aktifitas pengajian di sekitaran kos-kosannya. Upal tak bisa menolak karena ini untuk kepentingan umum dan sekarang dia kerepotan sendiri. Belum lagi tumpukan ponsel rusak yang ada di rumah sudah menunggu untuk cepat di selesaikan dan di kirim ke orang yang memang sudah berlangganan memesan padanya. “Pantes aku cari kemana-mana nggak ada, taunya di sini” Sebuah suara mampu membuat Upal rersentak kaget, Upal menolehkan kepalanya, menatap sosok pemilik suara yang mengagetkannya tadi, lagi ia mendengus kesal, mengabaikan sosok itu, Upal lebih memilih meneruskan pekerjaanya. “Udah dari tadi di sini?” Sosok itu bergerak mendekat, mengikis jarak antar keduanya, lalu kakinya terhenti tak jauh dari Upal jarak, sosok yang ternyata cewek cantik berambut panjang ikal itu mengedarkan pandangannya, menyusuri tiap sudut bengkel yang di khususkan untuk jurusan elektronik di sekolahnya, dan juga Tempat favorit Upal di sekolah ini. Merasa tak mendapat respon, Cewek tadi hanya memasang senyum manisnya tanpa peduli jika keberadaanya tak di anggap sekalipun. “Ternyata hobi kamu dari dulu masih aja nggak berubah ya?” Upal memilih diam, enggan untuk sekedar mengeluarkan kata di hadapatkan cewek yang kini mulai memainkan buku praktikum yang tengah di gelutinya. Membiarkan cewek itu mengambil alih bukunya dan duduk di atas meja sebelah tempat ia berkutat. “Makin cuek aja sih sama aku?” Sindir cewek itu tanpa menoleh, dengan tangan masih membuka tiap lembar buku di tangannya. “Nggak kangen emang?” Lanjutnya lagi sembari menoleh dan menatap Upal yang kini terlihat menghentikan kegiatannya. Meletakan solder yang ada di tanggan, lalu bergerak ke sudut kanan ruangan tanpa membalas tatapan cewek itu. “Kamu kenapa sih, yan, diem mulu tiap ketemu aku?” cewek yang tak lain adalah Monic mulai merasa kesal karena keberadaanya sama sekali tak di anggap, Monic meletakan buku praktikum dan mendekat ke arah Upal, namum baru saja beberapa langkah kakinya beranjak, Monic berhenti, tepat saat tatapan tanjam Upal menghunus ke arahnya, mulutnya terkatup, menelan kembali segala pertanyaan yang akan ia lontarkan tadi. “Udah?” Satu pertanyaan terlontar dari mulut Upal, satu kata dengan tanya yang begitu sulit untuk di jawab, mungkin bukan sulit. Hanya saja intonasi dalam satu kata yang terkesan dingin dengan tatapan tajam membuat cewek tadi diam membisu, tak mampu untuk beranjak. Bukan terpesona lebih mengarah pada rasa takut yang kini mulai menyeruak. “Kalo udah, cabut gih, enek gue liat muka lo”. Setelahnya Upal beranjak, meninggalkan Monic yang kini tengah termenung menatap kepergian Upal. =SELARAS LANGKAH= Bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi, 4 jam berkutat di dalam bengekel di temani dengan asap solder dan tumpukan komponen, membuat perut Upal keroncongan, Upal kembali menatap hasil kerjanya di susul senyum puas yang mengambang indah di kedua sudut bibirnya. Tinggal benerapa kali pemasangan lagi pekerjaanya akan selesai. Dan targetnya adalah besok. Semoga saja semua berjalan lancar. Dengan hati-hati Upal memasukan hasil karyanya kedalam tas, setelahnya ia melepaskan seragam praktek dan meletalan di sudut ruangan. Tangannya meraih tas yang ada di atas menja. Menenteng sembari beranjak keluar. “Dih si t*i, dia ke enakan di bengkel sedangkan kita pusing dengerin ceramah bu Angel” Upal menoleh kearah suara setelah memutar anak kunci. Menyimpan dalam saku sebelum bergerak, bergabung dengan dua sahabatnya yang sepertinya akan ke kantin. “Gimana kerjaan?” Adi yang tau tujuan Upal ke bengkel di pagi hari mengajukan pertanyaan terlebih dahulu. Dan senyuman dari Upal seolah menjadi jawaban yang kurang memuaskan untuknya. “Udah kelar?” lagi pertanyaan itu terlontar. “Tinggal Finising, nanti malem juga kelar.” Balas Upal sambari menepuk pelan tas yang ada di sebelah kiri pundaknya. “Wih kayaknya jadi ini makan-makannya?” girang Dave dengan cengiran lebar di susul toyoran pelan dari Adi. “Makan mulu perasaan isi kepala lo ini.” “Gimama lagi, kalo perut kosong mana bisa mikir kan gue. Ya nggak, yan?” ucap Dave mengalihkan tatapanya kearah Upal seolah menuntut bala bantuan dari nya. “Iya.” “Jadi aman kan makan-makan kita?” tanya Dave masih denhan intonasi girang yang hanya di balas gelengan pelan dari Adi “Aman.” “Terus untuk finishing lo perlu bantuan? Atau mau lo selesaiin sendiri?” tanya Adi dengan mata yang sibuk menatap layar ponselnya dengan raut serius. Upal menggeleng pelan. “Nggak usah. Kemaren lo pada yang banyak andil nyelesaiin powernya jadi biar gue yang finishing” “Ok...” jawab Adi “jadi, mau ke kantin mana kita?” Dave menyimpam ponselnya kedalam saku celana. “Kantin gedung kita aja lah. Udah laper soalnya.” Jawabnya sembari merangkul pundak Adi yang tentu saja membuat Adi merasa nyaman dengan perlakuan Dave, apalagi banyak pasang mata yang menatap kearahnya. Adi mengedik berusaha melepas rangkulan Dave yang mebuatnya Risih “Gue sih terserah lo orang aja” “Yaudah kantin gedung kita aja” “Upal yang teraktir kan?” beo Dave tanpa tau malunya yang tentu saja mendapat toyoran dari Adi. “Lo teraktiran mu-“ ucapan Adi terpotong oleh surasa dari salah satu orang yang ada di grombolan siswa yang baru saja melewati ketiganya. “Hari gini masih aja teraktiran. Malu woy malu” Rio yang katanya ketua dari segerombolan itu yang bersuara. Orang yang selalu saja berhasil membuat emosi Dave memuncak tanpa permisi. Dave dan Rio selalu punya masalahnya sendiri, entah apa Upal tak pernah mau ikut campur kecuali keadaan yang memaksanya. Benar saja, baru saja Rio berucap seperti itu, Dave langsung memasang raut perkelahian. Mungkin jika Adi tak menahan lengan Dave, bocah itu bisa saja langsung menubruk Rio dan memberi bogem mentah pada Cowok Sialan itu yang selalu membuat emosinya memuncak. “Babi! Sebodo amat di gue mau minta terakriran apa kagak. Kenapa lo repot?” balas Dave dengan kata penuh kebencian. “Malu aja gue dengernya. Udah kayak orang susah jajan aja minta bayarin.” Ledek Rio di susul gelakan tawa dari rombongannya. “Lo!” Dave berontak dari cekalan Adi berusaha keras agar ia bisa menghadiahkan bogem mentah pada anak songong di hadapannya ini. Namun sayang cekalan Adi nyatanya lebih kuat dari biasanya, dan Dave tak bisa banyak berkutik di buatnya “Apa!” tantang Rio “anak kayak lo itu nggak pantes ada di sekolah ini. Anak miskin Cuma bikin buruk nama sekolah aja.” Hinaan itu jelas menyayat perasaan Dave apalagi di tambah gelakan tawa dari teman yang mengikuti Rio malaj membuat emosinya semakin memuncak. “Anj-“ “Dave!” bentakan Upal langsung membuat Dave bungkam seketika. Upal yang sudah panas mendengar ocehan cowok di hadapannya itu maju memgikis jarak dengan rombongan Rio. Tatapan membunuh ia lontarkan kearah pembuat masalah itu. “Sekali lagi lo bikin ulah di sini!” tekan Upal dengan suarah penuh penekanan. “Abis sama gue!” Setelahnya Upal menyeret Dave Membawa sahabatnya itu menjauh dari kumpulan tak berguna yang ada di belakangnya. Rio mematap kepergian Upal dengan tatapan penuh kebencian, tatapan yang seolah ingin menghancurkan sosok Upal entah apapun itu caranya. Selaras Langkah. “Anjing! Hina amat gue di mata sialan itu.” Dave menggebrak meja di hadapannya dengan tubuh menegang membuat gelas minuman milik Upal yang masih penuh sedikit tumpah dan membuat si pemilik berdecak pelan, Dave tak peduli. Tatapak nyalang tertuju pada Adi orang yang mencekal tangannya tadi. “Lo juga! Apa-apaan coba pakek nahan gue? Kalo aja lo nggak nahan bonyok itu anak sama gue.” “Dan bikin lo di skors? Sory gue masih waras sebagai temen lo.” Menyeruput minumannya tanpa mau menoleh pada Dave yang tengah menatapnya. “Tenaga lo masih di butuhin di sini.” Lanjutnya menatap Dave. “Itupun kalo lo masih inget sama job kita.” Dave tak mampu lagi berkata, raut kaku di wajahnya perlahan melunak. Tubuh tegaknya kini luruh lesu di atas kursi dengan tatapan malas pada gelas. “Sory.” “Santai, gue tau gimana di lo. Dan gue juga sebagai temen harus dan selalu siap nahan lo dan bela lo habis-habisan. Apapun masalah lo.” Di tempatnya Upal diam-diam menaruh rasa bangga kala mengamati kedua sahabat yang sudah ia anggap saudaranya itu. Sahabat yang selalu mengerti satu sama lain. Tak pernah lupa dan selalu peduli apapun kondisinya. Terlebih pada Dave yang memiliki sifat tempramen dan suka lepas kendali. “Thanks Di.” “Yorwel. Itu gunanya kita di sini”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN