Se-La 25
“Gila, meleduk nih lama-lama otak gue dapet tugas gini mulu saban hari” ucap frustasi Mili melihat tugas matematika yang baru saja ia catat, beberapa saat lalu pelajaran matematika baru saja selesai dan menunggu pergantian jam pelajaran, Mili menelungkup kan wajahnya di antara kedua lengannya, soal tugas yang baru saja ia salin ia letakan begitu saja.
4 jam di isi berurusan dengan materi adalah hal memuakan apalagi matematika tak di pungkiri oleh Erin, ia merasa aneh, biasanya di pelajaran apapun ia akan tenang dan berkonsentrasi namun tikam kali ini, ia merasa mengantuk dan malas untuk menanggapi ocehan dari Bu Angel, bahkan beberapa materi ia lewatkan dengan menggambar abstrak di buku latihannya.
“Sama, gila Bu Angel emang, tiap pelajaran pasti di kasih tugas, kapan coba otak gue istirahatnya” Riska yang hari ini duduk di depan Erin menoleh kebelakang setelah menyimpan bukunya di dalam tas, “gue berasa pengen liburan deh”
“Liburan dari Hongkong, masih lama jatah kita liburannya”
“Ya tau, tapi berasa stress aja gue tiap hari belajar Mulu, kenyang makan pelajaran gue” keluh Riska yang memang kapasitas otaknya kurang memadai di banding kedua sahabatnya.
“Bolos aja yuk. Capek gue abis matematika ketemu fisika, berasa mo mokad gue!”
“Nggak deh, Lo aja males gue, poin gue udah hampir 50, cari aman aja deh dari pada di amuk emak”
“Ya sama, tapi males bet mau belajar, ada saran nggak, sa?” Mili dan Riska menoleh pada Erin yang sedari tadi asik dengan ponselnya membalas beberapa chat dari Upal yang entah kenapa terkesan lebih bawel dari biasanya.
Upal : nggak usah banyak tanyak, intinya Lo nggak usah kemana mana hari ini, cukup di kelas, kalo mau ke toilet ajak Mili sama Riska, kalo kantin kabarin gue. Ke kantin bawah aja kita.
Isi pesan terakhir Upal yang belum sempat di balas Erin sebelum gadis itu mendongak menatap kedua sahabatnya. “apaan?”
Mili mendecih malas, “Apaan lo bilang?” Tanya Mili tak percaya, jelas jelas ia dan Riska ngoceh panjang kali lebar di depannya tapi Erin malah tak menyimak? Dasar sahabat laknat. “Makanya jangan hape Mulu, kita lagi ngoceh li asik sendiri”
Erin meletakan ponselnya lalu menatap kedua sahabatnya “yaudah apaan?”
“Gue sama Mili udah ngebul, mau bolos tapi poin udah hampir 50. Lo ada saran?”
Kening Erin mengerut menatap kedua sahabatnya tak percaya. “Lo mojokin gue Cuma karena pembahasan ginian? Serius, mil?”
“Aelah, emang apa lagi yang perlu gue bahas coba?”
“Sebasing lu lah!” Ucap Erin berdiri sembari menyimpan ponsel kedalam saku.
“Lo mau ke mana?” Tanya Mili kemudian.
“Toilet. Kenapa, mau ikut?”
“Nggak deh makasih, gue mau rebahan aja”
“Yaudah” jawab bisa berlalu meninggalkan kedua sahabatnya, koridor terlihat sepi mungkin banyak kelas yang sudah memulai pelajaran di jam kelima, Erin berbelok di ujung koridor dimana toilet perempuan berada.
Erin lupa akan akan pesan dari Upal, ia seolah tak peduli atas kebawelan pupalya pagi ini yang terkesan aneh, padahal di rumah Upal biasa saja, tak banyak berpesan atau bawel seperti sekarang.
Mencuci muka sembari menatap pantulan dirinya, Erin sedikit tersenyum. Entah kenapa ia merasa begitu cantik tiap kali melihat dirinya di cermin, Erin bangga dengan asetnya, apalagi dengan kehadiran si kecil yang berhasil membuat rasa aneh bercampur ke dalam perasaannya. Mungkin hormon kehamilan yang membuatnya aneh seperti sekarang.
“Oh jadi ini si queen anak SMA, cewek yang banyak di omgonin kebanyakan cowok SMK?”
Suara itu menarik Erin untuk menoleh, di sana di depan pintu masuk ada 3 cewek berpakaian seragam praktek tengah menatap remeh kearahnya, di lihat dari bet dan warna seragamnya sepertinya mereka anak TKJ.
“Jadi bener Lo yang ada di foto Mading?” Tanya salah seorang siswi yang ada di depannya, dan juga terlalu banyak omong. “yang dengan ganjennya sok mesra dengan kak Upal?” Cewek itu memutari tubuh Erin, berdiri dengan tatapan sinis di sebelah Erin “udah hebat ya, Dateng-Dateng tanpa permisi sok deketin kak Upal! Sadar diri woy, Lo siapa dia siapa. Lo itu nggak pantes buat Deket sama dia. Jangankan deket, ngeliat aja Lo nggak ada pantes-pantesnya”
“Maaf, kalian ngomongin apa btw?” Ucap Erin menatap sengit pada cewek sok cantik dan banyak bacot itu. “Kayaknya kakak-kakak sekalian ini salah orang deh.”
“Nih anak, udah sok centil belagu pula. Lo nggak nyadar Lo itu siapa”
Erin mengerut kening tak paham dengan apa yang di maksud dari kakak tingkatnya ini, dan apa hubungannya dengan Upal? Mereka nggak mungkin paham dengan hubungannya kan?
“Maaf, tapi beneran, aku nggak paham dengan apa yang kakak ucapin”
“Nggak usah sok polos, gue tau Lo lagi Deket kan sama kak Upal!” Bentak salah satu cewek populer yang terlihat cantik dengan rambut panjang yang di kuncir kuda, tangannya menggebrak kaca di hadapan Erin membuatnya terkejut terlebih tubuhnya kini terkurung oleh pergelangan tangan cewek itu.
“Gue ingetin satu hal ke Lo, gue nggak suka Lo Deket-deket sama kak Upal, dan gue nggak bakal tinggal diam kalo Lo masih aja kecentilan buat deketin kak Upal!”
“Kalo gue nggak mau, emang kakak mau apa?” Tanya Erin mencoba menguasai emosinya, apalagi mendengar ancaman dari cewek gila di depannya,
Heh emang dia pikir dia siapa?
“Nggak usah sok ngelunjak, Lo nggak akan suka dengan apa yang bakal gue lakuin ke Lo, kalo Sampek Lo masih coba deketin kak Upal!”
“Gini deh kak, gua tanya ke elo, emang Lo tau apa tentang hubungan gue sama kak Upal. Gue jelas nggak ada hubungan apa-apa sama dia.”
Si cewek tertawa sinis lalu menatap tajam kearah Erin, mencoba menunjukan kuasanya melalui tatapan yang jelas tak berefek pada Erin. “Lo nggak usah ngelak. Semua orang jelas tau Lo Deket sama kak Upal, bukan Cuma karena di foto Mading. Tapi gue juga tau belakangan ini Lo sering makan sama kak Upal di kantin bawah!” Ucapnya penuh penekanan. “Gue nggak setolol itu untuk diem aja dan pura-pura buta sama kelakuan Lo yang sok kecentilan”
Erin terdiam sesaat, cewek macam apa yang sampai mengawasi Upal begitu ketatnya hingga tau apa saja yang di lakukan lelakinya itu. Erin cukup terkesan dengan pesona Upalnya, tapi tak suka dengan sikap cewek barbar yang di hadapannya. Dia tidak tau saja siapa Upal baginya jika saja cewek ini tau apa hubungan Upal dengannya mungkin dia akan malu dengan ucapannya sendiri.
“Jadi sekali lagi gue tekenin ke Lo, gue nggak suka liat Lo deket sama kak Upal, lebih baik Lo mundur daripada gue ngelakuin hal lebih dari ini ke elo”
Erin menggeleng pelan tak percaya dengan ambisi cewek di depannya ini. “Maaf kak, Lo nggak ada hak buat ngelarang gue Deket sama siapa, ini hidup gue dan gue yang menentukan!” Balas Erin tanpa rasa takut sedikit pun.
“Lo!” Ucap cewek itu tertahan, menoleh kapada dua temannya yang segera menjaga pintu masuk, menghindari ada siswi lain yang akan menggangu acaranya. “Oke kalo ini yang lo mau.”
Detik berikutnya cewek itu menarik rambut Erin mendorongnya dengan keras ke wastafel dan menghidupkan keran hingga air keran berhasil membasahi rambut Erin.
Dorongan itu cukup kuat hingga membuat Erin sedikit kesulitan untuk memberontak, bahkan tangannya yang berusaha meraih cewek itu di tahan dengan kuat.
Erin tak lemah, itu yang teman-temannya bilang, bahkan Upal mengakui itu. Erin masih berusaha memberontak hingga percobaan yang kesekian kalinya Erin mampu melepaskan diri, ia memutar tubuhnya, mendorong kuat tubuh si cewek hingga ada sedikit celah di antara keduanya.
Erin menatap sengit kearah cewek yang juga tengah menatapnya, seumur hidupnya Erin tak pernah sekalipun di perlakukan seperti ini bahkan orang tuanya pun tak pernah untuk memukulnya, tapi lihat sekarang ada orang asing yang dengan hebatnya merendahkan Erin, membuat gadis itu murka.
Tak menunggu lama, Erin mendekat memberi tendangan yang sudah ia latih sebelumnya, beruntung Erin tak mengenakan rok pensil hingga memudahkan dia untuk berakselerasi. Pengetahuannya tentang karate membuat ia memiliki pengalaman separing, dan ini jelas tak ada apa apanya di bandingnya itu.
Tendangan itu berhasil mendarat di dagu lawannya, membuat si cewe limbung dan hampir terjatuh jika saja tak ada tembok untuk ia berpegangan. Melihat itu Erin tak tinggal diam, Erin memberi beberapa pukulan di bagian punggung dan pundak membuat cewek itu tumbang dan langsung di tindih oleh Erin.
“Jujur, gue nggak tau Lo siapa, awalnya gue coba bersikap sabar dengan perlakuan Lo, tapi makin kesini Lo malah makin ngelunjak.” Ucap Erin penuh penekanan, bahkan dengan sadisnya Erin memberi tamparan beberapa kali di wajah cewek itu. “Asal Lo tau, seumur hidup gue nggak pernah sekalipun di pukul sama orang tua gue yang udah ngebesarin gue, dan Lo!” Tunjuk Erin, tatapannya tajam menunjukkan kemarahannya yang sudah tak bisa di tahan lagi. “Lo bahkan orang yang nggak gue kenal dan sok kurang aja ngelakuin ini ke gue.” Tamparan ia lontarkan untuk kesekian kalinya hingga meninggalkan bekas merah di pipi cewek itu.
Namun sial bagi Erin, Erin lupa jika cewek itu tidak hanya sendiri. Di belakang dia ada dua teman yang kini sudah meninggalkan tempatnya untuk mendatangi Erin. Memegang kedua lengan Erin dan mengangkatnya, menyingkirkan dari tubuh sahabatnya.
Cewek yang mendapatkan pukulan beberapa kali itu bangkit dengan senyum sinis di wajahnya, murka jelas ketara di lekuk wajah cewek yang kini menatap wajah Erin dengan ganas. “Hebat juga Lo ya, ternyata gue udah ngeremehin Lo tadi” ucapnya santai mencoba mendekati Erin. Lalu menjambak rambut Erin hingga Erin mendongak menatap tepat ke wajah cewek itu.
“Tapi sejagonya elo, elo Cuma sendiri. Lo nggak akan ada apa-apanya di depan gue.” Ucap cewek itu santai, lalu membalas tamparan Erin tadi, cewek itu menampar Erin berkali kali hingga meninggalkan bekas merah dan rasa panas di wajah Erin.
Erin mendongak menatap marah pada cewek itu. Tangannya ia gerakan untuk memberontak tapi tenaganya jelas jauh jika di bandingkan dengan kedua cewek di sampingnya.
“Sebenernya gue nggak mau sejauh ini sama lo, tapi karena Lo udah sok jago sama gue, gue minta maaf kalo gue harus lakuin ini ke lo.” Ucap cewek itu penuh penekanan, hal berikutnya yang ia lakukan adalah memukul perut Erin beberapa kali hingga membuat Erin menjerit karena rasa nyeri di bagian perut. Erin mencoba memberontak, menendang dan memukul, hingga satu kakinya berhasil mengenai lawannya membuat kendur pegangan tangan sebelah kanan, Erin menggunakan kesempatan itu untuk mengembalikan keadaan, memukul cewek di sebelah kirinya dan menendang cewek yang di sebelah kanan hingga mereka berdua limbung dan ambruk.
Erin murka menahan nyeri di perutnya, kakinya ia gunakan untuk menginjak perut cewek yang tergeletak di sebelah kanannya, menendang dan menginjak hingga jeritan kesakitan keluar dari mulut cewek itu.
Erin yang dengan kemarahannya hanya fokus pada satu cewek hingga lupa pada lawan pertamanya yang kini menerjang tubuh Erin hingga terpelanting dan menatap wastafel dengan keras tepat di bagian perut.
Erin menjerit dengan memegangi perutnya, rasa nyeri itu sudah tak bisa tertahan lagi membuat Erin membungkuk kesakitan. Lalu tendangan bertubu-tubi ia dapatkan dari cewek pertama. “Anjing Lo ya, b*****t! Jalang sialan!” Makinya berkali kali tanpa behenti menjejak kaki di bagian punggung Erin.
“Udah win, udah anak orang bisa mati.” Teriak sahabatnya yang tergeletak di sebelah kiri Erin.
“Sebodo amat, dia yang udah sok jago di depan gue, b*****t!”
“Winda! Lo gila, Win. Udah gue bilang!” Sentak cewek itu menghentikan Winda sahabatnya. “Anak orang bisa mati dan kita bisa kena masalah!”
“Gue nggak peduli anjing, liat apa yang dia lakuin ke Fara, Fara hampir mati gara-gara dia!”
“Tapi nggak gini, win. Mending udahan. Gue nggak mau kita makin kena masalah karena ini!”
Mereka berdebat melupakan Erin yang merintih di depannya, merintih kesakitan di bagian perut dan punggung nya. “To...loongg gue.” Rintihnya memohon, “to...long ann...anak guee!” Lagi Erin merintih sebelum semuanya terasa kabur dan hilang kesadaran.
Sahabat Winda melihat itu, bahkan matanya melihat darah yang cukup banyak dibatas lantai tempat Erin terbaring.
“Win” ucap cewek itu gementar saat melihat kondisi Erin, begitupun Winda pelaku utama kejadian ini, ia gemetar dan tak menyangka akan melakukan hal keji ini.
“Kita cabut,” ucap sahabatnya melepas cengkraman pada Winda. Berlari pada Fara yang masih tergeletak, membopong sahabatnya sebelum berteriak. “Winda, buru!”
Winda tersadar kemudian berlari meninggalkan Erin yang tergeletak di di lantai.