Se-La 26
Upal berlari di sepanjang koridor bagaikan orang kesetanan, bahkan ia tak peduli mendorong dan menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya, ia berlari sekencang yang ia mampu, dengan raut yang tak bisa di artikan bagi sebagian orang yang menatapnya.
Banyak pasang yang melihat dan menjadi korban terjangan Upal, sekali lagi Upal tak peduli. Yang ia pedulikan sekarang hanyalah kondisi gadisnya yang tengah sekarat.
Tepat beberapa menit yang lalu saat ia mendengar kabar dari anak gedung sebelah yang menelponnya saat ia tengah sibuk mencari bukti siapa pelaku yang menyebarkan foto dan juga informasi yang bisa saja membahayakan kondisi Erin dan anak nya.
Dan benar saja, belum sampai lewat satu hari, apa yang ia takutkan terjadi. Adik kelas yang ia tugaskan untuk mengawasi Erin melapor bahwa Erin di temukan dengan kondisi tak sadarkan diri di toilet, bahkan Rangga si adik kelas mengatakan jika kondisi Erin sama sekali tak baik-baik saja, Erin si kabarkan pendarahan dengan luka lebam di wajah dan lengannya.
Mendengar itu Upal yang sejak tadi tengah memeriksa rekaman CCTV langsung berlari tak peduli dengan teriakan kedua sahabatnya.
Kakinya mulai melambat, menatap banyak siswi berkumpul di sepanjang koridor tempat Erin di bawa untuk di larikan ke rumah sakit.
Menghampiri sekarang itu jelas akan memperburuk keadaan, maka Upal memilih berhenti dan mengawasinya dari Jauh, berharap para guru bergerak dengan cepat untuk membawa Erin ke rumah sakit.
Kejadian ini sama sekali tak pernah terbayangkan bagi Upal. Erin sosok yang kuat dia tau itu, tapi kenapa semua ini ini bisa terjadi. Apa karena kondisi kandungan Erin membuat wanitanya lemah. Atau pelaku kejadian ini lebih dari satu orang.
Tak ingin terlalu larut, Upal masih mengawasi kepergian Erin di tempatnya hingga dering ponsel membuatnya sedikit mengalihkan perhatian, melihat nama yang tertera di ponselnya sepertinya kabar ini sudah sampai di telinga Nisa.
“Halo. Assalamu’alaikum, Bun”. Sapa Upal setelah mengangkat panggilan telpon.
“Waalaikumsalam nak, gimana kondisi Erin. Ibu denger dari guru wali kelas Erin katanya Erin kena musibah nak?”
Upal memejamkan matanya, dari suara Nisa boleh saja terdengar lembut dan sabar, tapi Upal yakin ia jelas menyimpan rasa cemas apalagi mendengar anak semata wayangnya mengalami pendarahan hebat dan itu jelas karena kecerobohannya. Betapa bodoh nya ia yang tak biaa menjaga Erin.
“Erin masih di bawa kerumah sakit, Bun. Upal belum tau pasti gimana kondisi Erin sekarang, dan untuk kejadiannya juga masih Upal selidiki.”
“Kenapa bisa Sampek kejadian sih, yan? Bunda kan selalu mempercayakan Erin sama kamu, kenapa ini bisa terjadi?”
“Maaf, Bun. Upal juga nggak tau kenapa, dan siapa. Tapi Upal masih cari pelan pelan penyebab Erin kayak gini.”
Tentu Upal jelas tak akan tinggal diam melihat kejadian ini, Upal akan mencari tau siapa pelaku kejadian ini dan memberi pelajaran yang mungkin tak akan mereka lupakan, ini sudah kedua kalinya sejak kejadian beberapa lalu dan sekarang yang menjadi korban adalah wanitanya.
“Yaudah tolong jaga Erin, malam ini ayah sama bunda akan pulang, bunda tunggu penjelasan kamu di sana.”
Setelah panggilan berakhir, Upal menggenggam erat ponsel di tangannya lalu satu nama terlintas di kepalanya membuatnya langsung mencari nama itu dan menghubungi nya.
“Halo. Berhenti cari siapa yang pasang foto Erin di Mading. Fokus ke rekaman siapa terakhir keluar dari kamar mandi cewek lantai ruang kelas Erin. Gue yakin di sana ada CCTV.” Tak perlu berbasa-basi karena Upal butuh info itu sekarang juga.ia memutuskan panggilan sepihak sebelum kedua sahabatnya bertanya banyak hal untuk kejadian saat ini dan setelahnya Upal beranjak menyusul Erin di rumah sakit terdekat.
°°•°°
“Wind, gimana sekarang?” Cewek yang saat ini tengah berada di sudut koridor tengah menatap Erin yang menjadi korban penganiayaan mereka di bawa kerumah sakit. Salah satu dari mereka terlihat cemas dan ketakutan.
Winda, anak gedung SMK yang tengah memakai seragam TKJ masih sibuk memikirkan jalan keluarnya, ia takut jika sampai kejadian ini terbongkar maka selesai sudah, jelas posisinya akan terancam, ia bisa saja di keluarkan langsung dari sekolah ini mengingat bagaimana ketatnya peraturan yang ada di sini.
“Wind?” Tanya Fara yang saat ini kondisi nya hampir sama dengan Erin, banyak luka lebam akibat serangan Erin tadi.
“Diem dulu bisa nggak sih kalian. Gue juga lagi mikir!” Sentak Winda dengan segala kebingungan di kepalanya, ia tak pernah berfikir untuk mencelakakan Erin tujuan awalnya hanya ingin menggertak dan mengancam bukan menganiayanya seperti ini, ini jelas di luar rencananya.
“Ya gue tau Lo lagi mikir, tapi gue yakin masalah ini nggak bisa kita sembunyiin. Gue nggak mau di DO dari sekolah dan berhenti dari sekolah, wind.”
“Gue nggak mau Sampek bokap gue tau masalah ini, bisa abis gue.”
“Nggak Cuma lo, Ra. Kalo Sampek ini kebongkar nggak tau lagi gue.”
“Wind?”
“Arggg, Lo orang bisa diem nggak sih, bantu gue mikir bukan malah mojokin gue, taik Lo orang emang!” Sentak Winda meninggalkan kedua sahabatnya setelah koridor mulai sepi. Ia jelas tak boleh terlalu lama di sini, posisinya mungkin akan membahayakan nya jika mereka curiga dengan keberadaanya.
“Wind, Lo mau kemana woy! Tunggu!”
°°•°°
Upal menyusuri koridor rumah sakit menyusul Erin yang sudah di bawa ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan.
“Yan!” Upal menoleh di sana di kursi tunggu Upal melihat mamahnya tengah duduk cemas, berdiri dan menghampiri Upal dengan raut yang kental akan rasa khawatir.
“Kenapa Erin bisa Sampek pendarahan gini sih? Kemana aja kamu bukan nya jagain Erin malah Sampek kecolongan kyk gini.
Upal memilih diam, ia tau menjawab pertanyaan mamahnya malah akan memperkeruh keadaan apalagi kondisi Erin kini.
“Mamah dan bunda setuju jodohin kalian itu biar kamu bisa jaga Erin dan hal kayak gini nggak terjadi lagi, dan sekarang? Kenapa malah lebih parah, Upal. Apa gunanya kamu kalo akhirnya Erin kembali celaka?”
Memejamkan mata Upal menahan segala emosi yang ada, bukan karena perkataan mamahnya tapi karena ingatan masa lalu yang membuat kemarahannya memuncak. Ingatan yang begitu menyayat itu kembali hadir di kepalanya, bagai kaset kusut yang terus di putar berulang-ulang. Kejadian di masa SMP yang membuat Erin menjadi sosok kuat sekarang. Kejadian yang menghancurkan dua keluarga sekaligus.
“Yan, kamu nggak akan pergi kan, kamu selalu di sini kan nemenin aku?”
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya janji yang dulunya ucap nyatanya ia ingkari dan sibuk mengantisipasi tanpa bertindak mengawasi secara langsung. Kenapa ia bodoh untuk tidak langsung mencari dan melarang Erin.
“Aku takut, aku nggak mau sendiri, Yan. Aku takut.” Isak tangis yang dulu berhasil menghancurkan hatinya kembali hadir. Upal memejamkan mata menahan air mata yang saat ini memaksa menerobos keluar.
°°•°°
Sore itu hujan turun dengan lebatnya mengguyur segala sesuatu yang ada di bawahnya, gadis kecil berseragam SMP itu terlihat tengah meneduhkan diri dari terpaan air hujan, diam sendiri dengan rasa takut dengan keadaan sekitar. Terlebih ia takut akan suara petir. Bahkan beberapa kali ia sudah menjerit karena petir mulai menggelegar.
“Kak, kamu dimana.” Isaknya pelan menengok keadaan sekitar.
Beberapa menit yang lalu ia tak sendiri, ada sosok yang menemaninya di sini. Sebelum hujan turun tepatnya. Namun karena urusan toilet cowok itu meninggalkannya sendiri hingga hujan turun pun cowok itu belom datang, memaksa Erin gadis berseragam SMP itu meneduh di pos satpam yang saat ini sudah kosong karena hari sudah menjelang sore.
Karena hari ini Erin ada kelas tambahan yang mengharuskan dirinya untuk pulang Sore. Teman Erin sudah di jemput sedari tadi dan hanya ia sendiri sebelum Nanda yang menjadi tetangga sekaligus kakak kelas Erin datang dan mengajaknya pulang bersama. Namun Nanda malah meninggalkan nya sendiri.
Kembali saat suara petir mulai menyambar Erin menjerit histeris, terlebih di sekitarnya tak ada seorang pun Rasa takut akan petir membuatnya menangis tersendu di tempat.
“Dek, kamu kenapa?”
Suara itu ibarat cahaya bagi Erin di saat seperti ini, Erin mendongak menatap seorang pria paruh baya yang tengah berdiri di depan pintu pos. Erin berdiri berjalan mendekat tanpa berfikir panjang.
“Takut petir.” Cicitnya pelan yang di susul gelapkan tawa dari si bapak.
“Oalah tak kira kenapa dek. Takut petir toh.” Ujar si bapak yang kemudian tersenyum menatap Erin. “Yaudah neduh di dalem aja kalo gitu, sama bapak.” Ajak si bapak yang Erin ingat sebagai penjaga sekolah, Erin mengangguk lalu mengikuti langkah si bapak yang ada di depannya.
“Kok jam segini adek belom pulang?” Tanya ramah si bapak sembari menengok pada Erin.
“Tadi ada jam tambahan makanya pulang sore.”
“Bu Juni ya?”
Erin mengangguk sebagai jawaban, si bapak penjaga tersenyum sebelum membuka sebuah ruangan yang menjadi tempatnya menginap. “Ya udah masuk aja dulu dek.” Ajak si bapak setelahnya. “Tunggu hujan reda nanti bapak anter pulang.”
Erin yang takut dengan petir yang kian bergemuruh memilih masuk tanpa berfikir dua kali, ia memilih duduk di sebuah karpet diam. Menunggu hingga hujan reda di sini mungkin pilihan yang baik. Hingga saat Erin tak sadar jika bapak penjaga itu malah mengunci pintu diam diam lalu duduk di dekat Erin.
“Adek mau minum? Di sini Cuma ada air mineral nggak papa?” Tanya si bapak yang kemudian memberikan air mineral jelasan pada Erin, di saat itu lah kejadian itu terjadi. Tepat saat Erin menerima air mineral kemasan itu si bapak dengan lancang melarikan tangannya di atas paha Erin yang tertutup kain panjang, memberi elusan pelan di sana.
Erin belum sadar di sana, memilih minum air mineral dalam diam dan berusaha menyingkirkan tangan si bapak dari paha nya.
“Adek sama siapa tadi, kok sendiri?” Tanya si bapak yang mulai kurang ajar mengelus kian keatas hingga pangkal paha, posisi duduk nya pun sudah sedikit menempel pada Erin bahkan tangan sebelahnya sudah berada di antara pinggang Erin mencoba menahan gadis belia itu.
“Gadis secantik kok Malah sendiUpal di sana. Udah sore lagi.” Tanya si bapak yang sudah mulai kelewatan.
Erin menggigil di buatnya, tangannya mencoba memberontak, namun sayang kekuatan si bapak jauh lebih kuat jika di bandingkan dengan tubuh lemahnya. “Jangan pak!” Ucap Erin menahan tangis saat mengerti akan maksud di bapak penjaga tua ini. Erin mencoba memberontak saat tangan bapak mulai kurang ajar menyentuh bagian intimnya.
“Toll-“ teriakan Erin berhenti saat tangan si bapak membekap mulut Erin dengan kuat.
“Jangan teriak dek, bahaya nanti kita nggak bisa seneng-seneng” ucap si bapak yang kini sudah mulai menjelajahi tiap inci tubuh Erin. Wajahnya sudah mulai masuk ke cerucuk leher Erin memberi banyak kecupan di sana. Erin menangis dan berusaha memberontak. Menendang dan memukul, bahkan ia mencoba menggigit tangan si bapak yang sama sekali tak berefek. Erin tau ini akhirnya. Erin tak bisa berbuat apa-apa hanya berharap seseorang datang untuknya. Itu saja yang ia harapkan saat ini.
Erin memejamkan matanya menangis sesenggukan berdoa dalam diam berharap dan terus berharap hingga saat dimana tangan si bapak menyentuh bagian berharganya ia mendengar pintu terbuka dengan paksa.
Erin membuka matanya, di sana penyelamat nya datang Hendra ayahnya dengan wajah murka menatap kejadian memalukan itu, menendang tubuh tua Bangka itu hingga menjauh dari Erin. Memberi beberapa pukulan sebelum membawa pria itu ke lihat pengadil.
Tanpa sepengetahuan Erin, di sudut lorong seorang tengah mengintip dengan tangan terkepal, seorang yang menyaksikan kejadian tadi dalam diam, seseorang yang ingin menyelamatkan tapi sadar dirinya tak akan mampu. Seseorang yang memilih menghubungi ayah Erin untuk meminta bantuan dan mengamankan tua Bangka yang saat ini di seret oleh Hendra ayah Erin.
Sosok yang akhirnya di percaya untuk menjaga Erin dan membantu kesembuhan Erin akibat trauma yang di dapat dari kejadian itu.