Se-La 27
Upal duduk termenung. Menatap Erin yang masih terbaring tak sadarkan di tempat tidur, tangannya menggenggam erat tangan Erin. Ia sedih melihat Erin yang biasanya cerewet, aktif dan kuat harus terbaring seperti ini.
Beberapa saat yang lalu Upal baru bisa menemui Erin saat para guru pamit kembali ke sekolah dan menyerahkan Erin pada mamah Helda. Upal dengan perasaan kacau langsung menuju ke ruang rawat Erin, melihat wanitanya terbaring hatinya menclos. Upal hancur, tangannya menggenggam erat menekan semua emosinya saat merasa tak becus menjaga Erin apalagi saat Erin tengah mengandung anaknya.
“Maaf, maafin gue yang nggak bisa jaga Lo.” Upal bergumang dengan semua rasa bersalahnya, menunduk menempelkan genggaman tangan mereka pada kening.
“Gue terlalu bodoh karena mikir Lo bakal bisa jaga diri tanpa mikir kalo kejadian ini bakal terjadi” air mata yang selama ini bersembunyi di pelupuk matanya tak bisa lagi ia bendung. Air mata itu keluar menunjukan betapa hancurnya Upal saat ini, peduli setan dengan janjinya dulu untuk tidak lagi menangis di hadapan Erin, air mata yang selalu ia simpan sejak kejadian lampau yang membuatnya menangis histeris melihat kondisi Erin. Dan kini ia tak peduli dengan semua janjinya.
“Bangun, Sa. Gue mohon.” Rintihnya lirih, seluruh kesakitan yang ia tahan runtuh, senggukan Upal menggambarkan bagaimana tak sanggupnya ia melihat kondisi Erin saat ini.
“Gue mohon. Bangun demi gue.”
Upal menangis, tak sadar akan kehadiran sosok yang tengah menatapnya dengan hati pilu, Helda menatap pedih pada sang putra yang hancur seperti kejadian di masa lalu. Helda tak pernah tau jika perasaan Upal sedalam itu untuk anak sahabatnya.
Helda mendekat, mengelus pundak putra dengan sayang. “ada yang perlu mamah omongin sama kamu.” Bisiknya lembut membuat Upal mengangkat kepalanya, menghapus kasar air mata yang tertumpah terlalu banyak di pipinya.
Upal mengangguk. Lalu beranjak dan mengikuti langkah Erin hingga mereka di sudut ruang, duduk di sebuah sofa yang disediakan.
“Mamah nggak tau kalo kejadian ini bakal terjadi, mamah nggak pernah berpikir kali Erin akan seperti ini” Helda menjeda mencoba menekan kuat rasa perih di hatinya.
“Dokter bilang, Erin mengalami benturan di bagian perut dan itu membuat Erin pendarahan. Kabar baiknya Erin dan anaknya nggak kenapa-napa, dan kemungkinan tak lama lagi Erin akan sadar.”
Mendengar itu Upal seolah mendapat angin segar harapan kecil menyusup masuk mengangkat beban yang sedari tadi menimpahnya.
“Kabar buruknya, Erin harus bedrest karena kandungan Erin terlalu lemah untuk melakukan aktifitas berat, dan ada kemungkinan buruk yang terjadi untuk bayi kalian karena kejadian ini.”
Kabar baik yang terdengar di awal malah tenggelam oleh kabar buruk yang di terimanya. “kemungkinan buruk? Maksud mamah?” Tanya Upal lesu, gantinya di paksa siap untuk menerima segala ucapan Helda setelah ini.
Helda menarik nafas pelan, mencoba menenangkan diri dan menahan semua air mata yang seolah memberontak keluar.
“Dokter bilang karena kejadian ini mungkin akan berdampak buruk pada janin di dalam kandungan Erin. Belum lagi Erin mengandung di usia yang masih tergolong muda dengan resiko keguguran yang tinggi dan resiko bayi lahir cacat. Di awal kandungan Erin memang kuat dan tergolong setabil. Tapi karena kejadian ini Erin harus lebih berhati-hati dan bedrest total untuk menghindari kemungkinan itu”
Upal diam, pikirannya larut dalam rasa bersalah yang kian menuntut. Semua ini jelas karena kesalahannya dan semua karena kebodohannya membiarkan Erin mengandung di usai dini. Bodoh karena tak bisa menahan diri. Pengalaman dan pengetahuan yang minim menggampangkan semua kemungkinan yang ada.
Helda menarik Upal, memeluk putra nya dengan sayang, memberi dukungan lewat pelukan. “mungkin setelah Erin keluar dari rumah sakit, Erin harus berhenti sekolah dan kalian akan pindah di rumah mamah.” Ucap Helda lagi mengelus puncak kepala Upal yang saat ini sudah menangis sesenggukan di pelukan Helda. “Mamah udah omgonin masalah ini sama papah. Papah setuju dan nggak mau di tentang soal ini.”
Upal mengangguk masih dalam tangisan. “Apapun yang terbaik buat Erin.”
Selaras langkah...
Upal masih setia menunggu Erin dia tak pernah pergi meninggalkan ruangan hanya karena tak ingin jika Erin sadar tak ada orang di sisihnya. Mamah Helda pergi setelah memberi kabar tentang kondisi Erin untuk menjemput suaminya Darel yang langsung pulang dari Surabaya sesaat setelah mendengar kabar tentang Erin.
“Upal, gimana kondisi Erin?”
Suara itu membuat Upal menoleh kepala, mendapati sang mertua yang terlihat cemas, Nisa langsung mendekat berdiri tepat di sebelah ranjang Erin dan menatap sendu putrinya. Tangannya langsung mengelus puncak kepala Erin dan tangis tak bisa di bendung lagi.
Upal beranjak memberi ruang pada nisa, ia mendekat pada Hendra, menyalami tangan sang mertua yang juga terlihat cemas.
“Gimana keadaan Erin?” Tanya Hendra berdiri mematung menatap Erin dari kejauhan. Hendra seperti tak tega melihat putri semata wayangnya terbaring di sana. Ia menahan semua perasaan nya dalam diam.
Upal menunduk menyadari kesalahannya yang mungkin saja akan membuat Hendra marah karena kecerobohannya yang membuat Erin seperti ini.
“Erin di temukan di toilet dengan keadaan pendarahan. Dokter bilang Erin mengalami benturan di bagian perut.” Upal memejamkan matanya, hatinya tak sanggup untuk melanjutkan perkataanya tapi mau bagaimanapun orang tua Erin berhak tau akan kondisi Erin. “Kabar baiknya kondisi Erin dan anak kami baik-baik aja” Upal menjeda menahan getir yang kembali menyusup.
“Kabar buruk nya kemungkinan anak kami lahir cacat terlampau tinggi itu karena efek kejadian ini dan benturan yang di alami Erin cukup keras.”
Hendra memejam mata menahan gejolak emosi yang siap untuk ia tumpahkan jika saja tak melihat posisinya sekarang, tangannya terkepal erat. “Siapa?”
“Masih Upal selidiki, kemungkinan anak gedung Upal.”
“Jangan menuduh tanpa bukti. Cari bukti akurat baru ambil tindakan.” Ucap Hendra mendekat kearah ranjang, merangkul Nisa yang menangis sedari tadi.
Hendra kembali merasa gagal untuk menjadi orang tua, beberapa tahun lalu ia sudah mampir kehilangan putrinya dan sekarang kenapa hal itu harus terjadi. Apa yang di lakukan Erin hingga sampai harus mengalami kejadian seperti ini.
Upal menatap keluarga itu dengan perasaan yang sulit di artikan, lalu dering ponsel membuatnya mengalihkan tatapan, meraih ponsel dan menerima panggilan saat tau siapa yang menelponnya.
“Kita dapet bukti akurat tentang kejadian ini.”
“Gue kesana” Upal memutus panggilan sepihak, dan beranjak tanpa berpamitan pada kedua mertuanya.
Selaras langkah...
“Ini yang kita dapet setelah kita cek semua rekaman CCTV yang ada. Dan kemungkinan ketiga cewek ini pelaku utama.”
Upal yang masih menyaksikan video yang memperlihatkan tiga cewek dengan seragam SMK keluar dari toilet tempat dimana Erin di temukan. Namun Upal ragu jika mereka adalah pelakunya. “Lo yakin?”
“Sangat, gue udah puter rekaman ini berkali-kali dan coba cari bukti lain. Coba Lo liat ini.” Adi mengambil alih, menunjukan rekaman lain yang terletak tak jauh dari koridor toilet dimana ketiga cewek itu seolah tengah bersembunyi dan menatap kearah koridor yang di gunakan oleh para guru untuk membawa Erin, di rekaman terlihat tiga cewek SMK yang terlihat cemas dan berulang kali melihat kearah Erin di bawa, dan terlihat ada sebuah perdebatan sengit sebelum ketiga cewek itu beranjak.
“Lo liat, mereka berdebat setelah keluar dari toilet. Di liat dari reaksi saat mereka keluar kita bisa aja terkecoh, tapi di liat dari sisi rekaman yang lain mereka juga seolah lagi berdebat dan menyalahkan satu sama lain.”
Penjelasan Adi memang masuk akal, terlebih untuk apa anak SMK repot-repot ke toilet anak SMA jika mereka tak memiliki urusan.
“Dan ini bukti lain yang perlu lo liat.” Dave yang sedari tadi sibuk dengan komputer mulai menemukan hasil dan menunjukan pada Upal.
Di rekaman yang Dave temukan terlihat juga ketiga cewek itu tengah membuli cewek yang pernah terlihat dekat dengan Upal. Di koridor dekat kantin mereka terlihat menjambak dan menampar beberapa kali cewek berkacamata itu.
Dari semua bukti Upal bisa mengambil kesimpulan dan mereka lah yang menjadi tersangka utama atas apa yang terjadi pada Erin. “Kita bisa ambil tindakan dari rekaman ini.”
Upal beranjak meraih ponsel di saku celana untuk segera menelpon Hendra dan memberi tahukan kabar ini secepatnya, karena untuk bertindak sendiri Upal jelas tak mungkin untuk seorang anak SMK sepertinya, dan Upal butuh Hendra untuk kasus ini.