Upal menyusuri koridor dengan langkah mantap, tujuannya adalah kelas TKJ (teknik komputer dan jaringan) dimana ketiga siswi yang terekam di CCTV itu berada. Dari beberapa informasi dan seragam yang di kenakan memudahkan Upal untuk mengetahui posisi ketiga cewek itu.
"Lo yakin langsung tabrak tiga cewek itu?" Ucap Dave yang mengikuti langkah Upal di belakang. "Nggak sebaiknya ke pihak sekolah dulu sebelum ambil tindakan?" Tanya Dave lagi mencoba menenangkan Upal, dengan kondisi yang sekarang tak perlu di ragukan lagi, mungkin seluruh sekolah akan geger dengan hal yang akan di perbuat Upal nanti.
Upal terkenal kalem dan pendiam, jika tak di ganggu. Tapi jika ada yang berani mengusiknya entah itu cewek atau cowok Upal tak akan ambil pusing dan akan langsung melabrak dengan caranya.
"Kelamaan!" Ucap Upal melebarkan langkahnya, ia tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi, semakin cepat masalah ini selesai semakin cepat pula ia kembali ke rumah sakit menemani Erin hingga wanitanya sadar kembali, yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah mendatangi ketiga cewek itu, menariknya ke ruang kepala sekolah dan menyerahkan kasus itu pada pihak sekolah dan ayah mertuanya.
"Tapi apa nggak sebaiknya nunggu om Darel dulu?" Ulang Dave yang tak di tanggapi oleh Upal.
Kedua sahabatnya itu sedikit bingung dengan perubahan sifat Upal saat ini, mereka mengenal Upal cukup lama bahkan sangat lama, jadi mereka paham dengan sifat Upal, hanya saja kali ini terlalu kelewat batas untuk seorang Upal yang tak pernah mau ambil pusing dengan segala keadaan, atau mungkin Upal memiliki sebuah hubungan dengan cewek primadona gedung sebelah itu?
Dave melirik Adi. Dari ekor matanya seolah Dave menanyakan keadaan sekarang yang di balas Adi dengan mengedikkan kedua bahu tak mengerti yang membuat Dave memilih diam dan mengikuti langkah Upal.
Sepanjang koridor mereka mendapat banyak sapaan dari beberapa adik kelas yang mengenal Upal dengan baik, terutama para cewek yang selalu terpesona akan penampilan Upal, yang di balas dengan tatapan datar oleh Upal, membuat mereka sedikit bingung dan heran. Mau tak mau Dave dan Adi lah yang membalas sapaan mereka walau nyatanya mereka lebih memperhatikan Upal dari pada sapaan kedua cowok itu.
"Loh kak, Upal. Tumben kesini?" Tanya seorang cowok yang menjadi salah satu junior di grup Upal, membuat Upal berhenti dan menatap cowok itu dengan tatapan tajam.
"Gue cari cewek yang namanya Winda, dia temen sekelas Lo kan?" Tanya Upal mencoba menilik kedalam ruang kelas dan menyusuri tiap wajah yang ada di sana, sepertinya sosok yang ia cari tak ada di kelas.
"Winda? Kakak ada perlu sama Winda?" Tanya Jaka nama cowok yang masih menatap Upal.
"Cukup jawab nggak usah banyak tanya!" Satu ucapan tegas yang membuat Jaka terkejut, melarikan tatapannya pada kedua kakak senior di belakang Upal, meminta jawaban melalui tatapannya.
"Udah jawab aja." Balas Adi yang sepertinya tak ingin terlalu lama berada di sana. Apalagi keberadaan Upal sudah cukup menghebohkan keadaan kelas, banyak mata tertuju pada mereka terlebih tatapan para cewek penghuni kelas yang jelas penasaran.
Jaka terdiam sesaat sebelum menggaruk bagian belakang kepalanya. "Setau gue tadi Winda sama dua pengikutnya izin pulang deh. Nggak tau izin apa bolos."
Upal terdiam tatapannya kembali menilik kedalam ruang kelas untuk memastikan sekali lagi, dan sepertinya Jaka berkata jujur. Upal sedikit kesal karena keterlambatannya.
Beranjak dari sana Upal meraih ponselnya, menelpon Hendra untuk memberi tahu jika pelaku utama sudah tak ada lagi di sekolah.
Beberapa kali panggilan tak di respon oleh ayah mertua Upal membuat Upal sedikit bimbang dan memilih duduk di kursi yang ada di sisi koridor, Ia masih berusaha menghubungi Hendra hingga beberapa panggilan setelahnya panggilannya di terima oleh Hendra
"Halo, assalamu'alaikum, Yah."
"Waalaikumsalam, gimana, Yan." Tanya Hendra langsung pada pokok permasalahan.
"Menurut temen sekelasnya, ketiga siswa yang ada di rekaman itu udah pulang, Yah."
Terdengar helaan nafas kasar sebelum Hendra menjawab "yaudah biar Ayah yang urus. Kamu kerumah sakit sekarang, Erin udah sadar dan dari tadi nyariin kamu"
Upal mematung mendengar ucapan hendra, tangannya menggenggam erat ponsel yang masih menempel di telinganya. "Iya, Yah. Upal kesana sekarang."
Setelah mengucap salam Upal menutup panggilannya, ia beranjak dari tempatnya dan langsung pergi ke rumah sakit dengan tergesa, tak ingin Erin menunggu terlalu lama.
"Woy, Yan. Lo mau kemana elah." Dave berteriak saat Upal pergi begitu saja, pertanyaan yang di acuhkan Upal tanpa perlu repot menjawab. membuat Kedua sahabatnya itu saling tatap sebelum beranjak mencoba mengimbangi langkah dan mengikuti di belakang tubuh Upal.
Dave dan Adi tak ingin banyak bertanya lagi, bahkan sampai di tempat parkir untuk mengambil motor dan pergi dari sekolah pun kedua sahabatnya masih setia mengikuti Upal.
Selaras langkah...
Sebuah pemandangan baru bagi Dave dan Adi melihat bagaimana cemasnya Upal saat mereka baru saja sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan kendaraannya, kini Upal sudah berada di lift untuk naik kelantai tiga dimana kamar rawat Erin berasa.
Di dalam lift tak ada yang bersuara, Upal yang bungkam dengan pemikirannya sendiri, dan kedua sahabatnya yang masih saling tatap tak mengerti. Hingga mereka sampai di sebuah ruangan VIP semua pertanyaan Dave dan Adi terjawab, tepat saat Upal berlari dan langsung bersujud di sisi ranjang tempat Erin berbaring. Meraih tangan Erin dan menggenggam erat tak lupa memberi beberapa kecupan di sana.
Dave dan Adi melihat itu dalam diam, tatapan mereka masih menerka semua kejadian yang ada. Melihat bagaimana Upal beberapa kali berbisik kata maaf di sana.
"Maaf, maafin gue..." Gumang Upalg tak henti saat melihat wanitanya yang sudah sadar dan menatap kearahnya, posisinya saat ini membuat kepala Upal sejajar dengan tubuh Erin, Upal menangkap tangan Erin dan memberi beberapa kali ciuman di sana. Rasa sesal itu kembali meloloskan air matanya.
"Maafin gue yang udah nggak becus jagain elo, gue ngerasa uda jadi cowok nggak berguna karena lalai ngejaga elo" ricau Upal dalam Isak tangis membuat Erin yang sadar beberapa saat lalu merasa sedih melihat betapa khawatirnya Upal dengan keadaanya.
Tangannya yang terbebas ia gerakan untuk mengelus puncak kepala Upal, memberi elusan lembut di sana. "Gue nggak papa, Yan." Bisik Erin pelan, mencoba menenangkan Upal.
"Nggak! jelas-jelas Lo celaka karena gue. Karena gue lalai, ngebiarin ini semua terjadi"
Erin terdiam sesaat sebelum lekuk indah terukir di kedua sudut bibirnya. Tangan yang ada di puncak kepala Upal tadi kini ia gerakan untuk meraih wajah Upal, mengangkat dagu Upal untuk menatap kearahnya. "Yan liat gue" ucap Erin meminta Upal untuk menatapnya, Upal mengangkat kepalanya, menatap sepasang mata indah milik Erin dan senyum manis yang selalu membuatnya tenang, namun tidak saat ini, tatapan itu malah membuat perasaanya hancur, seolah melihat Erin yang mencoba kuat di hadapannya. "Gue nggak papa, Lo liat gue, gue baik-baik aja. Jadi pliss jangan bikin gue sedih karena liat Lo nangis"
"Lo udah janji kan nggak akan nangis di depan gue lagi?" Tanya Erin dengan lembut.
Upal mengusap kasar air matanya, perlahan ia berdiri lalu membungkukkan kepalanya hingga tatapan mereka kian dekat. "Maafin gue karena nggak becus jaga lo, Sa. Maafin gue." Gumangnya pelan menelusupkan kepalanya di pundak Erin dan kembali terisak.
"Udah dong, Yan. Gue nggak papa kok." Suara lemah Erin membuat Upal semakin terisak di sana, Erin mengelus punggung Upal, membiarkan pUpalya itu menuntaskan semua perasaannya. Erin merasa bersyukur memiliki pria yang peduli padanya walau tak sering di tunjukan tapi melihat bagaimana kondisi Upal saat ini sudah menunjukan semuanya. Tapi di sisi lain, Erin cemas karena masih bingung dengan kondisinya, apalagi nyeri di perut membuatnya bertanya bagaimana kondisi janinnya.
Lalu rasa nyeri itu kembali datang, membuatnya sedikit merintih, Erin berusaha menahan rasa nyeri itu tak ingin membuat Upal kian khawatir dengan kondisinya saat ini.